24 April 2011

Tampaknya boleh juga saya memberitahukan ini kepada para pembaca blog ini bahwa saya berencana membawa istri dan anak ke Jember — di kampung sunnah Ustadz Luqman Baabduh. Iya.

Saat ini anak saya alhamdulillah masih diberikan umur, sudah 5 bulan, adapun saya sudah 23 tahun (lebih banyak.. hehe) dan selama 23 tahun itu berjalan begitu-gitu ya..santai.. Sedangkan –jika Allah menghendaki– umur anak saya, umur saya, dan umur istri saya akan terus bertambah. Dan akan datang masa di mana anak saya belajar dan saya harus mentarbiyah ia. Mendidik.

Lah mendidik ? ? ? ? bagaimana pula bisa mendidik sedangkan dasar ilmu agama sangat kurang.. Belum lagi saya tinggal di kota jakarta. Alhamdulillah di lingkungan yang banyak orang-orang belajar agama.. Tapi namanya juga jakarta, sedikit-sedikit ada saja yang membuat saya mengeluskan dada. Miris. Khawatir. Heran. Campur aduk lah.

Bayangkanlah! Di lingkungan saya tinggal bisa dibilang adalah komunitas masyarakat ahlussunnah wal jamaah, tapi masih ada saja anak-anak tetangga yang “mendidik” anak-anaknya dengan game komputer dan film kartun donal bebek.

Kurang lebih.. Bagaimana menurut anda (seorang salafy –bukan yang mencla mencle) ? Menurut anda lingkungan itu memiliki pengaruh kepada anak kita tidak ?
Kalau saya berpendapat: “sangat berpengaruh”. Meskipun… tidak berlaku ke semua orang.

Biaya hidup kota Jakarta yang sangat tinggi juga mempengaruhi lingkungan ini… Sebagian besarnya hidup dari berdagang dan profesi karyawan… Pembicaraan tentang ilmu agama, diskusi, saling mengingatkan tampaknya masih sangat bisa dimaksimalkan. Tapi.. di kesempatan yang sering, tampaknya persoalan Bisnis agak mengalahkan atensi untuk lebih memperdalam lagi ilmu agama.

Saya diberitahu oleh teman yang tinggal di jember bahwa di sana:

  • Teman-teman serius belajar agama. Banyak kelas yang bisa diikuti di berbagai pilihan waktu.
  • Teman-teman berlomba-lomba untuk tidak kalah pintar dari temannya. Jika ada yang bisa bekerja seminim mungkin demi untuk mengikuti pelajaran, maka itu akan dilakukan.
  • Ustadz yang tinggal di sana senantiasa mengingatkan dan memotivasi untuk selalu mendalami ilmu agama.
  • Ustadz yang tinggal di sana juga mengingatkan teman-teman untuk tidak terlalu larut dalam berita-berita yang ada. Namun, jika ada kabar yang penting, ustadz pasti akan menyampaikan kepada mereka (teman-teman).
  • Ibu-ibu yang tinggal di sana tidak ada (atau sangat sedikit) yang gosip. Menjaga diri dengan tetap di rumah mengerjakan tugas rumah, mengasuh anak.

Ah nikmat sekali rasanya jika tinggal di tempat itu…
24 April 2011, ah aku ingin survei tempat itu.. Semoga dilancarkan..

Categories: Keluarga | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: