Ushul Tsalatsah (Sesi 1 dari 3)

Transkrip Pelajaran Tsalatsatul Ushul (Sesi kesatu dan tiga sesi)
Dauroh di Provinsi Bali, Indonesia Tengah

Pemateri: Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi hafizhohullah

Pada dauroh dua hari ini Insya Allah taala. Adalah sebuah pembahasan yang sangat penting sekali dalam kehidupan kita dan mungkin pembahasan ini adalah pembahasan yang berkaitan yang menentukan kebahagiaan seorang hamba di dunia, di alam kubur, dan ketika dia menghadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebab, yang kita bahas pada kesempatan ini adalah Seputar tiga pertanyaan malaikat di alam kubur.

Yaitu malaikat bertanya: 1. Ma robbuk. Siapa robbmu yang kamu ibadahi. dua. Wa man Nabiyyuk. siapa Nabimu. Demikian pula dia bertanya tentang tiga. Maka ini tiga perkara yang harus disiapkan jawabannya. Dan seorang hamba hanya mampu menjawab dengan baik dan benar apabila kandungan dari tiga pertanyaan ini telah dia pelajari dan dia yakini dan dia amalkan di kehidupan dunianya.

Dan dimaklumi ketika Munkar dan Nakir bertanya tentang masailil qobr ini pertanyaan-pertanyaan di alam kubur ini ini adalah bagian dari ujian di dalam alam kubur. Siapa yang selamat maka kehidupan di akhirat lebih ringan lagi baginya. Keselamatan untuknya lebih dimudahkan baginya di kehidupan setelahnya.

Oleh karena Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “alqobru awwalu manazilil akhiroh”. Kuburan adalah awal persinggahan negeri akhirat. “Fa in naja minhu fainnama ba’dahu aisar”. Kalau dia selamat di alam kubur maka apa yang setelahnya adalah lebih mudah.

Disebutkan di dalam hadits yang shohih yang menjelaskan tentang bagaimana keadaan manusia di alam kubur, kalau seorang hamba ditanya dengan tiga pertanyaan tersebut dan dia tidak menjawabnya, maka Akan dipukulkan kepadanya sebuah mitroqoh, sebuah gada atau palu, andaikata mitroqoh ini, kata Nabi, dipukulkan ke Gunung Uhud Akan hancur Gunung Uhud itu berkeping-keping.

Maka ini menunjukkan kedahsyatan hal tersebut dan semua dari kita Akan menghadapi kehidupan alam barzakh dan semua Akan menghadapi pertanyaan malaikat ini maka yang bisa menyelamatkan adalah bagaimana seseorang mengenal dan mempelajari siapa rabb yang dia ibadahi, apa itu ibadah, bagaimana kaidah beribadah kepada Allah. Bagaimana memurnikan ibadah kepada-Nya.

Juga dia wajib mempelajari apa agamanya, pokok-pokok dari syariat yang dituntunkan, apa kewajiban-kewajibannya di dalam beragama. selain daripada itu dia wajib mengenal siapa Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Siapa beliau, apa kewajiban kita terhadap beliau.

Ini tiga poin yang menjadi materi dauroh kita kali ini.

Pembahasan ini Akan kita baca dari kitab Tsalatsatul Ushul. tiga landasan pokok. tiga landasan utama. maksudnya ini adalah tiga perkara yang memang menjadi pertanyaan malaikat di alam kubur.

Dan buku Tsalatsatul Ushul ini ditulis dalam tulisan yang ringkas dan padat, beliau memaksudkannya sebagai sebuah kaidah yang dipelajari di kalangan semua pihak para penuntut ilmu nya maupun Orang umumnya dan beliau anjurkan agar supaya dihafal. Agar supaya melekat di dalam hati. Walaupun ringkas tapi manfaatnya sangat besar sekali. Tidak seorang pun dari kalangan ulama di masa ini yang berselisih tentang keagungan risalah ini dan keindahan susunannya serta kedetailan pembahasan-pembahasannya.

Dan kitab ini didahului dengan tiga pembahasan. tiga pembahasan ini adalah tulisan-tulisan tersendiri dari syaikh rahimahullah yang kemudian dimasukkan di dalam pembahasan Tsalatsatul Ushul sebagai tiga pendahuluan.

Pendahuluan yang pertama adalah risalah berkaitan tentang: (1) Kewajiban mempelajari ilmu, (dua) Beramal dengan ilmu, (tiga) Berdakwah kepada Allah dan (empat) Bersabar.

Kemudian risalah yang kedua, penjelasan tentang Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan masalah al wala wal baro

Dan risalah ketiga, adalah penjelasan tentang apa itu Tauhid dan lawannya.

Baik, ini tiga pendahuluan. Setelah itu baru kita Akan masuk ke pembahasan bagaimana seorang menjawab tiga pertanyaan malaikat di alam kubur. Maka penulis menerangkan bagaimana mengenal Allah, yang kedua bagaimana mengenal agama Islam, kemudian yang ketiga bagaimana mengenal Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Apa-apa yang diuraikan oleh penulis semuanya dengan dalil. Setiap masalah yang diterangkan beliau bawAkan dalil dari Al-Quran dan hadits Rasulullah ShollAllahu ‘alaihi wa sallam. Dan itulah ilmu agama. Sebab ilmu aitu adalah mengenal agama beserta dalil-dalilnya.

Pendahuluan pertama. Kata beliau, Bismillahirohmanirrohim i’lam rohimakAllah. Kata beliau, Bismillahirrohmanirroim, ketahuilah, semoga Allah merahmati mu. Sesungguhnya wajib atas kita semua untuk mempelajari empat masalah.

Beliau mulai dengan basmalah, beliau mengikuti Al-Quranul Karim yang setiap suratnya dimulai dengan bismillahirrohmanirrohim kecuali surat At Taubah. Semua Al-Quran, semua surat dalam Al-Quran 114 surat dari Al-Fatihah sampai An-Naas semuanya dimulai dengan bismillahirrohmanirohim kecuali surat At-Taubah. Karena surat At-Taubah ini sebagiannya menyebutkan bahwa ia bersambung dengan surat Al-Anfal. Dan memang dari sisi kandungan makna sangat erat sekali kaitannya antara surat Al-Anfal dengan surat At-Taubah.

Dan juga penulis memulai dengan bismillahirrohmanirohim karena mengikuti Nabi dan mencontoh Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam karena Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam di dalam penulisan surat-surat beliau, dan juga di dalam beliau memerintah kepada para sahabat unutk menulis tulisan-tulisan beliau di pernajian maupun selainnya beliau perintah untuk memulai dengan bismillahirrohmaanirrohim. Dan ini adalah sunnah, berjalan di kalangan para sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in dan dilakukan oleh para ulama hingga hari ini. Maka memulai dengan bismillahirrohmanirrohim adalah sesuatu yang indah.

Bismillahirrohmanirrohim artinya: Saya memulai tulisanku ini dengan menyebut nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan nama Allah adalah nama yang paling agung dari Asmaul Husna, dimana seluruh kandungan dari Asmaul Husna kembali mengikut ke nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ar-Rahman Ar-Rahim artinya yang maha pengasih lagi maha penyayang. Dua nama ini berasal dari satu kata, yaitu kata “Rahmat”. Jadi sebenarnya diartikan Ar-Rahman yang Maha Merahmati, Ar-Rahim juga artinya yang Maha Merahmati. Hanya saja rahmat pada Ar-Rahman ini lebih luas. Rahmat umum. Berbeda rahmat pada Ar-Rahim, dia rahmat khusus. Rahmat pada Ar-Rahman itu rahmat untuk seluruh makhluk. Karena itu jin dan manusia, Muslim maupun kafir ada dapat dari rahmat Allah. Ini masuk rahmat umum. Orang kafir andaikata tidak mendapat rahmat Allah tidak mungkin dia hidup, Kemudian Ar-Rahim di dalam nya terdapat rahmat khusus ini untuk Orang Orang yang beriman. Karena itu sangat indah sangat indah kalau seseorang memulai tulisannya atau aktifitasnya dia memabaca bismillahirrohmanirrahim “Dengan menyebut nama Allah Ar-Rahman Ar-Rahim yang maha merahmati” dia bersandar kepada Allah menyebut Asmaul Husna dia sebut dari tiga nama yang agung. Dia menghamba kepada Allah sambil mengharap rahmatnya maka tentunya ini Akan menjadi hal yang sangat indah. Membawa kebaikan bagi seorang hamba di dalam kegiatan-kegiatan dan aktivitasnya.

Kemudian kata beliau: Ketahuilah. Semoga Allah merahmatimu. Artinya jangan kamu jahil, jangan sampai kamu tidak tahu. Saya Akan menyebutkan empat permasalahan yang wajib dipelajari maka ketahuilah hal tersebut. Pelajarilah hal tersebut.

Dan ilmu itu Akan diterangkan oleh syaikh nanti, bahwa ilmu adalah mengenal Allah dan mengenal Nabi-Nya, dan mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya. Dibahasakan oleh ulama dengan: “Ilmu, ma’rifatul huda bidalilihi” Seorang mengenal petunjuk dengan dalilnya. Itu namanya ilmu. Jadi kalau dia kenal suatu perkara tanpa mengenal dalil maka mungkin itu ilmu mungkin bukan ilmu. Tapi kalau kenal dengan dalilnya, maka itu yang disebut ilmu.

Dia mulai tulisannya dengan mendoakan rahmat kepada pembacanya. Ini menunjukkan kebaikan hati penulis dan tampak darinya niatnya yang ikhlas untuk Orang yang membaca buku ini. Sebab dari awal beliau menulis sudah didoakan kebaikan untuk pembaca buku ini.

Dan ini hal yang baik, harus dijaga oleh Muslim maupun Muslimah. Apalagi dalam hal menyampaikan agama hendaknya dia tampilkan ke manusia dengan cara yang paling mudah, paling indah, dan tampak bahwa ia menghendaki kebaikan untuk manusia. Itulah sifat Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam

“Laqod jaa-akum Rosuulun min anfusikum azizun ‘alaihi ma ‘anittum hariishun ‘alaikum bil mukminiina rouufurrohiim”.Telah datang kepada kalian seorang Rasul dari diri-diri kalian sendiri. Rasul ini sangat berat ketika kalian membangkang. SubhanAllah kalau ada yang membangkang, beliau bersedih karena hal ini. Beliau kasihan kepada Orang yang tidak mengikuti petunjuk. Ini berbeda dengan sebagian Orang yang kadang bahkan saudaranya sendiri sesama Muslim kalau jatuh dalam kekeliruan dia kadang bergembira dengan hal tersebut. Ini bukan dari akhlak yang baik. Justru Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam sedih kepada mereka yang membangkang. “Beliau sangat semangat kalian itu mendapat hidayah, dan terhadap kaum mukminin Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam sangat pengasih dan sangat merahmati”.

Begitulah sifat Rasul kita, Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Ini yang diikuti oleh penulis di sini “I’lam rahimakAllah” ketahuilah semoga Allah merahmatimu. Inilah sifat seorang dai yang menghendaki kebaikan untuk manusia, dia gabungkan antara mengajarkan ilmu kepada manusia dan dia doakan kebaikan untuk Orang-orang yang mereka ajari.

Kata beliau, ketahuilah bahwa wajib bagi kita untuk mempelajari empat permasalahan. Jadi ada sebuah kewajiban dan kewajibannya ini wajib ‘ain Orang per Orang wajib untuk mempelajarinya laki-laki maupun perempuan.

  1. Mengenal ilmu. mempelajari ilmu. Ilmu ini luas dari ilmu agama tapi penulis terangkan batasannya, kata beliau (1) Ma’rifatullahi -mengenal Allah, wa (2) Ma’rifatu Nabiyyihi -mengenal Nabinya, (3) Ma’rifatu diinil Islam bil adillah–mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya.

Maka ini kewajiban, mempelajari ilmu, karena Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “thalabul ilm faridhatun ‘ala kulli Muslimin” menuntut ilmu adalah kewahiban atas setiap Muslim. Dan perlu Saya ingatkan ilmu itu ada dua macam, ada ilmu yang sifatnya fardhu ‘ain ini adalah yuang diterangkan penulis di sini. Bagaimana seorang hamba mengwnal Allah. itu yang pertama. Dia kenal siapa Allah. Dengan apa ia mengenal kebesaran Allah? Kemudian dia kenal bagaimana cara beribadah kepada-Nya, apa yang dibenci oleh Allah dari kesyirikan. maka ini ilmu sifatnya wajib dipelajari karena itu seorang wajib mengenal bagaimana cara ia memurnikan ibadah kepada Allah. dan seorang Muslim dan Muslimah wajib mengenal apa itu kesyirikan. Apa bentuk-bentuk nya. Sehingga dia tidak jatuh di dalam kesyirikan. Sekarang banyak Orang jatuh dalam kesyirikan dia tidak sadar. Apa itu syirik berkaitan dengan ucapan, berkaitan dengan perbuatan, atau berkaitan dengan kondisi dan keadaan yang dilakukan. Maka dia wajib mengenal kesyirikan itu, sehingga ia kenal apa yang merupakan hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Yang kedua, mengenal Nabi Muahmmad Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Seorang Muslim tidak boleh tidak mengenal Nabinya. Maka ada kadar yang diwajibkan dalam mengenal Nabi.

Yang ketiga, dia wajib mengenal agama Islam. Ada sholat 5 waktu, ada zakat, sholat, haji. Ini 5 dari rukun Islam, ditambah dengan syahadat wajib dikenal dan diketahui, ada rukun iman wajib ia kenal apa itu rukun iman. Ada ihsan, apa itu ihsan. Kalau ia kenal agama secara umum, apa yang diwajibkan terangkat darinya kewajiban. Selain daripada itu, itu hukum mempelajarinya fardhu kifayah, artinya kalau sebagian dari umat Islam sudah melakukan gugur dosa terhadap yang lainnya. Seperti sholat jenazah hukumnya fardhu kifayah. Jadi kalau ada kaum Muslimin sudah mensholatkan Muslim maka gugurlah dosa terhadap yang lainnya. Tapi kalau semuanya tidak mensholati maka semuanya berdosa. Karena itu ada yang disebut fardhu kifayah.

Perlu diketahui, mempelajari ilmu agama adalah nikmat yang sangat besar karunia yang sangat berharga bagi seorang hamba. Apabila ia serius di dalam mempelajari agamanya mengenal bagaimana agama Islam ini dengan dalil-dalilnya maka dia Akan merasakan betapa indahnya kehidupan itu. Beda antara Orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu. Dan ingat, pembahasan syariat semuanya berkaitan dengan ilmu agama. Tidak ada kaitannya dengan ilmu dunia. Orang yang menonjol di dilmu dunia, pada selain ilmu agama, itu tidak ada nilainya di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Yang dinilai adalah ilmu agamanya. Karena itu dunia diberikan kepada semuanya Muslim kafir semuanya diberi dunia. Tapi keimanan tidak Allah berikan kecuali kepada Orang dicintainya saja. Karena itu hendaknya kita bersyukur punya keinginan di dalam mempelajari agama. Dan ini nikmat yang sangat besar.

Tapi di dalam kehidupan terkadang kita didominasi perkara yang kita saksikan, kondisi kehidupan yang berjalan di sekitar kita sehingga melalaikan kita dari ilmu agama padahal ilmu agama itu ruh bagi seorang hamba.

Allah berfirman: “Wa kadzalika auhaina ilaika RUUHAN min amrina”. Demikianlah kami wahyukan kepada engkau Nabi Muhammad ruh dari perkara kami. Jadi wahyu yang diwahyukan kepada Nabi, agama yang dibawa oleh Nabi itu disebut RUH oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan dimaklumi bahwa tiada kehidupan tanpa ruh. Karena itu seorang Akan merasa kalau ia mengenal ilmu agama, Akan ringan ujian dan cobaan yang dia lalui. Akan ada jalan keluar baginya pada setiap masalah yang dia hadapi. Dan dia ketika hidup di antara manusia dia tahu sebab-sebab kemuliaan itu apa, sebab-sebab kehinaan itu apa sehingga dia dalam kondisi kehidupan yang penuh kenikmatan. Dan inilah yang kata ulama, surga dunia namanya. Siapa yang tidak memasuki surga di dunia ini, dia tidak Akan masuk di surga akhirat. Surga di dunia inilah ilmu agama keimanan, seorang yang masuk ke dalamnya maka merekalah yang dimasukkan ke dalam surga di akhirat.Tapi Orang yang tidak pernah mengenal dari keimanan dari ilmu agama dia tidak Akan merasakan surga di akhirat. Maka ini dari hal yang hendaknya diperhatikan oleh seorang hamba.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebut Orang yang tidak mempelajari ilmu seperti mayat-mayat. Orang-orang yang mati. Jadi tidak disebut dia hidup.

Allah berfirman: “Awaman kaana maitan faahyainaahu wa ja’alnaa lahu nuuron yamsyii bihii finnaasi kaman matsaluhu fizzhulumati laisa bikhoorijin minhaa”. Apakah Orang yang tadinya dia mati kemudian kami hidupkan dia dan kami berikan untuknya cahaya dia berjalan di bawah cahaya itu. Apakah Orang yang seperti ini sama perumpamaannya dengan Orang yang tetap dalam kegelapan tidak mau keluar darinya.

Allah dalam ayat ini berfirman kepada Orang-orang yang memiliki akal. ini ada dua golongan. Satunya tadi dia memang mati tapi Allah hidupkan dia. Dan satunya dia tetap dalam kegelapan, tetap mati saja nggak mau hidup. Ini mati apa? Mati betulan?.. Bukan mati beneran ya dalam ayat. Bagaimana mungkin ia mati terus hidup kembali. Tapi yang dimaksud disini dihidupkan dengan ilmu agama dihidupkan dengan keimanan. Makanya inilah yang membedakan. Seorang mukmin dan mukminah dengan ilmu agama yang ia pelajari, dia hidup namanya. Kalau ia jauh dari ilmu agama jauh dari makna keimanan maka itu artinya dia tidak hidup walaupun dia berjalan bergerak. Karena itu, ini hakikat banyak tidak diketahui oleh Orang bahwa di tengah manusia ini ada mayat-mayat berjalan. Karena mereka tidak mengenal dari ilmu yang dengannya menghidupkan memberikan kehidupan kepada mereka.

Dan ilmu ini kekuatan, Sulton. Karena itu sulton dan hujjah dalam Al-Quran itu ditafsirkan oleh para ulama dengan hujah, dengan ilmu. Kekuatan yang sangat kuat mengajak seorang hamba kepada kebaikan. Karena itu tak perlu ia khawatir, dia dengan ilmu agama yang dia pelajari, sepanjang ia sibuk dengan ilmu dia memiliki kekuatan tersendiri, tak perlu khawatir terhadap makar musuh, hasad Orang-Orang yang hasad, terhadap ucapan-ucapan manusia yang tidak menyenanginya. Sebab dia sendiri dengan ilmu agama yang dia pelajari dia memiliki sulton/kekuasan dan terkadang kekuasaan ini lebih berkuasa daripada kekuasaan dengan balatentara, persenjataan.

Perhatikan bagaimana kekuasaan ilmu, supaya kita mengambil pelajaran. Indahnya ilmu ini. Perhatikan dari kekuasaan ilmu. Kaum khawarij di masa Ali bin abi thalib Rodhiyallahu ‘anh telah diperangi oleh para sahabat, tapi kaum khawarij tidak surut, tidak ada yang rujuk sebab memang mereka diperangi cari mati memang. Mereka menganggap bahwa perang terhadap pemerintah mereka anggap ibadah. Ini dari kesesatan kaum khawarij sebab semuanya sepakat bahwa kaum khawarij ini tidak ada di barisan mereka seorangpun dari sahabat Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Maka dengan kekuatan bala tentara persenjataan tidak mempan kaum khawarij ini. Suatu hari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu meminta izin kepada Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu untuk mendatangi kampung kaum khawarij. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu ingin mendebat mereka. Dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu datang sendirian tanpa pengawal. Ibnu Abbas mendebat mereka. Beliau hanya membacAkan mereka tiga ayat dan satu hadits saja. Rujuk dari kaum khawarij empat ribu Orang. Disebagian riwayat dua ribu Orang. Perhatikan ya kekuatan ilmu. Dan ini yang harus dipahami. Kadang seorang ada masalah dalam kehidupannya antara dia dengan keluarganya, masyarakatnya banyak dari solusi permasalahan itu kalau dia belajar agama dia Akan temukan jalan keluarnya. Tapi banyak dari kita kadang berjelek sangka terhadap ilmu, kurang perhatian terhadapnya. Padahal ilmu ini ibadah yang paling afdol. Sepakat para ulama bahwa menuntut ilmu yang sifatnya sunnah itu lebih utama dari dia sholat malam, berjihad jihad yang sunnah. Karena kemanfaatan ilmu untuk diri seorang hamba dan untuk kaum Muslimin kemanfaatannya lebih luas dan lebih merata. Karena itu keseriusan menghadiri majelis ilmu, duduk di majelis ilmu ini adalah ibadah yang sangat agung, ibadah yang sangat besar nilainya. Karena itu mari kita kembangkan di dalam jiwa kita diri kita selalu kita tanamkan pentingnya mempelajari ilmu agama, dan tidak ada kebaikan bagi Orang yang tidak mempelajari ilmu agama tersebut.

Ini Sebagian dari kemuliaan ilmu. Dan di sini syaikh menyebut dari empat masalah yang wajib dipelajari yang pertama adalah al ‘ilm ilmu, kemudian beliau menerangkan, “Wa huwa ma’rifatullah ma’rifatu Nabiyyihi, wa ma’rifatu diinil Islam bil adillah”. Ilmu yag dipelajari itu adalah 1. Mengenal Allah, 2. Mengenal Nabi-Nya,dan 3. Mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya.

Perhatikan ya, “Dengan Dalil-dalil” bukan dengan ucapan nenek moyang. Atau bukan dengan apa yang dia warisi dari leluhur, dari adat istiadat, dari kebiasaan. Harus dengan dalil. Karena itu siapa saja dari guru yang mengajar dia menyampaikan sesuatu, tanyakan dalilnya apa. Sebab itu adalah ilmu. Kalau memang ilmu pasti ada dalilnya. Dan di sini sisi pentingnya seseorang mengenal ilimu, apa yang merupakan ilmu agama dan apa yang bukan merupakan ilmu agama. Sekarang kita di kehidupan sekarang ini banyak Orang disebut ulama. Disebut berilmu. Ada ulama pandai menyanyi, ada ulama main sinetron, ada ulama main film, ada ulama pelawak semuanya disebut ulama akhirnya Orang berjelek sangka ilmu itu apa, siapa yang sebenarnya disebut ulama.

Ulama itu mudah sebenarnya untuk menilainya. Ulama itu adalah Orang yang mengenal agama dengan dalil-dalilnya, dengan dalil dari Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan dia memahaminya dengan pemahaman para sahabat dan yang mengikuti mereka dengan baik. Itulah ulama. Sifat mereka kelihatan, kalau mereka menerangkan ilmu pasti disampaikan dengan dalil-dalil dan para ulama ketika menyampaikan ilmu agama mereka tidak peduli manusia ridho atau tidak ridho sebab ilmu yang disampaikan tidak ada hubungannya dengan keridhoan manusia atau ketidakridhoan mereka.

Ilmu yang disampaikan itu terkait dengan keridhoan Allah. Itu adalah jalan yang diridhoi Allah, hal yang merupakan agama Allah itulah yang disampaikan oleh para ulama walaupun itu pahit diterima oleh sebagian Orang. Karena dimaklumi obat itu tidak semuanya manis, tidak semuanya enak untuk diminum obat. Karena itu ketika memberi obat kadang diberi obat pahit, kadang seorang diobati disuntik dia merasa sakit, dan itulah ilmu yang diberikan dia harus menyampaikannya harus tegas di dalamnya supaya bermanfaat bagi manusia karena itu para ulama ketika menyampaikan ilmu mereka tidak memandang manusia ridho atau tidak ridho, bukan itu yang mereka pandang. Yang mereka pandang adalah keridhoan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan ini ciri para ulama.

Karena itu kalau kita lihat sebagian Orang yang berdakwah keliatannya hanya mencari pengikut saja, kalau kamu bersama Saya kamu Orang yang Saya dekatkan, kamu Orang tidak mendukung Saya maka kamu Saya jauhkan. Ini bukan dari sifat Orang-Orang yang berilmu. Itu bukan dari urusan ilmu agama. Ilmu agama itu kaitannya dia menyampaikan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Seorang da’i hanya menyampaikan menyambung dan disampaikan dengan dalil-dalilnya, bukan membuat perkara sendiri hal-hal yang tidak pernah dilakukan oleh para Nabi dan para sahabatnya.

Kemudian yang kedua dari masalah yang wajib dipelajari kata penulis: “ats tsaaniyatu al ‘amalu bihi” yang kedua adalah beramal dengan ilmu. Jadi amalan itu tergantung pada ilmu yang dipelajari. Kalau pada apa yang diperintah ilmu itu bersifat wajib maka amalan juga bersifat wajib. Tapi kalau dia bersifat sunnah maka amalan juga bersifat sunnah.

Saya beri contoh ringkas, misalnya, sholat lima waktu hukumnya apa? hukumnya wajib untuk dikerjakan. Sholat rowatib hukumnya apa? hukumya sunnah. Jadi kalau Dikatakan semuanya wajib beramal maka makna kewajiban itu makna umum bahwa ilmu kalau dia dapatkan itu wajib untuk dia terima, diamalkan. Adapun wajib pada setiap amalan dia kerjakan pada setiap saat, ini amalan terbagi dua. Ada amalan bersifat wajib dan ada yang bersifat apa, bersifat sunnah.

Amalan adalah buah dari ilmu. Ada ilmu maka berbuahlah amalan. Karena itu amalan tidak Akan muncul kecuali dengan dibangun di atas ilmu. Jadi ibarat pohon, ilmu itu adalah akar pokok dari pohon tersebut. Sedangkan bebuahan dari pohon itulah amalan. Dan bukan hal yang masuk di dalam akal kalau seseorang ingin memetik buah sedangkan dia tak pernah menanam pohonnya. Dan pohon yang baik yang dicintai adalah pohon yang berbuah. Kalau dia punya ilmu tapi tidak beramal ini juga tidak ada manfaatnya. Karena Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengajarkan kepada kita doa yang agung, kita berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat. “Allahumma innii a’udzubika min ‘ilmin laa yanfa’ wa qolbin laa yakhsya’ wa nafsin la tasyba’ wa da’watin la yustajaabu laha”.

Ya Allah Saya berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat dari hati yang tidak khusyu’ dan dari jiwa yang tidak pernah kenyang. Dan Saya berlindung pada-Mu Ya Allah dari doa yang tidak dikabulkan.

Maka kita berlindung dari empat hal tersebut, dan seorang hamba hendaknya selalu mengingat bahwa amalan sholih ini Akan menambah kebaikan dan kebaikan untuknya. Tiap kali ia berbuah amalan maka Akan ditambah untuknya petunjuk yang lain. Karena itu kata para ‘ulama: “man ‘amila bimaa ‘alim ‘allamahuLLahu ‘ilman lam yakun ya’lamuh” Siapa yang beramal dengan ilmu yang ia ketahui maka Allah Akan mengajarkan untuknya ilmu yang sebelumnya ia tidak tahu.

Jadi pengamalan dengan ilmu ini adalah sebab yang menyebabkan kita mendapatkan tambahan ilmu. Karena itu kadang ada sebagian penuntut ilmu yang biasa menghadiri majelis-majelis taklim bertanya: “Kenapa Saya sudah setahun, empat tahun belajar menghadiri majelis taklim, tapi yang Saya ketahui itu-itu saja?” Maka jawabannya mungkin dari sisi amalan belum semuanya dia amalkan. Sebab kalau dia mengamalkannya dia Akan dimudahkan lagi kepada ilmu yang lainnya. Allah telah berfirman di dalam Al-Quran: “Walaw annahum fa’alu ma yuu’azhuuna bihi lakaana khoirollahum wa asyadda tatsbiita. Wa idzan la-aatainaahum min ladunnaa ajron ‘azhiimaa wa lahadainaahum shiroothon mustaqiimaa“. Andai kata mereka itu mengerjakan apa yang diperintah kepada mereka, andaikata mereka beramal dengan ilmu yang mereka pelajari maka itu yang terbaik untuk Mereka. Dan itu yang paling mengokohkan paling menguatkan kedudukannya. Kalau dia beramal maka kami Akan berikan untuknya pahala yang sangat besar dari sisi kami. Ditambah lagi kami berikan untuknya hidayah menuju kepada jalan yang lurus. Berlipat-lipat kebaikan mereka yang beramal. karena itu seseorang yang berilmu adalah dia beramal dengan ilmunya.

Kata Fudhoil Bin ‘Iyadh rohimahullah. “Laa yazaalu ‘aalimu jaahilan hatta ya’mala bi ‘ilmih. Fa idza ‘amila bihi kaana ‘aliman” Seorang yang berilmu Akan tetap dihitung sebagai Orang jahil kecuali kalau dia beramal dengan ilmunya. Apabila dia beramal dengan ilmunya barulah dia menjadi seorang alim. Karena itu dari pertanyaan yang ditanyakan di hari kiamat, salah satu dari empat perkara yang wajib kita pertanggungjawabkan sebelum kedua kaki bergerak pada hari kiamat Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjelaskan: “Laa tazuulu qodama ‘abdin yaumal qiyaamah hattaa yus-ala ‘an arba’” Tidak Akan bergerak dua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia menjawab empat pertanyaan. Pertanyaan yang pertama adalah “‘an ‘umrihi fiimaa afnaah” Tentang umurnya di mana dia habiskan. Pertanyaan yang kedua “‘an ‘ilmihi fiima ‘amil (fiima fa’al)” Tentang ilmunya dimana/bagaimana dia beramal dengan ilmu itu. Pertanyaan ketiga, “‘an maalihi min ainaktasabahu wa fiima anfaqohu” Tentang harta ini ada dua sudut pertanyaan (1) Dari mana dia dapatkan, (dua) dan kemana dia belanjakan ke mana dia habiskan. Dan pertanyaan keempat “‘an jismihi fiima ablaah” Tentang jasadnya di mana dia usangkan. Jasadnya dulu masih muda, masih kuat setelah itu berubah menjadi keriput menjadi tua menjadi lemah ini semuanya ada pertanyaannya dan kita harus mempersiapkan jawabannya. Sebab apa, Allah Subhanahu Wa Ta’ala Akan bertanya langsung tidak ada perantara antara kita dan antara Allah dalam perkara ini. Maka harus ada amalan terhadap ilmu itu.

Oleh karena itu kata ibn Ruslan rohimahullah. di dalam az-Zabad “Wa ‘alimun bi’ilimihi lam ya’malan mu’adzdzabun min qobli ‘ubbaadi watsan” Seorang alim yang tidak beramal dengan ilmunya dia Akan disiksa sebelum penyembah berhala disiksa. Karena itu disebut di dalam hadits Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam, ada tiga Orang yang paling pertama dipanggang di dalam api neraka, salah satunya adalah Orang yang mempelajari ilmu hanya supaya Orang-Orang mengatakan dia ini alim, dia tidak beramal dengan ilmunya tersebut. Maka ini kewajiban yang kedua bagi seorang hamba adalah dia beramal dengan ilmu yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala anugerahkan untuknya.

Kemudian kewajiban yang ketiga kata syaikh “Ats-Tsaalitsatu ad-da’watu ilaih” Kewajiban yang ketiga adalah berdakwah kepada ilmu tersebut. Setelah dia berilmu dia beramal maka dia mendakwahkannya mengajak manusia kepadanya. Sebab dakwah di jalan Allah itu jalan para Nabi dan Rasul. “Qul hadzihi sabilii ad’u ilAllahi ‘alaa bashiroh ana wa manittaba’ani wa subhaanAllah wa maa ana minal musyrikin” Katakan wahai Nabi Muhammad sesungguhnya ini adalah jalanku Saya berdakwah kepada Allah di atas jalan ini, sesuai dengan petunjuk. Saya dan bersama Orang-Orang yang mengikutiku.

Jadi Nabi dan pengikut Nabi tugas mereka adalah berdakwah, kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman “Wa man ahsanu qoulan minman da’a ilAllahi wa ‘amila shooliha wa qoola innanii minal Muslimin” Tidak ada yang lebih baik ucapannya dari Orang yang berdakwah kepada Allah dan beramal sholih serta ia berkata Sesungguhnya Saya termasuk Orang-Orang yang berserah diri. Maka dakwah di jalan Allah ini ucapan yang paling baik tidak ada yang lebih baik dari itu. Karena itu, ini di antara hal yang mesti kita ketahui dari kewajiban yang perlu diingat, karena banyak dari kaum Muslimin tatkala mereka tidak berada di atas jalan yang lurus, keluar dari tuntunan agama mereka kadang karena hawa nafsu kadang karena kejahilan maka perlu ada Orang-Orang yang mengajak mereka perlu ada para da’i yang mengembalikan mereka. Di sinilah sisi pentingnya berdakwah di jalan Allah. Karena itu siapa yang menunjukkan satu kebaikan maka dia juga Akan mendapatkan pahala kebaikan itu seperti Orang yang mengamalkannya.

Sekarang misalnya seorang dia berada di rumahnya diam mengajak tetangganya ada pengajian di Mesjid sana, tetangganya datang, mendapat manfaat maka setiap manfaat yang diambil oleh tetangganya ini dia juga dapat pahalanya, karena apa, karena dia yang menunjukkan kepada kebaikan tersebut. Ini Ringan ya, pahala ini tidak ada modalnya ini perniagaan paling besar. Keuntungannya sangat besar tanpa modal. Hanya sekadar ia mengajak saja menunjukkan suatu kebaikan. Karena itu Nabi Bersabda: “man dalla ‘ala khoirin falahu ajr ka-ajri faa’ilihi” Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan maka dia Akan mendapatkan pahala seperti Orang yang melakukannya.

Dan Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda dalam hadits riwayat Bukhori dan Muslim: “layahdiyAllahu bika rojulan wahidan khoirun laka min humurin na’am” Andaikata Allah memberi hidayah kepada satu Orang disebabkan karena kamu. Jadi subhanAllah seorang mendapat hidayah mendapat petunjuk kita yang menjadi sebab apakah kita yang mengajaknya langsung kita yang menunjukkannya atau kita hadirkan dia kepada seorang guru yang bisa mengajarinya, kita menjadi sebab dia mendapat hidayah maka Rasulullah sebut: Itu lebih baik bagi dari unta-unta merah.

Unta-unta merah ini harta di ibaratkan harta yang paling berharganya di kalangan Orang arab. Kalau dibahasakan bebas satu Orang yang mendapat hidayah, kamu yang menjadi sebab, itu lebih baik daripada dunia dan seisinya. Ini pahala yang luar biasa ya. Kalau misalnya ada Orang yang ditawari “Kamu kerja, kerjanya ringan, hanya satu jam saja sehari, tapi gajinya 100 juta” Kira-kira ada yang tertarik? Saya kira semua Orang tertarik. Masya Allah kerjanya ringan cuma 1 jam saja, gajinya setiap hari 100 juta. Ini pahala berdakwah satu Orang dapat kebaikan pahalanya lebih bagus dari dunia dan seisinya. Dan kadang subhanAllah bisa dia tempuh dengan cara-cara yang sederhana. Dia mengajak, mengarahkan, kalau tidak dia beri buku, dia beri kaset, dia beri apa, ini semua dari jalan-jalan berdakwah. Maka ini dari hal yang diingatkan penulis disini.

Karena agama ini tatkala merata di tengah manusia, berada di hati-hati kaum Muslimin, itu lebih menciptakan kedamaian, itulah yang menciptakan kedamaian di dalam negeri. Maka harus ada bahu membahu tolong menolong di dalam menyampaikan agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tapi sekali lagi diperhatikan bahwa dakwah ini datang setelah berilmu dan beramal. Karena berdakwah di jalan Allah kalau namanya dakwah dia mengajak itu harus dibangun di atas ilmu. Bukan hanya mengajak saja. Sekarang ini banyak Orang tertipu deng an retorika saja. “Wah ini si ustadz jago bicara, wah ini si ustadz retorika nya sangat memukau.” Tapi tidak ada ilmu yang ia dengar darinya hanya bicara saja tidak ada dalil dari Al-Quran dan hadits maka ini bukan dari ilmu. Karena itu sekali lagi dakwah harus didukung dan dibangun di atas ilmu agama.

Kemudian, kewajiban yang keempat, kata beliau: “Ar roobi’atu (masalah yang keempat wajib dipelajari adalah) ash shobru ‘ala adza fihi” Bersabar terhadap gangguan di dalamnya. Bersabar terhadap gangguan di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dalam berilmu dia perlu kesabaran, menuntut ilmu perlu sabar. Dan itulah ilmu agama, itulah kebaikan, harus ada kesabaran. Karena itu Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Huffatil jannatu bil makaarih” Surga itu diitari dengan hal-hal yang dipenuhi dengan perkara tidak menyenangkan. Dia mau sholat tepat lima waktu harus dia putus tidurnya. Padahal kadang dia sedang capek, pulas, harus dia putus tidurnya. Di musim dingin untuk sholat dia harus berwudhu padahal dingin airnya. Kadang ada hal-hal tidak menyenangkan, itulah surga memang diitari dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, perlu kesabaran untuk menjalankan ketaatan. Dan sebaliknya kata Nabi: “Wa huffatin naaru bis Syahawaat” Neraka itu diitari dengan hal-hal yang penuh dengan syahwat. Memang enak melakukannya, tergiur dia melakukannya, penuh syahwat dia terhadapnya, tapi ingat ini neraka. Maka seorang harus memiliki kesabaran yang menahan dia tidak mendekati maksiat, demikian pula jika dia tertimpa ujian cobaan musibah maka dia perlu bersabar terhadap ketentuan-ketentuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Maka kesabaran di dalam menuntut ilmu diperlukan di dalam menuntut ilmu. Allah berfirman: “Washbir nafsaka ma’alladziina yad’uuna robbahum bilghodaati wal ‘asyiyy” Sabarkanlah diri engkau bersama Orang yang beribadah kepada Rabbnya siang dan malam. Diperintah kita untuk bersabar bersama Orang-Orang yang beribadah kepada Rabbnya siang dan malam. Dan ini sifat yang seperti ini itu sifat Orang-Orang yang menuntut ilmu. Karena itu para sahabat Radhiyallahu ‘anhum mereka bersabar mendampingi Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Perhatikan itu ahlusshuffah dengan penuh kekurangan kadang kelaparan mereka sampai sebagian sahabat mengganjal perutnya dengan batu supaya laparnya tidak terlalu terasa untuk sekadar duduk dan bisa menghadiri dekat dengan Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Nah inilah semangat, jadi di samping memiliki semangat yang kuat perlu kesabaran, sebab kalau dia ingat manfaat dari ilmu itu sangat besar dan ilmu itu memang ketika dituntut awalnya kadang berat meletihkan, kadang seorang merendahkan dirinya, dia datang di majelis-majelis ilmu siap untuk duduk, dia dengarkan semua apa yang diucapkan oleh guru dan itu adalah kebaikan untuk dirinya sendiri. Karena itu kata para ulama: “Man lam yadzuq dzullat ta’allumi saa-‘atan tajarro-a ka-sal jahli thuula hayaatihi” Siapa yang tidak pernah mencicipi kehinaan dalam menuntut ilmu walaupun sesaat maka dia Akan menelan gelas kejahilan sepanjang dia hidup. Jadi kalau dia merasa berat, beratnya sesaat saja, manfaatnya Akan dia rasakan ke depan. Dan itulah ilmu, apabila seseorang sudah masuk dalam mempelajari ilmu agama, sudah dia kenal taman-taman surga itu terikat hatinya dengannya, maka dia tidak akan mengunggulkan suatu apa pun di atas ilmu. Ilmu yang akan menjadi titik ukurnya. Karena itu para ulama Rohimahullah, mereka mulia dengan ilmu agama. Orang-Orang yang berilmu tidak perlu kepada kursi-kursi. Kepada kedudukan. Kepada gemerlap dari dunia. Sebab ilmu yang mereka miliki itu adalah kekayaan yang paling kaya. Ilmu yang mereka miliki adalah kekuasaan. Untuk apa cari kekuasaan yang lain sedangkan mereka adalah Orang yang paling berkuasa. Untuk apa mencari kekayaan sedangkan ilmu itu adalah kekayaan.

Karena itu kata ‘Ali bin Abi Thalib Rodhiyallahu ‘anh : “Al ‘ilmu khoirun minal maal” Ilmu itu lebih baik dari harta. Dan ini kalimat indah dari Ali bin ‘Abi Thalib disyarah oleh Ibnul Qoyyim beliau sebutkan puluhan sisi keutamaan ilmu di atas harta. Ilmu itu menjaga pemiliknya, kalau harta tidak. Siapa yang menjaga harta? Pemiliknya yang menjaga harta. Pusing dia mengurus hartanya. Tapi kalau ilmu, ilmu yang menjaga dia. Tatkala dia lupa, diingatkan oleh ilmunya. Dia jatuh dalam kekeliruan, ditegur. Dia bersedih ada yang menghiburnya. Dia dalam keadaan sendiri ada yang menenangkannya. Gundah gulana ada yang menghilangkan gundahnya. Ditimpa kesedihan ada yang membesarkan jiwanya. Demikianlah ilmu itu. Maka hendaknya dipahami bahwa harus ada semangat yang kuat, harus ada kesabaran di dalam menuntut ilmu. Begitu juga dengan beramal, beramal dengan ilmu perlu kepada kesabaran, mengamalkan apa yang diperintah, kontinu terhadap amalan, maka diambil dari amalan dia tegakkan amalan-amalan yang wajibnya. Kalau dia ingin tambah dari amalan yang sunnah maka diambil dari amalan yang sunnah walau sedikit tapi dia bisa kontinu di atasnya. Itu yang bagus, kontinu walau sedikit.

Karena Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Ahabbul a’maali ilAllahi ma dawama ‘alaihi shohibuhu wa in qolla” Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah apa yang pelakunya itu kontinu di dalam melakukannya walaupun sedikit amalan itu.

Demikian pula di dalam berdakwah ini perlu kesabaran di dalam mengajak manusia. Jangan dia berkata “Saya sudah ajak Saya sudah dakwahi sudah berulang kali berseru tapi memang dasar dia pembangkang dasar kepala tidak mau mendengar”. Tidak seperti itu tapi sorang da’i itu punya semangat, punya harapan, tidak putus asa, seorang dai itu berjiwa besar sebab dia berdakwah bukan kepada dirinya, berdakwah kepada Allah. Dan seorang yang berdakwah kepada Allah beda dengan berdakwah kepada diri. Kalau dia berdakwah kepada dirinya ada kesan mungkin, tapi kalau dia berdakwah kepada Allah ini jalan Allah Subhanahu wa ta’ala. Karena itu Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus seorang sahabat mendatangi pendeta nasrani maka sahabat ini datang kepada si pendeta menyampaikan pesan Nabi mengajak dia masuk ke dalam Islam kata si pendeta: “Tuhan kamu itu terbuat dari apa? Apa dia terbuat dari tembaga? dari perak?” Bayangkan bukannya menerima malah mengolok-olok. Maka si utusan kembali kepada Nabi. Kata Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam: “Kembali lagi kamu kepada dia.” Kembali lagi utusan tersebut untuk kedua kalinya. Kembali si pendeta mengulangi ucapannya. Maka balik lagi utusan ini kepada Nabi. Apakah Nabi berkata “Sudah kalau begitu, ni orang memang keras kepala”. Tidak tetapi beliau katakan: “Kembali lagi kepadanya”. Kembali dia ucap dia ulangi. Terus utusan kembali. Kemudian Nabi berkata: “Kembali lagi kamu kepadanya”. Dia tetap mengulanginya. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala mengirim petir membakar mati orang tersebut.

Itulah di antara tafsiran di dalam ayat di surat Ar-Ra’d tentang orang-orang yang keras kepala. Tapi dilihat dari sini bagaimana semangat Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam manusia mendapat hidayah. Beliau diusir dari Thaif dalam keadaan meneteskan darah beliau menyeka darah dari kepala beliau, datang malaikat penjaga gunung beserta Jibril. Jibril berkata “Ya Rasulullah ini Malaikat Penjaga Gunung Allah telah memerintah kepadanya, kamu perintah apa saja dia Akan melakukannya” Maka Malaikat Penjaga Gunung berkata, “Wahai Nabi Muhammad Kalau kamu ingin Saya Akan balik dua gunung ini menimpa penduduk Thaif”. Apa jawaban Nabi kita Shollallahu ‘alaihi wa sallam, “Saya mengharapkan keluar dari keturunan mereka orang-orang yang beribadah kepada Allah”. Ini semangat di dalam berdakwah. Kalau mereka menyimpang menentang diharapkan datang dari keturunan orang-orang yang beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka ini akhlak yang hendaknya dijaga dan diperhatikan. Jadi perlu Kesabaran. Maka ini empat ilmu yang Dikatakan oleh penulis WAJIB untuk dipelajari. Sisi-sisi kewajibannya jelas. Sebab orang yang tidak memahami empat masalah ini Akan kurang di dalam memahami agama.

Setelah syaikh rohimahullah membawakan bahwa kita wajib mempelajari empat masalah, yang pertama adalah mempelajari ilmu dan ilmu itu beliau tafsirkan Mengenal Allah, Mengenal Nabi Nya, Mengenal agama Islam dengan dalil. Kemudian masalah kedua yang wajib dipelajari adalah Beramal dengan ilmu. Kemudian masalah ketiga berdakwah di jalan Allah. Yang keempat bersabar. Setelah menguraikan empat hal ini penulis mmbawAkan dalilnya. Kata beliau, “Wad daliilu Bismillahirrohmaanirrohiim wal ‘ashri innal insaana lafii khusrin illalladziina aamanuu wa ‘amilusshoolihaati wa tawaashou bilhaqqi wa t’awaashoubisshobr

“Demi waktu ashar” dan boleh juga Dikatakan “Demi Masa”. Sesungguhnya manusia benar-benar di dalam kerugian. Perhatikan ya ayat ini luar biasa kerugiannya, sebab wal ‘ashri itu sumpah, demi masa. Sumpah ini sudah penekanan, kalau Saya katakan misalnya: “Ini air”. Ini pernyataan. Tapi kalau Saya katakan “Demi Allah ini adalah air”. Ini adalah penegasan untuk pernyataan tersebut. Faidah dari sumpah. Iini sudah sumpah di depannya. Terus Dikatakan “Innal insaana” Sungguh manusia. Perhatikan ada kalimat sungguh. Kalau Saya katakan “Ini air” ini pernyataan biasa. Tapi kalau Saya katakan “Sesungguhnya ini air”. Ini penekanan atau tidak? Penekanan. Baik, ini sudah dua penekanannya dalam ayat. Innal insaana LAFII KHUSRIN. Ini penekanan yang ketiga. Pakai “Lam” lagi disini. Kalau Saya terjemah bebas bahasa indonesia “Betul-betul dalam kerugian”. Jadi tiga penekanannya: Sumpah, Demi Masa Kemudian setelahnya ditekankan Sungguh Manusia, Benar-benaar dalam kerugian. Allah bersumpah bahwa semuanya yang namanya jenis manusia semuanya merugi. Kecuali empat golongan yang diperkecualikan di dalam ayat. Inilah empat ini yang kata syaikh wajib dipelajari. Sebab inilah golongan yang beruntung. Karena itu sisi pendalilan beliau sangat kuat tentang wajibnya mempelajari empat hal ini.

Apa empat hal ini? Illalladziina aamanu, kecuali orang yang beriman, artinya keimanan itu adalah keyakinan pembenaran dan seorang tidak mungkin meyakin tidak mungkin membenarkan kalau dia tidak mengetahui tidak berilmu karena itu banyak dari ulama menafsirkan illalladziina aamanuu dia tafsirkan dengan keilmuan.

Golongan yang kedua, wa ‘aamilusshoolihaat dan dia beramal sholih. Dan amalan yang sholih itu adalah amalan yang tekumpul padanya tiga syarat. Ini kaidah untuk mengukur amalan sholih. Sebab sebagian orang beramal saja dia tidak tahu ini sholih saja. Ada orang beramal A dia juga beramal A. Ada orang beramal B dia juga beramal B. Maka seorang wajib mengetahui apa itu amalan sholih. Amalan sholih adalah amalan yang memenuhi tiga syarat. Syarat yang pertama pelaku amalan adalah orang yang bertauhid kepada Allah. Dia harus seorang Muslim yang bertauhid. Karena itu orang kafir tidak diterima amalannya. Seorang musyrik tidak diterima amalannya.

Kemudian syarat yang kedua, dia harus ikhlas dalam amalan itu, hanya mengharap wajah Allah Subhanahu wa ta’ala, pahala dari Allah. Kemudian syarat yang ketiga dari amalan shalih, amalan tersebut harus dibangun di atas tuntunan Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam sebab kalau dia beramal tidak ada tuntunan nya itu bukan amalan sholih. Nabi bersabda: Man ‘amila amalan laisa alaihi amruna fahuwa roddun. Siapa beramal dengan amalan tidak dibangun di atas tuntunan kami maka amalan itu adalah amalan yang tertolak. maka ini tiga syarat sebuah amalan Dikatakan sebagai amalan yang sholih.

Golongan yang ketiga, “wa tawaashou bilhaqqi”. Saling berwasiat dengan kebenaran. Yang keempat, wa tawaashou bisshobr, saling berwasiat dengan kesabaran. Dan perhatikan ayat menggunakan kalimat tawaashou saling berwasiat menunjukkan bahwa wasiat ini perlu untuk selalu diulangi-diulangi. Karena itu mempelajari ilmu agama itu harusnya menjadi proyek di dalam umur kita. Jangan kenal proyek dunia saja. Karena itu dalam Al-Quran Dikatakan hal adullukum ‘alaa tijaarotin tunjiikum min adzaabin aliim. Inginkah kalian Saya tunjukkan sebuah perniagaan yang menyelamatkan kalian dari siksa yang pedih. Nah ini baru perniagaan hebat. Perniagaan dunia apapun bentuknya belum tentu menyelamatkan kita dari siksaan api neraka. Tapi ini perniagaan yang pasti menyelamatkan. Nah itulah keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya, berjihad di jalan Allah. Dan berjihad dengan makna umumnya itu mencakup empat perkara ini. Berjihad di dalam mempelajari ilmu, berjihad di dalam mengamalkannya, berjihad didalam mendakwahkannya, dan berjihad dalam bersabar.

Inilah perniagaan yang paling menguntungkan. Makanya menghadiri majelis ilmu ini harusnya dijadikan sebagai tugas kehidupan, proyek di dalam umur kita. Sepanjang kita hidup maka seorang terikat dengan ilmu agama. Karena itu Imam Ahmad suatu hari dilihat Imam Ahmad rohimahullah masih saja bawa pulpen untuk menulis, tinta masih saja mengotori baju beliau. Dikatakan kepada Imam Ahmad, “Wahai Imam Ahmad..” dan beliau sudah tua, dimaklumi ya Imam Ahmad keilmuannya, semua orang tahu ribuan hadits bahkan puluhan ribu hadits, ratusan ribu hadits yang beliau hafal, dimasa beliau sudah tua masih saja beliau menulis. Dikatakan “Wahai Imam Ahmad sampai kapan engkau bersama tinta-tinta itu?” maka beliau berucap kalimat yang indah itu menjadi populer di kalangan ulama,”ma’al mahbaroh ilal maqbaroh” bersama tinta sampai ke kuburan. Pernah ditanyakan kepada sebagian ulama, “Di umur berapa tahunkah seorang itu masih layak menuntut ilmu?” Maka si alim ini menjawab “Sepanjang dia masih hidup dia masih layak menuntut ilmu” Sebab ilmu itu adalah ibadah. Seorang mengulangnya membacanya itu adalah ibadah. Maka harus dipahami betapa indahnya seorang mempelajari ilmu ini.

Seteleh menyebutkan ayat syaikh di sini menyebutkan ucapan Imam Asy Syafi’i: “Qola asy Syafi’i rohimahullah lau maa anzalallaahu hujjatan ‘ala kholqihi illaa hadzihis suuroh lakafathum” berkata Imam Syafi’i rohimahullah “Andaikata Allah tidak menurunkan hujjah terhadap makhluknya kecuali surat ini, maka surat ini sudah mencukupi mereka”

Jadi maksud Imam Syafi’i di sini adalah bahwa surat ini walaupun dia ringkas tapi dia adalah suah yang mengumpulkan segala kebaikan untuk hamba. Karena itu andaikata hanya surat ini yang diturunkan saja kata Imam Syafi’i maka itu sudah cukup bagi mereka untuk kebaikan-kebaiakn mereka.

Kemudian beliau katakan disini: “Wa qoolAl-Bukhoriyyu rohimahullahu ta’ala” Berkata Al-Bukhori rahimahullah “Baabul ‘ilmi qoblal qouli wal ‘amal” Bab seorang itu memulai dengan ilmu sebelum berucap dan beramal. Jadi sebelum dia berucap sebelum dia beramal dia harus punya ilmu dulu. Tidak boleh dia menyampaikan sesuatu kecuali dengan di atas ilmu. dan tidak boleh dia mengamalkan sesuatu apapun kecuali dibangun diatas dasar ilmu. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala “Fa’lam annahu laailaaha illAllah wastaghfir lidzanbika” Ketahuilah bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, lalu mohon ampunlah engkau terhadap dosa-dosamu. Kata Al-Bukhori “fa bada-a bil ‘ilmi qoblal qouli wal ‘amal” Maka beliaupun memulai dengan ilmu sebelum berucap dan beramal. Jadi ayat ini, fa’lam ketahuilah ini perintah, artinya ilmuilah. Annahu laailaaha illAllah bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah. Setelah memiliki ilmu baru datang amalan, wastaghfir lidzanbik mohon ampunlah atas dosa-dosamu. Maka harus mulai dengan ilmu sebelum beramal. Ini sisi pendalilan Imam Bukhori rohimahullah Dan disini ditekankan oleh penulis, kewajiban seorang itu memulai dengan ilmu sebelum berucap dan beramal sebab ini dari musibah yang banyak menimpa manusia banyak orang di masa ini Masya Allah berucap tentang agama bergampangan, dianggap bahwa berbicara tentang agama ini adalah perkara sepele, perkara biasa walaupun dia tidak tahu tentang agama, dia senang juga berbicara. Dan ini timbangan-timbangan yang rusak di kalangan manusia, coba kalau tanya di tengah manusia: Ada insinyur pertanian kemudian dia kasih resep bedah tulang. Jadi seorang datang ke insinyur pertanian kemudian mengeluhkan tentang tulangnya maka insinyur pertanian ini memberi resep untuk penyakit tulangnya. Kira-kira diterima atau tidak ini? Akan marah orang-orang kedokteran itu! Apa hubungannya pertanian dengan kedokteran? Kan begitu.. Insinyur teknik sipil, ahli bangunan, tapi dia berbicara tentang penyakit jantung. Akan marah nanti, mungkin Akan didemo nanti oleh dokter-dokter di Harapan Kita sana (ed: Nama rumah sakit spesialis jantung di Jakarta). Jelas ya.

Ini sudah dimaklumi di tengah manusia orang yang bukan ahlinya tidak boleh bicara kepada ilmu yang dia tidak ketahui. Tapi kalau ilmu agama semuanya mau bicara walaupun dia bukan ahlinya. Siapapun berbicara tentangnya seenaknya saja. Ini Subhanallah meremehkan dan tidak mengagungkan Allah Subhanahu wa ta’ala. Kalau mereka mengagungkan Allah tidak boleh seseorang berbicara tentang agama Allah kecuali dengan dalil. Allah mengingatkan: “Wa laa taqfu maa laisa laka bihi ‘ilm. Innassam’a wal bashoro wal fuaad. Kullu ulaaika kaana ‘anhu mas-uula” Jangan engkau berhenti di atas suatu perkara kamu tidak punya ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, mata hati semuanya akan dimintai pertanggung-jawaban”

Maka sekali lagi harus ada ilmu sebelum beramal. Selesai sudah pembahasan pendahuluan yang pertama. Jadi penulis sebelum masuk menguraikan bagaimana menjawab tiga pertanyaan malaikat di dalam qubur, beliau berikan beberapa pendahuluan. Kita sebutkan tiga pendahuluan ya. Ini baru kita selesai pendahuluan yang pertama.

Sekarang pendahuluan yang kedua. Kata beliau “i’lam rohimakallah” ketahuilah semoga Allah merahmati mu. “Annahu yajibu ‘ala kulli Muslimin wa Muslimatin ta’allumu tsalaatsi hadzihil masaail wal ‘amalu bihinna” Ketahuilah semoga Allah merahmatimu sesungguhnya wajib atas setiap Muslim dan Muslimah untuk mempelajari tiga masalah ini dan beramal dengannya. Ini tiga pembahasan penulis berkaitan dengan Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Berkaitan dengan al Wala wal Baro’ (Loyalitas, kecintaan dan kebencian). Ini tiga perkara wajib dipahami oleh setiap Muslim dan Muslimah.

Mari kita lihat pembahasan-pembahasan penulis dari tiga hal ini. Kta beliau: yang pertama, kita wajib mengetahui bahwa Allah menciptakan kita, dan memberikan rezeki kepada kita dan tidak meninggalkan kita sia-sia, bahkan dikirim kepada kita seorang Rasul. Siapa yang taat kepada Rasul ini dia Akan masuk surga, dan siapa yang bermaksiat kepadanya dia masuk neraka. Dalam masalah yang pertama ini penulis menerangkan tentang Tauhid Rububiyyah kewajiban seorang hamba mengenal bahwa Allah yang menciptakannya memberikan rezeki, tapi perlu dia ketahui bahwa dia dicipta bukan sia-sia. “Afahasibtum annamaa kholaqnaakum ‘abatsa wa annakum ilainaa laa turja-‘uun” Allah berfirman, Apakah kalian menyangka kami menciptakan kalian sia-sia, dan kalian semua tidak Akan kembali kepada kami. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: “Ayahsabul insaanu an yutroka sudaa” apakah manusia itu mengira bahwa dia akan dibiarkan saja sudah tidak diperintah tidak dilarang. Manusia ini dicipta ada urusannya, ada hakikat penciptaan. Sebab kita semua makhluk dan makhluk tunduk kepada yang menciptakannya. Orang yang tidak ada kerjaanya itu kalau dia yang mencipta. Dia penguasa barulah tidak ada pekerjaan. Tapi kita ini adalah dicipta kita adalah makhluk. Karena itu dari hal yang menggugah hati sohabat Jubair bin Muth’im Radhiyallahu ‘anhu sehingga dia masuk Islam di sholat maghrib dia mendengar Nabi mengImami manusia, beliau membaca Surat At-Thur. Maka di antara ayat yang dia dengar, dan ketika Jubair bin Muth’im Radhiyallahu ‘anhu mendengar ayat ini kata Jubair bin Muth’im Radhiyallahu ‘anhu “Seakan-akan jiwa ku ini mau melayang mendengarkannya” Dia mendengar ayat “Am khuliquu min ghoiri sya-in am humul khooliqun” Apakah mereka ini dicipta begitu saja tanpa ada maksud, atau mereka yang mencipta. Jadi ini subhanallah menggetarkan hati jubair bin muth’im Radhiyallahu ‘anhu , sebab manusia pilih salah satu dari dua ini, kalau dia merasa dirinya tidak ada aturan, tidak ada syariat yang mengikatnya maka itu artinya dia mencipta. Kalau dia katakan dirinya mencipta, ini adalah kekonyolan yang luar biasa. Dia tidak bisa mencipta matahari, tidak bisa mencipta bulan. Tidak bisa dia katakan dirinya mencipta. Keluarganya semuanya mati tidak bisa menahannya. Dia sendiri mati tidak bisa menolak kematian itu darinya. Karena itu semua orang paham, semua orang yang berakal mengetahui kalau dirinya bukan pencipta. Kalau dirinya bukan pencipta berarti hanya ada kemungkinan yang kedua, dia dicipta dan yang menciptakannya memiliki maksud dalam penciptaannya. Karena itu kita semua adalah hamba-hamba Allah, ciptaan-ciptaan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dan ada maksud di dalam penciptaan kita ini. Ada maksud yang utama di dalam penciptaan kita. kita dicipta oleh Allah Subhanahu wa ta’ala semuanya ada maksudnya, karena itu kata penulis “Bal arsala ilaina rosulan” Bahkan Allah mengutus kepada kita seorang Rasul. Subhanallah Rasul diutus kepada kita menerangkan segala jalan kebaikan menerangkan semua jalan yang membahayakan, karena luas biasa agama kita , Agama Islam ini tidak hanya mengajarkan jalan yang baik saja, bahkan agama menerangkan jalan yang bagus untuk diikuti sekaligus menerangkan jalan yang sesat supaya dihindari. Dan ini kelengkapan agama dan kesempurnaannya. Allah berfirman “Al yauma akmaltu lakum dinakum wa atmamtu ‘alaikum ni’mati wa rodhitu lakumul Islama dina” pada hari ini telah kusempurnakan agama kalian untuk kalian dan telah kucukupkan nikmatku atas kalian dan telah kuridhoi Islam sebagai agama kalian.

Agama telah sempurna dan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “innahu lam yakun Nabiyyun qobli illa haqqon ‘alaihi an yadulla ummatahu ‘ala khoiri ma ya’lamuhu lahum wa yundzirohum ‘ala syarri ma ya’lamuhu lahum” Tidak ada Nabipun sebelumku kecuali atas Nabi tersebut untuk menjelaskan segala kebaikan yang dia ketahui bagi umatnya. Dan wajib atas Nabi tersebut menjelaskan segala kejelekan yang dia ketahui bagi umatnya. Luar biasa. Rasulullah diutus kepada kita menerangkan segala hal. “Maa farrothna fil kitaabi min syai-i” Kami tidak pernah mengalpakan sesuatu apapun penyebutannya di dalam Al-Quran. Pasti diterangkan dalam Al-Quran. Dan Rasulullah bersabda “laqod taroktukum ‘ala baidho lailuha kanahariha, la yazighu ‘anha ba’di illaa haalik” Sungguh Saya telah meninggalkan kalian di atas suatu petunjuk yang sangat putih, malamnya sama dengan siangnya tidak ada yang menyimpang darinya kecuali binasa.

Maka syariat telah sempurna, Al-Quran lengkap tuntunannya memberi hidayah. “Inna hadzal qurana yahdi lillati hiya aqwam“. Sesungguhnya Al-Quran ini memberi hidayah kepada jalan yang paling aqwam, paling kuat. Jadi kita tidak ditinggal begitu saja, dicipta kemudian ditinggalkan bersenang-senang makan minum menikah seperti hewan ternak, Tidak ditinggalkan kita seperti itu bahkan kita adalah manusia dimuliakan oleh Allah diberi akal supaya bisa memahami, diutus kepada kita seorang Rasul, diturunkan kepada kita Al-Quran, jalannya semuanya jelas. Oleh karena itu kata penulis “faman athoo-‘ahu dakholal jannah” siapa yang taat kepada Rasul dia akan masuk surga Dan siapa yang bermaksiat kepada Rasulullah dia masuk neraka. Apa dalilnya ? “waddalilu qouluhu ta’ala inna arsalnaaka ilaikum rosulan syahidan ‘alaikum kama arsalna ila fir’auna rosula. fa-‘asho firauan rosulan faakhodznahu akhdzan wabila” Sesungguhnya kami mengutus kepada kalian wahai manusia seorang Rasul sebagai saksi terhadap kalian. Sebagaimana kami telah mengutus kepada firaun seorang Rasul. Maka firaun mendustakan Rasul tersebut maka kamipun menyiksa firaun dengan siksaan yang sangat keras.

Perhatikan bahwa subhanallah Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam adalah titik keselamatan bagi seorang hamba. Kalau dia taat keadanya dia masuk surga, kalau dia bermaksiat kepadanya maka dia akan masuk neraka. Di dalam hadits yang lain Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kullu ummati yadkhuluunal jannah illa man aba” Setiap umatku masuk di dalam surga kecuali mereka yang tidak mau. Jadi setiap umatku kata Nabi masuk surga kecuali yang tidak mau. Siapa yang tidak mau? Perhatikan, siapa yang tidak mau? dikatakan semuanya masuk surga tapi ternyata ada yang tidak mau masuk surga. Kalau kita berpikir, ini orang yang tidak mau masuk surga betul-betul tidak ada akalnya, sudah ditawari masuk surga tapi dia tidak mau. Tapi yang menjadi masalah banyak dari kita kadang dia tidak mau masuk surga. Itu yang jadi masalah. Dan dia tidak mau bahwa keadaan dirinya tidak mau masuk surga. Karena itu Nabi terangkan siapa yang tidak mau masuk surga itu.Beliau ditaya: “wa man ya-‘ba ya rosulallah?” Beliau ditanya, siapakah yang tidak mau ya Rasulullah. Beliau menjawab: “Man atho-‘aniy dakholal jannah, wa man ‘ashooni dakholannaar” Siapa yang taat kepadaku dia masuk surga dan siapa yang bermaksiat kepada ku dia akan masuk ke dalam neraka.

Maka Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam kalau kita mengikutinya itu menyelamatkan kita. Karena itu Nabi pernah mengibaratkan bahwa beliau ini bagaikan orang yang memegang kuda-kuda kalian jangan sampai lepas, tapi mereka-mereka sendiri melepaskan diri mereka dari tangan Nabi sehingga mereka masuk ke dalam neraka. Karena itu ini kaidah penting diterangkan oleh penulis, diingatkan tentang Rububiyyah Allah, bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala satu-satuya yang mencipta menghidupkan memberi rizki dan seterusnya. Ini satu hal yang harus kita yakini. Tapi harus diketahui bahwa di belakang penciptaan ada sebuah makna yang agung. Kita tidak dicipta sia-sia. Kita ini dicipta untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala mengikuti agama Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang taat kepada Rasulullah dialah yang masuk surga, dan siapa yang bermaksiat kepadanya dia yang akan dimasukkan ke dalam neraka.

Baik selesai pembahasan yang pertama. Ingat ya di pendahuluan ini penulis menyebut tiga Masail yang wajib dipelajari. Ini masalah yang pertama.

Masalah kedua yang wajib dipelajari, kata beliau “Ats tsaniyatu annAllaha laa yardho anyusyroka ma’ahu fi ‘ibadatihi. Laa malakun muqorrobun wa laa Nabiyyun mursal“. Kata beliau sesungguhnya Allah tidak ridho dilakukan kesyirikan kepadanya di dalam ibadah. Ini perkara kedua yang wajib dipelajari. Bahwa Allah sangat tidak ridho ada yang mempersekutukannya dalam ibadah kepadanya. Allah tidak ridho dipersekutukan dengan malaikat yang didekatkan dan Allah juga tidak ridho dipersekutukan dengan Nabi yang diutus. Jadi di sini penulis menegaskan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala tidak ridho dilakukan kesyrikan kepadanya, dipersekutukan di dalam ibadah. Apakah itu dipersekutukan dengan seorang Nabi atau dipersekutukan dengan malaikat. Dan ini kaidah tetap yang harus dipegang. Bahwa Allah tidak ridho ada ibadah diserahkan kepada selain Allah. Siapapun selain Allah itu. Apakah dia Nabi, Rasul, malaikat, jin, manusia, bebatuan, pepohonan, matahari, bulan, bintang, siapapun selain Allah itu Allah tidak ridho ada ibadah diserahkan kepada selain Allah. Ini kaidah dasar wajib dipelajari. Apa dalilnya?

Kata penulis: “Wad dalillu qouluhu ta’ala wa annal masajida lilllaahi falaa tad’u ma’aLLaahi ahada” Dalilnya adalah firman Allah ta’ala sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah. Al-masaajid jamak dari masjid. Masjid itu ada dua penafsiran. Penafsiran yang pertama, mesjid tempat yang kita pakai sekarang ini, bangunan yang dipakai khusus untuk beribadah kepada Allah. Penafsiran yang kedua, masajid itu tempat-tempat sujud. Jadi dahi tambah hidung, dua telapak tangan, dua lutut dan dua ujung kaki yang dipakai bersujud, masjid-masjid semuanya milik Allah. Allah tegaskan “Jangan sekali-kali kalian beribadah kepada siapapun bersama dengan Allah Subhanahu wa ta’ala” maka ini penegasan yang sangat kuat sekali. Karena itu kesyirikan adalah dosa yang paling besar. “Innassyirka lazhulmun ‘azhim”. Kesyirikan dosa yang paling besar di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: “InnaLlaha laa yaghfiru an yusyroka bih wa yaghfiru maa duuna dzalika liman yasyaa

Allah tidak mengampui dosa kesyirikan dan mengampuni dosa selain itu bagi saiap yang Allah Subhanahu wa ta’ala kehendaki. Kesyirikan sama sekali tidak diampuni oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Jadi ini pokok yang hendaknya kita ketahui, bahwa Allah mencintai dari kita semua beribadah tulus kepada-Nya. Karena itu Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: “Qul inna sholaati wa nusuki wa mahyaya wa mamati liLlahi robbil ‘alamin laa syariikalahu wa bidzalika umirtu wa ana awwalul Muslimin” Katakan wahai Nabi Muhamad sampaikan kepada mereka sesungguhnya sholatku, sesembelihanku, hidup dan matiku hanya untuk Allah robbul ‘alamin tidak ada syarikat baginya. Demikian Saya diperintah dan Saya orang yang pertama berserah diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “InnaLlaha yardho lakum tsalaatsan wa yakrohu lakum tsalaatsan” Sesungguhnya Allah ridho terhadap kalian tiga perkara dan Allah benci terhadap kalian tiga perkara. “Fa yardho lakum an ta’buduhu wa laa tusyriku bihi syai-aa” Allah ridho kalian hanya beribadah kepadanya dan tidak berbuat kesyirikan kepada siapapun terhadap apapun bersama Allah Subhanahu wa ta’ala. Ini yang diridoi, ibadah hanya kepada Allah dan tidak berbuat kesyirikan dengan suatu apapun. Dan kedua yang diridhoi oleh Allah “Wa an ta’tashimu bihabliLlaahi jami’an wa laa tafarroqu” Allah ridho kalian itu semua berpegang dengan tali Allah dan tidak bercerai berai. “Wa an tunaashihu man wallahuLLahu amrokum” dan kalian menasihati siapa yang Allah jadikan sebagai pemimpin kalian. Kemudian Allah benci “wa yakrohu lakum qila wa qol” Allah benci kepada kalian “qila wa qol” dikatakan begini dan si anu berkata begitu. Ini adalah hal yang dibenci. Sebab ucapan dia yang tidak ada manfaatnya itu adalah perkara yang tidak dibernarkan dalam agama kita. Apalagi jika ucapan itu mengandung dosa, mengandung permusuhan. “Qul li ‘ibadii yaquulullati hiya ahsan. Innassyaithona yanzhighu bainahum“. Katakan kepada hamba-hambaku untuk berucap yang indah, syaiton memecah belah kalian.

Satu kalimat itu diucapkan seorang hamba kadang menjadi prahara untuknya. Karena itu kata Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam: “Innarrojul layatakallam bilkalimati laa yatabayyanu fiha, yazhillu biha ilannaar ab’ada ma bainal masyriq wal maghrib“. Sesungguhnya seoang lelaki kadang dia berbicara dengan satu kalimat dia tidak perjelas satu kalimat ini, tapi dia ucapkan, maka satu kalimat ini menyeret dia ke dalam neraka jauhnya antara timur dan barat”

Karena itu hati-hati di dalam qila wa qol, diucapkan begini diucapkan begitu.. Kalau sekarang, masya Allah, sudah menjadi dapur gosip, ada acara khusus memang ini acara-acara gosip seperti ini sudah merupakan jembatan syaithon menjatuhkan mereka ke dalam berbagai dosa dan kehancuran. Karena itu hati-hati prahara kalimat-kalimat ini.

Kemudian di antara yang Allah benci “wa idho’atal maal” Allah membenci kalian membuang-buang harta. Dan diantara yang Allah benci, “wa katsrotas suaal” terlalu banyak bertanya. Ini pertanyaan yang tidak ada manfaatnya. Sudah jelas dia tanya lagi. Atau perkara dia tidak ditanya di kehidupan akhirat, tidak ada manfaatnya untuk dirinya tapi dia juga menanyakannya. Ini namanya katsrotus su-al yang dilarang. Adapun kalau dia tanya perkara yang baik untuk agamanya hal yang berkaitan dengan ilmu, dia tanya dengan etika adab, bukan karena membangkang dan keras kepala ,maka yang seperti ini tidak masalah. Itu pertanyaan-pertanyaan yang bagus. Dan dari fiqih para sahabat mereka di kebanyakan riwayat hanya mendengar saja, ada pertanyaannya tapi tidak banyak. Karena itu dalam Al-Quran ayat-ayat yang menyebutkan “wa yas-aluunaka” dan mereka bertanya kepadamu, itu ndak lebih dari 10 ayat. Ini menunjukkan bahwa pertanyaan-pertanyaan para sahabat tidak banyak. Yang banyak di kalangan mereka adalah mendengar dan mengamalkan “Sami’na wa atho’na” tapi kita di masa ini, nasaluLLaah wal ‘afiyah, kalau ada sebuah masalah pasti ditanyakan. Jangankan dengar ayat dengar hadits, kadang dengar ayat saja dia tanya “apa maksud ayat ini”, atau “kenapa bisa seperti itu ayatnya” dan ini semuanya hal-hal yang menunjukkan sikap jauh dari makna keIslaman. Baik, ini masalah kedua, beliau ingin menegaskan Allah tidak ridho dengan perbuatan kesyrikan, dipersekutukan dengan siapa pun, ibadah untuk Allah ndak boleh Allah dipersekutukan dengan siapa pun. Tidak dengan malaikat tidak pula kepada Nabi. Jelas ya. Karena itu keliru orang yang berdoa kepada malaikat. Keliru pula orang yang datang ke Mesjid Nabawi dia berdoa kepada Nabi. Sebab ini dari perbuatan kesyirikan. Doa itu adalah ibadah, dan doa itu hanya diserahkan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Seseorang itu kalau ke Mesjid Nabawi hanya memberi salam saja kepada Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau dia ingin berdoa, berdoa menghadap ke kiblat menghadap kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, bukan menghadap ke kuburan Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian masalah yang ketiga, kata beliau: “Ats tsalitsatu anna man atho’a Rasulullah wa wahhadaLllaaha la yajuzu lahu muwallaatu man haa-ddaLlah wa rosulah wa lau kaana aqroba qoriibin” kata beliau sesungguhnya siapa yang taat kepada Rasul dan dia telah mentauhidkan Allah, dan pembahasna yang ketiga ini pembahasan disampaikan oleh penulis sebagai kelanjutan dari pembahasan yang pertama dan kedua tadi.

Yang pertama, kita ketahui bahwa diri kita tidak dicipta sia-sia, kita wajib taat kepada Rasul. Pembahasan yang kedua tidak boleh ada kesyirikan yang maknanya kita wajib mentauhidkan Allah. Kalau dia sudah taat kepada Rasul, sudah mentauhidkan Allah, harus diingat ada kewajiban yang ketiga, terikat. Tidak boleh dia memberikan loyalitas kepada siapa yang memusuhi Allah dan RasulNya. walaupun itu kerabatnya yang paling dekat. Karena itu harus diketahui keIslaman bukan cuma loyalitas saja. Bukan cuma kecintaan saja. KeIslaman itu juga harus da kebencian kepada kekafiran, kepada yang menyelisihi agama Islam. Itu baru Islam namanya. Karena itu dalam Al-Quran Allah memulai dalam sebagian ayat dengan berlepas diri dari kekufuran. Allah berfirman: “Laa ikrooha fiddiin. Qod tabayyanar rusydu minal ghoyyi. Fa man yakfur bitthoghuut wa yukmin biLlah faqodistamsaka bil’urwatil wutsqo” Siapa yang kafir kepada thoghut (segala yang diibadahi selain Allah) dan dia beriman kepada Allah maka dia telah berpegang dengan tali yang kuat. Perhatikan, tali yang kuat dimulai dengan KAFIR DULU KEPADA SELAIN ALLAH. baru beriman kepada Allah.

Jadi agama ini harus diketahui dibangun di atas dua hal. Loyalitas (al Wala) kepada Allah dan RasulNya dan al-Baro’ dia harus benci kepada kekafiran, kekufuran, kesyirikan dan kaum musyrikin dan orang-orang kafir. Ini harus ada di hati seorang Muslim, barulah dia dianggap sebagai Muslim. Dan di masa ini banyak kerancuan pemahaman, apalagi di isu-isu belakangan umat Islam disudutkan dengan tuduhan-tuduhan terorisme, nah tuduhan terorisme ini disusupkan di tengah umat Islam. Sebabnya ada dua faktor secara umum. Ada faktor internal, dan faktor external. Ada dari pihak luar yang menuduhkan ini ke umat Islam. Dan ada umat Islam yang keliru pemahamannya sesat jalannya dia gambar kan itu adalah jalan dari Islam padahal itu bukan dari Islam.

Maka dengan banyaknya isu-isu ini kadang aqidah yang kuat seperti ini diragukan. “wah, ini lihat si ustadz sana berkata tidak boleh cinta kepada orang kafir, harus benci kepada orang kafir. wah ini memang mereka menanamkan untuk selalu memerangi manusia, membuat keonaran” Dan di sini harus Saya pahamkan harus Saya dudukkan, apalagi belakangan ini kita menyaksikan orang-orang yang menyeru kepada persamaan agama, dianggap bahwa agama itu sama. Ada di Indonesia ini diistilahkan dengan tokoh-tokoh lintas agama, ada diistilahkan badan mendekatkan antar agama dan sebagainya. Maksud mereka apa, jangan dikesankan Islam ini seram, jangan dikesankan Islam ini kerjanya memusuhi saja. Ini orang-orang tidak paham agama, Karena itu dia campur adukkan antara keyakinan dan amalan.

Harus dipahami dari keyakinan seorang Muslim, seorang Muslim tidak boleh ada di hatinya keimanan dan kekafiran. Tidak boleh ada di dalam hatinya dia cinta kepada Allah dan RasulNya, cinta juga kepada orang kafir. Seorang Muslim dan Muslimah dalam hatinya hanya ada kecintaan kepada Allah dan taat kepada Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam. Loyalitas untuk kaum Muslimin dan kebencian kepada orang kafir. Berkaitan dengan toleransi, berkaitan dengan interaksi orang-orang kafir diatur dalam Islam. Karena itu ada syariat berbuat baik kepada tetangga walaupun dia kafir. Ada syariat dalam agama kita tidak boleh membunuhi orang kafir kalau terikat perjanjian. Bahkan Nabi bersabda “Man qotala mu’aahadan lam yaroh rooihatal jannah” Siapa yang membunuh kafir mu’ahad dia tidak mencium baunya surga.

Dan ada ketentuan tidak boleh membunuh kafir dzimmi. Maka ini semua ketentuan-ketentuan ada batasannya berbuat baik berbeda dengan loyalitas. Kita ada perintah berbuat baik kepada orang kafir kalau orang kafir ini tidak memerangi agama. Boleh berbuat baik. Tapi berbuat baik itu bukan loyalitas. Loyalitas (itu) kecintaan kecenderungan hal yang berkaitan dengan keyakinan. Adapun berbuat baik itu hanya berkaitan dengan perbuatan. Ini dibedakan antara dua hal. Tidak membedakan antara dua hal ini, inilah yang menyebabkan terjadinya kerancuan. Karena itu kalau kita katakan “Kita wajib benci kepada orang-orang kafir, benci kepada kekafiran, benci kepada kesyrikan dan kaum musyrikin” bukan artinya kita menghalalkan darah mereka, membolehkan untuk membunuh mereka, dan membolehkan untuk merampas harta mereka tanpa hak. Karena kafir itu ada empat macam dalam agama kita. Ada kafir dzimmi, ada kafir mu’ahad, ada kafir mustakmin. Ini tiga jenis kafir tidak boleh dibunuh menurut kesepakatan ulama tidak ada silang pendapat secara global. Selain dari tiga kafir ini namanya kafir harbi, kafir harbi inilah yang boleh diperangi. Dan mereka kalau ingin diperangi proses peperangannya melalui jalan jihad fi sabilillah. Jihad ini punya aturan-aturan ketentuan-ketentuan. Karena itu keliru kalau dia katakan “Kita berjihad kita perangi turis-turis asing yang masuk kita perangi kedutaan-kedutaan” itu bukan dari ajaran agama. Itu namanya perbuatan para pengkhianat. Sebab Rasulullah bersabda:”dzimmatul Muslimin waahidah, yas-‘a biha adnaahum” tanggung jawab kaum Muslimin satu, dijaga oleh semuanya. Dari lapisan paling bawah sampai lapisan paling atas. Semua orang kafir yang masuk ke negeri ini itu sudah melakukan suatu perjanjian dengan pemerintah bahwa siapa yang masuk ke negeri ini dilindungi, ini perjanjian harus dijaga sampai lapisan rakyat yang paling bawah pun wajib menjaganya sebagaimana hadits yang Saya baca tadi. Bahkan kalau ada rakyat indonesia diizinkan menjamin seorang masuk ke negeri, pemerintah wajib melindunginya, karena itu dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori dan Imam Muslim Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam didatangi oleh Ummu Hani. Ummu hani ini saudari dari Ali bin Abi Thalib, dia berkata “Ya Rasulullah Saya melindungi keluargaku si kafir fulan masuk ke Mekah sedangkan saudara Saya Ali bin Abi Thalib ingin membunuhnya.” Apa kata Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam: kata Nabi “qod ajarna ma ajarti ya Umma Hani” kami telah melindungi siapa yang kamu lindungi. Itulah syariat kita. Bukan berarti kita cinta kepada kafir diberi jaminan keamanan tapi ini kaitannya dengan menjaga amanah, menjaga janji, menjaga perjanjian. Dan umat Islam bukan pengkhianat, bukan orang-orang yang melanggar janji. Jadi dibedakan antara apa yang diterangkan penulis di sini, dengan apa yang berkaitan dengan maslaah sikap di dalam menyerangi orang-orang kufar, ini beda antara dua masalah. kata penulis siapa yang taat kepada Rasul dan dia mentauhidkan Allah, tidak boleh dia memberikan loyalitas kepada siapa yang memusuhi Allah dan RasulNya. Walaupun itu kerabatnya yang paling dekat. Sepanjang dia kafir, dia musyrik, tidak boleh memberikan loyalitas kepadanya. Tidak boleh memberi kecintaan kepadanya.

Apa dalilnya, kata beliau dalilnya: “Laa tajidu qouman yukminuna biLlahi wal yaumil akhir yuwaa-dduuna man haa-ddallaha wa rosulahu wa lau kaanu abaahum aw abnaa-ahum aw ikhwaanahum aw ‘asyiirotahum. Ulaa-ika kataba fii quluubihimul iimaana wa ayyadahum biruuhin minhu. Wa yudkhiluhum jannaatin tajrii min tahtihal anhaar kholidina fiha rodhiyallahu ‘anhum wa rodhu ‘anh. Ulaa-ika hizbullah. Alaa inna hizbaLlahi humul muflihun” Allah berfirman “Kamu tidak akan menemukan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat memberikan loyalitasnya kepada siapa yang memusuhi Allah dan RasulNya. Walaupun orang-orang kafir itu ayah-ayah mereka sendiri, anak-anak mereka sendiri, saudara-saudara mereka sendiri, keluarga mereka sendiri.”

Kemudian Allah sebutkan bagaimana konsekuensi dan kebaikan bagi orang yang mewujudkan aqidah al wala wal baro ini. “Mereka ini adalah orang yang Allah tetapkan keimanan dalam hatinya” Makanya disebut kebencian kepada orang kafir disebut sebagai Keimanan yang tetap di dalam hati. “Dan Allah kuatkan dengan ruh dari-Nya. Dikuatkan dengan cahaya dan petunjuk. Cahaya dan petunjuk disebut ruh, sebab ilmu agama disebut ruh sebab dia adalah sumber kehidupan. “Akan dimasukkan mereka ke dalam surga”. Ini kebaikan yang ketiga. Mereka akan dimasukkan ke dalam surga mengalir di bawahnya sungai-sungai kekal di dalamnya. Kebaikan yang keempat, Allah ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada Allah. Yang keempat dan kelima. Allah ridhoi mereka, dan mereka juga ridho kepada Allah. Mereka dijamin keberuntungan, mereka disebut oleh Allah sebagai “golongan Allah dan sesungguhnya golongan Allah itulah orang-orang yang beruntung”. jadi ini 6 kebaikan bagi siapa yang mewujudkan kecintaannya hanya kepada Allah dan RasulNya dia tidak pernah memberikan loyalitas kepada siapa yang menentang, memusuhi Allah dan RasulNya walaupun itu kerabatnya yang terdekat.

Loyalitas kepada orang kafir terbagi dua: 1. Ada loyalitas kepada orang kafir sifatnya adalah kekafiran yang mengluarkan dari keIslaman. 2. Loyalitas kepada orang kafir sifatnya dosa besar, tdak mengeluarkannya dari keIslaman. Cara membedakannya: kaau kekafiran, loyalitas yang engkafirkan dari keIslaman itu disebut dengan “Tawalli“, yaitu dia cinta kepada kesyirikan cinta kepada kaum musyrikin menolong orang kafir berkuasa terhadap kaum mukminin, dia bergembira dengan keadaan tersebut, ini kekafiran, yang mengeluarkan dari keIslaman. Sebab ini loyalitas kaitannya dengan kecintaan.

Bentuk yang kedua dari loyalitas, tapi loyalitas yang kedua ini tidak mengelurkan dari keIslaman. loyalitas sifatnya hanya persahabatan saja, pertemanan, hanya masalah dunia saja. Dia bantu orang kafir karena dia ingin dunia. Dia bantu orang kafir untuk berkuasa terhadap kaum Muslimin, untuk menjelekkan kaum Muslimin karena dia ingin dunia saja. Maka ini sifatnya adalah dosa besar tidak mengeluarkannya dari keIslaman.

Karena itu dalam Al-Quran dikatakan “Ya ayyuhalladziina aamanu laa tattakhidzuu ‘aduwwi wa ‘aduwwakum auliyaa-a tulquuna ilaihim bil mawaddah” wahai orang-orang yang beriman, jangan kamu jadikan musuhku dan musuh kalian sebagai orang-orang yang kalian berikan loyalitas kalian cinta terhadapnya” Perhatikan masih disebut dengan nama keimanan, andaikata kafir tidak disebut dengan Yaa ayyuhalladziina aamanuu. maka ini perbuatan dosa besar tidak mengeluarkan dari keIslaman. Jadi dua hal ini dibedakan ya.

Ini berkaitan dengan loyalitas. Kalau sekadar muamalah dia transaksi jual beli ada tetangganya kafir beli lemari misalnya kemudian dia bantu tetangganya menurunkan lemari ke rumahnya itu tidak ada masalah ini bantuan sifatnya muamalah dunia biasa. Bukan loyalitas bukan kecintaan. Tapi kalau kecintaan itu tadi, salah satu di antara dua saja. Kalau dia masuk cinta kepada kekafiran dan kesyirikan itu mengkafirkan keluar dari Islam walaupun dia bersyahadat laa ilaaha illaLLah Muhammad rosulullah walaupun dia hanya beribadah kepada Allah taat kepada Rasul tapi kalau dia cinta kepada kekafiran cinta kepada kesyirikan itu belum memasukannya ke dalam Islam.

Pendahuluan yang ketiga, kata penulis Rohimahullah: “I’lam arsyadakallaahu litho’atihi annal hanifiyyata millata ibrohim an ta’budaLlah mukhlison lahuddiin wafidzalika amaroLlahu jamii’An-Naas wa kholaqohum laha kama qola ta’ala wa maa kholaqtul jinna wal insa illa liya’budun“. Kata penulis Rohimahullah: “Ketahuilah, semoga Allah memberikan ar-Rusyd petunjuk yang lurus kepadamu untuk taat kepada nya, ketahuilah bahwa al hanafiyyah yang merupakan agama Nabi Ibrohim alaihissalam itu maknanya adalah engkau beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan mengikhlaskan agama hanya untuknya.” Di sini penulis menyingkat makna Al-Hanifiyyah yang merupakan agama Nabi Ibrohim. Kata beliau: “Demikianlah Allah memerintah seluruh manusia, dan Allah mencipta mereka untuk itu. Seperti firman Allah “tidaklah Aku mencipta jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu”. Ini ayat menjelaskan bahwa tujuan diciptakan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah. Makna beribadah: ya’buduni=yuwahhiduuni. Makna beribadah adalah mentauhidkanKu. Kalimat Tauhid ini istilah wajib untuk dikenal setiap Muslim dan Muslimah. Tauhid itu secara bahasa: dia mengesakan, menjadikanNya satu. Maha Satu pada diriNya pada dzat-Nya, Maha Satu pada RububiyyahNya, Maha satu dalam mencipta menghidupkan mematikan mengatur segala perkara, Maha Satu dalam artian satu-satunya yang berhak diibadahi, diesakan dalam seluruh nama-nama dan sifat-sifatnya.

Oleh karena itu kata ulama Tauhid terbagi tiga. Yang pertama Tauhid Rububiyyah, kedua Tauhid Uluhiyyah, ketiga Tauhid Asma wa sifat.

(1) Tauhid Rububiyyah yaitu dia mengakui bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala satu-satunya yang bersendirian dalam segala perbuatanNya. Dalam mencipta, dalam menghidupkan, dalam memberi rezki, dalam mengatur segala perkara.(2) Tauhid Uluhiyyah yaitu dia mengesakan Allah dalam ibadah, bahwa dialah Allah satu-satunya yang berhak diibadahi, tidak ada syarikat baginya. (3) Dan Tauhid yang ketiga adalah Tauhid Asma Wa Shifat. Dia mengimani bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala menamakan diriNya dengan Asmaul Husna, dengan sifat-sifat yang agung. Dia imani seluruh nama dan sifat-sifat Allah sebagaimana yang diterangkan Allah dan RasulNya keimanan sesuai kemuliaan dan kebesaran Allah yang dia meyakini Allah tidak serupa dengan makhluk. Maka inilah Tauhid.

Kata penulis Rohimahullah: “wa a’zhomu maa amarollahu bihi Tauhid wa huwa ifrooduLLaahi bil ‘ibaadah wa a’zhomu ma naha ‘anhus syirk wa huwa da’watu ghoirihi ma’ah. waddaliilu qouluhu ta’ala Wa’buduLlaha wa laa tusyriku bihi syai-a“. Kata penulis Rohimahullah perintah yang paling agung yan dperintah oleh Allah Subhanahu wa ta’ala adlaah Tauhid. ini perintah yang paling agung tidak ada yang lebih agung dari perintah Tauhid. Perintah yang paling pertama dalam Al-Quran itu disurat Al-Baqoroh, yaitu firman Allah: “yaa ayyuhAn-Naasu’budu robbakum” perintah yang paling pertama perintah beribadah kepada Allah. Surat yang paling pertama dalam Al-Quran adalah surat Al-Fatihah. Surat Al-Fatihah dari awalnya sudah mengandung tiga jenis Tauhid. Dan surat yang paling terakhir dalam Al-Quran adalah surat An-Naas. Surat An-Naas juga mengandung tiga jenis Tauhid. Semua surat dalam Al-Quran dianggap sepertiga Al-Quran surat Al-Ikhlas terkandung di dalamnya Tauhid. Ayat yang paling agung dalam Al-Quran ayat apa ? Ayat Kursi. Ayat ini isinya adalah Tauhid. tatkala berkaitan dengan Tauhid ia menjadi apa? menjadi inti perkara. Bahkan Al-Quranul karim seluruhnya adalah Tauhid. Karena di dalam Al-Quran terdapat penjelasan apa itu ketaatan apa itu yang dilarang. Dan ketaatan yang paling besar adalah Tauhid. Ketaatan yang lainnya adalah penyempurna Tauhid. Larangan yang paling besar adalah kesyirikan. Dan larangan yang selain kesyirikan itu dosanya di bawah kesyirikan. Kalau disebut kebaikan maka itu sifat ahli Tauhid. Kalau disebut kejelekan maka itu disebut sifat penduduk neraka. Kalau disebut surga, itu adalah balasan untuk orang yang bertauhid. Disebut neraka itu balasan orang yang berbuat kesyirikan. Jadi seluruh Al-Quran mengandung apa? mengandung Tauhid. Karena itu Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam awal dakwah beliau adalah kepada Tauhid. Tidak ada silang pendapat Nabi dan orang-orang Quraisy kecuali di dalam masalah Tauhid. Nabi menyeru mereka: “ya qoumi’buduLlaha ma lakum min ilaahin ghoiruhu” Wahai kaumku, “ya qoum quuluu laa ilaaha illaLlah” wahai kaum ucapkanlah Laa ilaaha illaLlah pasti kalian beruntung. Maka apa jawaban mereka: “A ja’alal aalihata ilaahan waahidan inna hadza lasyaiun ‘ujaab” Apakah Nabi Muhammad ini ingin menjadikan yang disembah cuma satu? sungguh ini perkara yang sungguh menakjubkan. Dan Allah sebutkan mereka ini: “Annahum idza qiila lahum laailaaha illaLlaah yastakbirun wa yaquulun a inna lataarikuuna aalihatinaa li syaa’irin majnuun” Orang-orang kafir Quraisy ini adalah orang-orang yang apabila diucapkan kepada mereka laailaaha illaLlah mereka bersombong seraya berkata apakah kami akan meninggalkan berhala-berhala yang kami ibadahi lantaran ucapan penyair yang gila. Perhatikan, jadi inti pembahasan Nabi dengan umatnya berkaitan dengan apa? Berkaitan dengan Tauhid. Karena itu ini perintah yang paling besar. Siapa yang mewujudkannya itu jaminan masuk surga. Siapa yang menelantarkannya jangan berharap mendapatkan kebaikan. Karena itu syaikh membahas di inti masalah. Beliau menerangkan apa itu Tauhid. Beliau terangkan Tauhid Uluhiyyah/Tauhid ibadah, pokok dari Tauhid dan inti dari Tauhid. Dan terkandung dari Tauhid ibadah ini Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Asma Wa Sifat juga. Karena itu belau hanya menafsirkan mengesakan Allah dalam ibadah. Doa hanya kepada Allah. Bernazar hanya kepada Allah. Takut hanya kepada Allah. Berharap hanya kepada Allah. Bertawakkal hanya kepada Allah. Dan segala yang namanya ibadah hanya diserahkan untuk Allah Subhanahu wa ta’ala saja.

Dan kata beliau: “Wa a’zhomu ma naha ‘anhus syirk” Dan hal yang paling besar yang Beliau larang adalah kesyirikan. Syirik dosa yang paling besar. Kesyirikan ini kezholiman yang paling zholim. Kesyirikan ini sebab kehinaan, dosa yang tidak diampuni, siapa yang melakukannya akan menghancurkan amalannya yang lain. Kesyirikan ini adalah yang menyebabkan seorang kekal dalam neraka. Kesyirikan ini kehancuran. Kesyirikan ini adalah sebab hilangnya keamanan dan ketentraman. Kesyirikan ini adalah sebab kesesatan. Kalau kita ingin menghitung-hitung bahaya dari kesyirikan, banyak sekali bahayanya. Karena itu dia adalah larangan yang paling besar.

Kemudian beliau menjelaskan apa itu syirik: “Wa huwa da’watu ghoirihi ma’ah” Bahwa kesyirikan itu adalah beribadah kepada selain Allah bersama dengan Allah. Jadi dia memperserikatkan selain Allah dengan Allah dalam ibadah. jadi syirik itu bukan semata dia meninggalkan Allah lalu beribadah kepada selain Allah saja. Tapi dia beribadah kepada Allah, dan beribadah juga kepada selain Allah, itu syirik. Karena itu kadang kita temukan orang mendatangi kuburan, dia datangi tempat-tempat yang dikeramatkan, berdoa, ditegur “itu kesyirikan!” Dia jawab: “siapa bilang ini kesyirikan. Saya ini Muslim, Saya sholat” Tapi dia berdoa kepada selain Allah. Maka ini walaupun dia katakan Muslim sholat, hakikatnya itu adalah perbuatan kesyirikan. Sebab syirik adalah beribadah kepada selain Allah. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa ta’ala: “Wa’bu duLlaha wa laa tusyriku bihi syai-a” beribadahlah kalian kepada Allah dan jangan kalian mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Makna-makna dari Tauhid ini sangat banyak sekali. dan ini pendahuluan dari penulis Rohimahullah beliau ingin menerangkan kaidah-kaidah landasan-landasan yang dengannya seseorang bisa dengan mudah memasuki inti pembahasan kita. Inti pembahasan kita adalah membahas tiga pertanyaan malaikat di alam kubur. Bagaimana kita mempelajarinya agar supaya kita berbahagia di dunia, di alam kubur dan di akhirat. Ini Insya Allah akan kita mulai pembahasannya di sesi yang kedua nanti Insya Allahu ta’ala.

Categories: Akhlak, Pendidikan | Tags: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: