Bersamamu Menyusuri Duniamu

(ditulis oleh: l-Ustadzah Ummu Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran)

Di balik keceriaan sang anak, sesungguhnya ia membutuhkan perhatian dan bimbingan. Ia terkadang juga menginginkan bisa bermain bersama ayah atau ibunya. Sayangnya, banyak orangtua yang justru menghabiskan waktunya untuk berbagai urusan di luar rumah. Rutinitas kantor, janji dengan relasi atau mitra bisnis, aktivitas organisasi dan sebagainya seakan menjadi pembenar untuk mengabaikan keluarga.

Dunia anak seolah tak lepas dari canda cerianya. Menyaksikan mereka berlari, bercanda dan bertingkah dengan segala keriangan hatinya, menatap mereka bermain dan bergurau dalam iringan gelak tawanya. Terkadang semua itu membuat hati tergerak untuk turut menikmati dunia mereka, merasakan kegembiraan yang mereka rasakan.

Namun di belahan lain, ada orang tua yang tidak sempat meluangkan waktunya untuk bermain dan bercanda dengan anak-anak. Waktu mereka “terlalu berharga” untuk itu, sementara di sana menunggu setumpuk tugas kantor atau deretan daftar pekerjaan yang harus diselesaikan. Tak perlulah orang tua “menyia-nyiakan” waktu sekedar untuk bermain bersama anak-anak. Toh itu bukan lagi menjadi dunia mereka.

Sebenarnya tidaklah salah jika suatu waktu ayah ibu menyempatkan diri mengajak buah hatinya bercanda dan bersenda gurau. Jika dibuka lagi lembaran yang menuliskan kehidupan Rasulullah r, akan didapati bahwa yang demikian ini juga dilakukan oleh beliau. Telah banyak kisah yang dituturkan di mana semua itu menggambarkan rasa kasih sayang beliau terhadap anak-anak.

Para shahabat beliau yang mulia radhiallahu ‘anhum menceritakan, dalam banyak kesempatan Rasulullah r memberikan perhatian kepada anak-anak. Di antara mereka ada yang menceritakan pengalamannya bersama beliau, seperti Mahmud bin Ar-Rabi’ z yang berkisah:

“Aku masih ingat semburan Nabi r yang beliau semburkan di wajahku dari ember. Waktu itu usiaku masih lima tahun.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 77)

Demikian pula Anas bin Malik z yang menceritakan:

“Rasulullah r adalah orang yang paling baik akhlaknya. Aku memiliki saudara laki-laki bernama Abu ‘Umair yang waktu itu dia telah disapih. Apabila Rasulullah r datang, beliau menyapa, ‘Wahai Abu ‘Umair, apa yang dilakukan burung kecilmu?’ Dia biasa bermain dengan burung kecil itu.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6129 dan Muslim no. 2150)

Kisah Abu ‘Umair ini menunjukkan bolehnya seorang anak bermain dengan burung. Diperkenankan juga bercanda dengan gurauan yang tidak mengandung dosa, serta berlemah lembut dan bersikap ramah terhadap anak kecil. Demikian pulalah kebaikan akhlak, kemuliaan pribadi, dan ketawadhuan Rasulullah r tergambar dari kisah ini. (Syarh Shahih Muslim, 14/129)

Tak ketinggalan seorang shahabiyyah, Ummu Khalid bintu Khalid x mengisahkan pengalaman masa kecilnya bersama Rasulullah r, ketika menemui beliau bersama ayahnya:

“Aku pernah datang kepada Rasulullah r bersama ayahku. Waktu itu aku memakai baju kuning. Rasulullah r pun berkata, ‘Sanah, sanah!’ Abdullah (Ibnul Mubarak) berkata: Kata ini dalam bahasa Habasyiyah berarti bagus. Ummu Khalid bercerita lagi: Lalu aku bermain-main dengan tanda kenabian, hingga ayahku menghardikku. Melihat itu, Rasulullah r mengatakan, ‘Biarkan dia!’ Kemudian beliau bersabda, ‘Pakailah sampai usang, pakailah sampai usang, pakailah sampai usang’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5993)

Yang tak boleh luput dari perhatian, Rasulullah r memberikan gambaran kasih sayang dengan pelukan seperti kepada cucu beliau, Al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib c. Peristiwa ini dikisahkan oleh Ya’la bin Murrah z:

“Kami pernah keluar bersama Nabi r. Pada waktu itu, kami diundang makan. Tiba-tiba Al-Husain bermain-main di jalan. Rasulullah r pun segera mendahului orang-orang, kemudian membentangkan kedua tangan beliau, dan berlari kesana kemari, mencandai Al-Husain hingga berhasil memegangnya. Kemudian beliau letakkan salah satu tangan di dagu Al-Husain, dan tangan yang sebelah di kepalanya. Beliau pun memeluk dan menciumnya, lalu berkata, ‘Al-Husain adalah bagian dariku, dan aku bagian darinya. Allah mencintai orang yang mencintai Al-Hasan dan Al-Husain. Mereka itu dua orang dari anak cucu Ibrahim u’.” (Dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 279)

Pengertian dan kasih sayang juga terlukis pada diri Rasulullah r ketika bersama ‘Aisyah bintu Abi Bakr c, istri yang masih sangat belia ketika dipersunting beliau. Kala itu, masih lekat kegemaran ‘Aisyah x dengan permainan sebagaimana gadis kecil seusianya. Hal ini dikisahkan sendiri oleh ‘Aisyah:

“Demi Allah, aku pernah melihat Rasulullah r berdiri di pintu kamarku. Ketika itu orang-orang Habasyah sedang bermain-main dengan alat perang mereka di masjid Rasulullah r. Beliau menutupiku dengan selendangnya agar aku dapat menyaksikan permainan mereka. Beliau berdiri hingga aku sendiri yang beringsut dari situ. Maka hendaknya kalian mengerti keadaan seorang gadis kecil yang masih muda usianya dan senang dengan permainan.” (Shahih, HR. Muslim, no. 892)

Dari sini terlihat kasih sayang, kebaikan akhlak dan pergaulan Rasulullah r terhadap keluarga dan istri-istri beliau, maupun yang lainnya. (Syarh Shahih Muslim, 6/184)

Dari sini pula tergambar bahwa saat itu ‘Aisyah x adalah seorang gadis kecil yang masih menyukai hiburan dan pertunjukan, teramat senang melihat permainan dan ingin menyaksikannya selama mungkin tanpa rasa bosan, kecuali setelah waktu yang lama. Ucapan ‘Aisyah di akhir penuturannya menunjukkan bahwa seorang gadis kecil masih berminat dan menyukai permainan. (Syarh Shahih Muslim, 6/185)

Demikian dunia mereka. Sarat canda dan permainan. Namun tentunya tak patut dilupakan pandangan syariat tentang jenis-jenis permainan yang boleh digunakan oleh anak. ‘Aisyah x menceritakan:

“Dulu aku biasa bermain boneka-boneka perempuan di sisi Rasulullah r, dan aku memiliki beberapa teman yang biasa bermain denganku. Apabila Rasulullah r datang, mereka bersembunyi dari beliau. Kemudian beliau menggiring mereka kembali padaku, lalu mereka bermain lagi bersamaku.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6130 dan Muslim no. 2440)

Kisah ‘Aisyah x ini membuahkan faidah tentang bolehnya anak-anak perempuan bermain boneka untuk mengajarkan dan melatih mereka tentang urusan yang berkaitan dengan diri mereka, rumah tangga dan anak-anak.  Hal ini termasuk pengkhususan dari keumuman gambar yang dilarang. Demikian diterangkan oleh Al-Imam An-Nawawi t. (Syarh Shahih Muslim, 15/204)1

Permainan ini pula yang diberikan oleh para ibu di kalangan shahabat ketika melatih anak-anak mereka berpuasa sehingga perhatian mereka beralih dari makanan. Hal ini diceritakan oleh Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz x:

“Nabi r mengutus seseorang kepada penduduk Anshar pada pagi hari ‘Asyura untuk mengumumkan, barangsiapa yang pada pagi harinya dalam keadaan tidak berpuasa, maka hendaknya menyempurnakan sisa harinya dengan berpuasa. Dan barangsiapa pada pagi harinya dalam keadaan berpuasa, maka hendaknya dia berpuasa pada hari itu. Maka kami pun berpuasa setelah itu dan menyuruh anak-anak kami turut berpuasa. Kami membuat mainan dari wol untuk mereka. Jika mereka menangis karena minta makan, kami berikan mainan itu, hingga tiba waktu berbuka.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 1960 dan Muslim no. 1136)

Asy-Syaikh Muqbil t membawakan hadits ‘Aisyah dan hadits Ar-Rubayyi’ ini dalam kitabnya Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah pada bab “Bolehnya menggunakan mainan dari wol dan kain untuk anak-anak”. (Hukmu Tashwir, hal. 59)

Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu hafizhahullah menjelaskan bolehnya anak-anak perempuan bermain dengan mainan berbentuk anak kecil yang dibuat dari perca, yang dapat dikenakan pakaian, dimandikan dan ditidurkannya. Ini bermanfaat dalam rangka mengajari mereka tentang pendidikan anak ketika kelak mereka menjadi ibu. Akan tetapi, tidak boleh membeli mainan (boneka) asing untuk mereka, terutama boneka-boneka yang berbentuk wanita asing yang membuka aurat, sehingga anak-anak akan belajar dan mengikuti mereka. (Kaifa Nurabbi Auladana, hal. 53)

Begitu pun masalah permainan ini dijumpai di kalangan para pendahulu kita yang shalih. Di antara mereka ada Ibrahim bin Yazid An-Nakha’i t yang menyatakan:

“Shahabat-shahabat kami memberikan keringanan bagi kami pada seluruh jenis permainan, kecuali anjing.” Abu Abdillah (Al-Imam Al-Bukhari) mengatakan: “Yang dimaksud di sini adalah permainan untuk anak-anak.” (Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 976: shahihul isnad maqthu’)

Namun ada hal yang tidak boleh dilalaikan oleh ayah bunda. Yakni agar melarang anak melakukan permainan yang dilarang oleh syariat, seperti permainan dadu. Rasulullah r bahkan memberikan ancaman kepada orang-orang yang bermain dadu. Ini disampaikan oleh Abu Musa Al-Asy’ari bahwa Rasulullah r bersabda:

“Barangsiapa bermain dengan dadu, maka dia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 957: hasan)

Dijelaskan pula oleh Abdullah bin Mas’ud z yang mengatakan:

“Hati-hatilah kalian terhadap dua dadu ini, karena keduanya ini termasuk perjudian.” (Dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 958: shahih)

Bahkan para shahabat tidak segan bersikap keras bila melihat salah seorang dari keluarganya bermain dadu. Hal ini pernah dilakukan oleh Abdullah bin ‘Umar c, sebagaimana dikisahkan oleh Nafi’:

“Apabila Abdullah bin ‘Umar mendapati salah seorang dari anggota keluarganya bermain dadu, maka beliau memukulnya dan memecahkan dadu itu.” (Dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 960: shahihul isnad mauquf)

Inilah dunia anak. Dunia bermain dan canda tawa. Sebagai cerminan rasa kasih dari sanubari, tak inginkah ayah dan ibu turut bersama mereka menikmati kegembiraan dalam naungan pengajaran Nabi r…? Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.


Namun sebagian ulama, seperti Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berpendapat bahwa boneka-boneka mainan ‘Aisyah x bentuknya sederhana sekali dan tidak begitu persis menyerupai makhluk aslinya. Adapun boneka-boneka sekarang yang bentuknya begitu persis dengan aslinya bahkan bisa bergerak dan bersuara maka lebih baik (utama) menghindarinya. Bila hendak berhati-hati maka kepalanya dicopot atau dipanaskan sampai menjadi lembek lelu disederhanakan sehingga tidak persis dengan aslinya, atau yang semacamnya. Lihat Majmu’ah As-ilatin Tuhimmu Al-Usrah Al-Muslimah, hal. 135-136. (ed)

Categories: Kebahagiaan | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: