Sebagian Catatan Pembahasan Fiqih Riba Kontemporer

Pembahas Ustadz Dzulqarnain di Mesjid Baiturrahim, Perumahan Galaxi Bekasi Barat tanggal 01 Mei 2011.
Pencatat:
– Nama Akta lahir: Denny Juzaili
– Kuniyah: Abu Muhammad
Profesi pencatat: Pembuat website (0857-15978871), penjual herbal http://www.herbalkesehatan.com, konsultan pemasaran dunia maya (0857-15978871), pemasar kambing aqiqah http://www.aqiqahjakarta.com

Bahaya Riba
Bahaya 1
Yang memakan riba, yang mencatat, yang menjadi saksi dosanya sama

Bahaya 2
Apabila menganggap halal maka hukumnya kufur, kekal di neraka

Dasar 3:
Jika memakan riba namun tidak menghalalkan:
1. Dilaknat Allah
2. Menyatakan peperangan terhadap Allah dan RasulNya
3. Tidak bangun dari alam kubur kecuali seperti bangunnya orang yang kerasukan setan.

Beberapa Sebab Riba Diharamkan Karena
1. Mencekik orang miskin
2. Manfaat hanya pada satu pihak
3. Riba adalah kemalasan, pengangguran

PEMBAGIAN RIBA
Pembagian 1:
Riba dalam hutan piutang (riba duyuun)
Riba ini dibagi dua lagi:
– Tambahan diberikan ketika jatuh tempo (disebut Riba jahiliyah)
Contoh kasus: A berhutang kepada B sampai tempo waktu tertentu. Ketika sudah jatuh tempo, B datang kepada A dan mengatakan “Engkau bayar hutangmu sekarang atau diberikan perpanjangan, namun dengan tambahan setiap harinya
– Persyaratan tambahan disebutkan di awal akad hutang piutang.

Kaidah:
Setiap hutang piutang yang ada manfaat tambahan maka itu riba. (atau yang semakna dengan lafazh ini)
Contoh:
1. A berhutang ke B. Karena berhutang maka A selalu mengantarkan B dengan kendaraannya ke kantor (yang sebelum2nya tidak pernah mengantarkan).
2. A berhutang ke B. Karena berhutang setiap hari A memberikan makanan ke B (yang sebelum2nya tidak pernah memberikan makanan)
Jika terjadi seperti contoh, maka B (pemberi hutang) tidak boleh mengambil manfaat tersebut, karena itu adalah riba.
Pembagian 2:
Riba dalam jual beli.
Riba jenis ini dibagi 2:
1. Riba nasi-ah (undur)
2. Riba fadhl (melebihkan)

* Beda riba hutang piutang dengan riba jual beli:
– Riba hutang piutang diharamkan dari syariat dan berlaku pada seluruh harta
– Riba jual beli diharamkan dari syariat hanya berlaku pada barang-barang ribawi

Barang-Barang Ribawi
Perlu diketahui bahwa hukum riba hanya berlaku pada barang-barang ribawi.

Pada satu hadits disebutkan barang-barang yang berlaku hukum riba (barang ribawi) adalah:
– emas
– perak
– burr (jenis gandum)
– syaa-ir (jenis gandum)
– tamr (kurma)
– garam
– tangan dengan tangan (kontan)
– semisal dengan yang semisal
namun juga disebutkan beberapa barang lain di hadits yang lain
– anggur
– makanan

Rincian
Harta ada dua (2) macam
– ribawi
– non ribawi

Harta ribawi ada dua pendapat:
1. Harta / barang ribawi hanya yang disebut di hadits (pendapat mazhab zhahiri)
2. barang ribawi tidak terbatas pada 6 jenis yang disebutkan di hadits (Ini pendapat jumhur)
Kesimpulan: barang ribawi tidak terbatas pada 6 barang.

Dari penyebutan batang-barang yang bersifat ribawi, bisa diambil dua kelompok
1. Emas dan perak
Illah (sebab) menjadi barang ribawi:
– Karena bisa menjadi harga (ats tsamaniyyah)
2. Al burr, asy sya’iir, Al milh (garam), dan at tamr (kurma)
Illah (sebab) menjadi barang ribawi:
– Karena bisa dimakan
– Karena bisa ditimbang atau ditakar

* Timbang atau ukur Tolok ukurnya adalah pada zaman Rasulullah.
Cth: Telur pada zaman Rasulullah adalah dihitung. Kalau sekarang ditimbang. Maka telur tidak termasuk barang ribawi (karena illah barang ribawi dari makanan adalah bisa ditimbang atau diukur, sedangkan telur adalah DIHITUNG tidak ditimbang atau diukut).

Kaidah
1. Setiap barang ribawi yang sama jenis dan illah nya. Jika terjadi penukaran disyariatkan dengan dua syarat
a. Harus semisal
b. Harus kontan (tangan dengan tangan)
2. Semisal maksudnya sejenis, 1 gram emas 22 karat adalah sejenis dengan 1 gram emas 24 karat.
Jadi menukar 1 gram emas 24 karat adalah dengan 1 gram emas 18 karat. (karena sama-sama jenis emas)
Jadi menukar 1 kg kurma ajwa adalah dengan 1 kg kurma mesir. (karena sama-sama jenis kurma)
3. Dua barang ribawi yang beda jenis, juga berbeda illah. Maka tidak ada syarat di dalam penukarannya

Riba diharamkan maka segala jalan yang mengantarkan kepada riba juga diharamkan.

Dikecualikan Dalam Masalah Al ‘Aroyah
Boleh menukar korma yang masih di pohon dengan korma yang sudah matang. Dengan syarat:
1. Tidak ada harta lagi selain korma
2. Korma di pohon itu diperkirakan oleh yang ahli memperkirakan

BENTUK-BENTUK RIBA KONTEMPORER
Kredit / Pembayaran Tidak Kontan
Ada beberapa jenis pembayaran tidak kontan di dalam hukum islam.
1. Baiut Taqsith (Membayar separuh-separuh)
Membeli barang berangsur
Contoh A membeli mobil cash 200 juta. Membeli angsur 220 juta.
Diperbolehkan / Halal
Kecuali Syaikh Al Albani → mengatakan ini termasuk jual beli dengan 2 akad
Kecuali Syaikh Muqbil → Karena ada unsur riba

2. Baiul ‘Iinah (Inah)
Contoh: A membeli motor ke B 10 juta. Dengan mencicil. Lalu setelah selesai A membeli ke B. B datang ke A dan membeli kembali motor yang tadi dibeli dengan harga 9 juta. (Perhatikan, A masih terikat syarat mencicil ke B, tapi B malah membeli balik motor yang masih dicicil. Ini jual beli dengan dua akad)
Hukum HARAM.

3. At Tawarruk
Contoh: A beli mobil ke B seharga 220 juta. DP 20 juta. Setelah mobil diterima. Lalu A menjual ke C secara tunai (dalam kondisi A belum lunas mencicil ke B). Dari jual mobil ke C itu, A mendapat uang. Ini dilakukan karena A ingin mendapat modal. Setelah itu melanjutkan cicilan ke B.
Hukum Haram
Tapi Syaikh ‘Utsaimin membolehkan, walaupun condong tidak boleh. Membolehkan dengan syarat:
1. Ada kebutuhan yang sangat mendesak
2. Tidak bisa mendapat modal kecuali dengan cara itu
3. Hendaknya ketika akad tidak ada bentuk riba di dalamnya
4. Barang dijual ke C setelah barang ia (A) miliki.

4. Baiul Muroobahah al ‘Aamiri bis Syarh (Murobahah)
Contoh: A pengen beli mobil ke B tapi tidak punya uang. Lalu A datang ke C minta C beli mobil dari B. Dan dia sampaikan bahwa nanti A mau beli mobil tersebut dari C dengan cicil.
Ada dua pendapat:
1. Boleh → Syaikh Bin Baz, Syaikh Bakr bin Zaid, Syaikh Mani’
2. Tidak boleh → Syaikh Al ‘Utsaimin, Syaikh Fauzan

Yang membolehkan, adalah dengan syarat:
1. Tidak ada keharusan (setelah mobil di beli oleh C) A membeli dari C
2. Jika terjadi kerusakan sebelum A membeli dari C, mk kerugian ditanggung C
3. Sebelum C melakukan transaksi dengan A, maka C harus sudah memiliki barang.
Ada hadits:
“Wa laa tabi’ ma laisa ‘indak”
Juga hadits:
“wa laa tabi’ maa laa tamlik”

Lebih cocok: Boleh dengan syarat.

5. Al Ijaar Al Muntahi Littamlik (Sewa yang berakhir dengan kepemilikan)
Contoh: Supir taksi dengan mobil taksi yang dibawanya.
Biasa kesepakatan: Supir membawa taksi dengan setoran sekian per hari. Perusahaan taksi mengatakan jika supir telah menyewa selama 10 tahun, maka di akhir setoran yang terakhir mobil taksi tersebut menjadi milik supir.
Di dalam transaksi seperti ini ada : 2 Akad dalam satu transaksi.
Yakni: Akad sewa menyewa. Dan perpindahan kepemilikan di akhir sewa.
Hukum: Tidak boleh.
Ada fatwa khusus dari majma’ fiqh islami.

RIBA DI PERBANKAN
SIMPANAN DI BANK
1. Yang tidak dikembangkan
Cth: Menyimpan surat berharga
Maka pembayaran yang ditetapkan adalah upah untuk adminstrasi → BOLEH

Cth: Simpanan untuk kebutuhan tertentu: Pembayaran listrik, telpon.
Maka ini namanya Wakalah → BOLEH

Cth: Sewa brankas
Biaya administrasi / biaya sewa brankas → BOLEH

2. Yang dikembangkan
1. Bank Konvensional
Dibebankan bunga, maka ini RIBA → HARAM

2. Bank Syariah
1. Mereka menggunakan istilah “WADI’AH” (Titipan). *Sedangkan yang terjadi di dalamnya bukanlah apa yang disebut “titipan”
1. Akad barang titipan: Akad sifatnya kebaikan, tidak boleh digunakan, tidak mendapat imbalan apapun. Jika barang yang dititipkan itu hilang atau rusak maka kerugian ditanggung yang menitip.
Jadi praktik di Bank Syariah tidak tepat disebut Wadiah.

2. Jika menggunakan istilah mudhorobah (kerjasama)
Maka harus: Untung sama untung, rugi sama rugi.
Sedangkan di bank syariah tidak pernah ada yang namanya rugi sama rugi. Setiap bulan selalu ada pembagian hasil keuntungan.
Jadi sebelum masuk ke bank syariah, akad harus diperjelas, orang harus perhatikan hukum syar’i di dalamnya.

3. Ada produk DEPOSITO/ Simpanan Investasi
Hukumnya RIBA. Karena besar persentase pengembalian uang sudah ditentukan lebih besar sekian persen yang ditentukan di awal.

KARTU-KARTU
1. ATM (Anjungan Tunai Mandiri)
ATM ini ada 2 jenis, yakni:
1. ATM yang hanya berlaku di negara bank berada
2. ATM yang juga berlaku di luar negeri bank berada
ATM hanya merupakan fasilitas untuk memudahkan mengambil uang, mengetahui saldo dan tidak dipungut biaya kecuali biaya administrasi, maka ini BOLEH.

2. Kartu Kredit
Ada dua tipe kartu kredit:
1. Dipakai biaya tahunan (annual fee)
Yakni untuk mengeluarkan kartu kredit, nasabah membayarkan sekian uang ke lembaga keuangan nya di depan / di muka / di awal. Ini praktek ada riba fadhl dan riba nasiah.
2. Ada limit (pengambilan uang) di kartu kredit tersebut.
Ringkas:
Di Kartu kredit terdapat berbagai penyimpangan:
1. Ghoror (ketidakjelasan): Yakni ia belum pasti menggunakan kartu kredit.
2. Qimaar
3. Riba Fadhl
4. Riba nasi’ah.
3. Kartu Potongan Harga (KPH)
Biasa di maskapai penerbangan
Bisa dibagi menjadi 3 jenis:
1. KPH yang berlaku umum. Kartu berlaku juga di perusahaan rekanan pengeluar KPH. Untuk memiliki KPH ada biayanya.
2. KPH berlaku khusus. Hanya antara pengeluar dengan penerima.
Untuk memiliki KPH ada biayanya.
3. KPH Gratis
KPH jenis 1 dan 2 hukumnya HARAM. Termasuk Riba.
KPH jenis 3 BOLEH.

Saham dan Obligasi
1. Saham
Termasuk dalam persyarikatan.
Saham adalah lembaran kertas yang memiliki nilai tertentu. Dan kepemilikan saham merepresentasikan kepemilikan dengan porsi tententu atas perusahaan.
Hukum asal: BOLEH
1. Beberapa jenis saham:
1. Saham yang ditulis “Milik siapa yang membawanya”
Hukumnya: HARAM
2. Saham yang pemiliknya diutamakan dalam pembagian keuntungan (Preferred Stock)
Hukumnya: HARAM
Dalam syarikat maka pengutamaan dalam pembagian untung rugi adalah sama rata (*bukan porsi)
3. Saham yang pasti mendapat keuntungan
HARAM. RIBA
4. Saham yang suara pemiliknya lebih didengar
HARAM
5. Saham hanya boleh dari perusahaan yang usahanya bersih
HALAL
6. Saham di PT yang hartanya bercampur (ada usaha yang halal, dan ada usaha yang riba)
Dalam hal ini maka tidak boleh bersyarikat, karena pintu riba tidak boleh dibuka.
2. Obligasi.
Dalam praktiknya ia bukan saham namun memiliki sedikit kemiripan.
Obligasi adalah sebuah bentuk Hutang. Di mana pihak yang berhutang mengeluarkan surat yang disebut surat hutang. Bagi pembelinya, maka ia akan mendapat persentasi tertentu dari uang perusahaan per waktu sampai dengan habis waktu berlakunya obligasi.
Jadi di dalam obligasi ini ada dua bentuk aktivitas:
1. Aktivitas memberikan pinjaman
2. Aktivitas mendapat uang rutin (bunga) dari peminjam sampai jangka waktu hutang itu lunas.
HARAM. RIBA

Asuransi
Asuransi bertolak dari keinginan orang untuk merasa aman dari apapun bentuk kerugian yang mungkin mereka alami.
Aktivitas asuransi minimalnya terbentuk dari dua pelaku:
1. Lembaga pemberi asuransi
2. Pihak yang menjadi peserta asuransi
Lembaga pemberi asuransi meminta uang yang diistilahkan PREMI ASURANSI dari peserta asuransi. Dengan ganti berupa uang asuransi JIKA peserta mengalami musibah atau peristiwa yang telah mereka sepakati.

Contoh 1: Asuransi mobil. Peserta asuransi membayarkan 1 juta setiap bulan ke PT Asuransi. Pada Bulan kelima peserta mengalami kecelakaan lalu ia meminta uang asuransi dari PT Asuransi sebesar kerusakan yang mobilnya terima. Karena kerusakannya parah, uang klaim asuransi mencapai 75 juta. Maka kita lihat bahwa peserta asuransi baru membayar premi sebesar 5 bulan x 1 juta = 5 juta. Namun ia mendapat uang Rp 75 juta sebagai ganti asuransi yang dijanjikan PT.

Contoh 2:Asuransi mobil. Peserta asuransi membayarkan 5 juta setiap bulan ke PT Asuransi atas mobil Baby Benz yang ia asuransikan. Setiap bulan ia menyetor premi asuransi tersebut. Namun ternyata ia tidak ditakdirkan mengalami kecelakaan selama mobil tersebut ia miliki. Sehingga uang yang sudah ia setorkan sebagai premi asuransi menjadi milik PT Asuransi begitu saja. Tanpa ia mendapat ganti apapun.
1. Konvensional
Semua ada ghoror (ketidakpastian), qimaar (kerugian), dan RIBA
2. Syariah
Asuransi taawun, BOLEH.
Dengan syarat: Kegiatan yang halal tidak ada ghoror, qimaar, riba.
* Dalam sebuah artikel contoh asuransi yang boleh adalah jika uang yang disetorkan maka jumlah tersebut yang diterima kembali. Dan perusahaan asuransi tidak mengambil uang peserta, dan juga tidak diklaim melebihi yang disetorkan peserta.
Pegadaian
Pegadaian lembaga keuangan yang memberikan hutang. Bagi yang berhutang untuk menguatkan bahwa ia akan melunasi hutangnya maka ia menjamin hutangnya dengan barang.
Terdapat dua jenis institusi pegadaian:
1. Pegadaian biasa (konvensional)
Contoh : A bawa barang motor, lalu motor ditaksir harganya. Lalu ditentukan harus dilunasi waktu tertentu. Saat pelunasan juga ada biaya-biaya. Kalau terlambat melunasi maka ditambahkan bunga.
Di praktik ini ada RIBA. HARAM.
2. Pegadaian syariah
Di pegadaian syariah ini tidak diberikan biaya jika terlambat melunasi hutang. Namun keanehan terjadi pada BIAYA PERAWATAN YANG SANGAT TINGGI atas barang yang dijaminkan. Memang, dalam praktik pegadaian orang yang dititipkan barang jaminan boleh meminta uang perawatan atas barang yang dititipkan tersebut. Namun dengan besar seberapa yang keluar untuk perawatan barang titipan. Kecuali barang titipan itu diperbolehkan oleh penggadai untuk diambil manfaatnya (contoh kambing digadaikan lalu diambil susunya) maka tidak perlu diberikan biaya perawatan.
Arisan
Arisan adalah beberapa orang berkumpul, mereka bersepakat mengumpulkan uang di tiap mereka kumpul dengan jumlah yang sama dari tiap-tiap peserta. Lalu secara bergilir dari uang yang dikumpulkan tersebut diberikan kepada peserta yang beruntung di kumpul. Dalam satu putaran satu orang hanya bisa mendapat satu kali, yakni sampai semua peserta mendapat jatah uang arisan.
Dalam hal ini ada 2 pendapat :
1. Syaikh Fauzan : Tidak membolehkan. Bagian riba. Karena bagian meminjamkan dengan syarat ia dipinjamkan. Ini mengambil manfaat di balik peminjaman.
2. Ibnu Utsaimin : Boleh, bahkan menganjurkan. Ia mengatakan Ini adalah solusi terindah bagi yang ingin memiliki modal.
Namun dalam praktek arisan ternyata ada berkembang variasi-variasi dan tambahan-tambahan yang membuat arisan menjadi ada RIBAnya.

Demikian catatan saya. Jika ada salah maka itu dari saya dan saya meminta ampun kepada Allah. Jika ada kebenaran maka itu dari Allah. Maka kita berlindung kepada Allah dari kesesatan dan melihat baik amalan buruk. Amin.

Categories: Tarbiyah | Tags: , | 4 Komentar

Navigasi pos

4 thoughts on “Sebagian Catatan Pembahasan Fiqih Riba Kontemporer

  1. Jazakumullohu khoir ya akhi…

  2. ibnu muhammadin

    Sama sama mas ung. Jazaakumulloohu khoiron wa baraka fik.

  3. Bismillah,

    Weiitts.. antum hadir thoh, ana ada di depan sebelah kanan. Antum ada di mana ya?
    ouiea, font comic san huruf t kecil nya mirip salib. Ahsan tidak memakai font jenis ini. Hayakallah.

  4. lebani

    Jazakallahu khoir akh catatanya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: