Ushul Tsalatsah Sesi 2 dari 3

Baik. Setelah kita membaca tiga risalah pendahuluan dari syaikh Rohimahullahu ta’ala berikut ini pembahasan inti yang merupakan maksud dari duairah ini yaitu membahas tiga perkara pokok yang merupkaan sebab kebiakna dan kebahagiaan untuk seorang hamba di alama kubur dan tentunya itu juga adalah sebab kebaikan dan kebahagiaan untuk hamba di dunia dan akhirot, yaitu seseorang mengenal tiga landasan utama, ia mempelajari tiga pertanyaan yang ditanyakan oleh malaikat di alam kubur.

Membaca kandungan dari buku ini, ini dari hal yang hendaknya selalau keta ulangi terus menerus kita perhatikan sebab ini terkait dengan masalah suatu hal yang sangat penting menjawab pertanyaan para malaikat di alam kubur. Dan selalu mengulangi tiga perkara pokok ini akan mengingatkan seorang hamba akan kehidupan yang hakiki yaitu kehidupan akhirot, kehidupan di alam kubur, dan apa yang akan datang nanti setelahnya dari hari kebangkitan yang berujung kepada dua hal: kepada surga atau kepada neraka. Di sini penulis Rohimahullahu mulai masuk menjelaskan tentang bagaimana mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan beliau membawakan di sini dalam bentuk tanya jawab karena memang para malaikat bertanya dan dibawakan dalam bentuk tanya jawab ini kadang lebih mengena di dalam jiwa karena dimaklumi dari pengajaran Nabi Muhammad ShollAllahu ‘alaihi wa sallam, bahkan dimaklumi dari ayat-ayat Al-Qur’an bahwa penyampaian dari ilmu itu kadang dalam bentuk pemaparan dan kadang dalam bentuk tanya jawab. Dan di sini dibawakan oleh beliau dalam bentuk tanya jawab agar supaya lebih mudah untuk diingat.

Kata beliau: “fa in qiila laka maa Robbuka” Apabila ditanyakan kepada mu siapa Robb-mu? Siapa yang kamu ibadahi? siapa penciptamu? pemberi rizki dan hyang mengatur segala perkaramu. Apabila ditanyakan kepdamu maa Robbuka, maka jawablah, “Faqul: Robbiyallaahulladzi Robbaanii wa roba jamii’al ‘aalam bini’amihi” Maka katakan, Robb-ku yang saya ibadahi adalah Allah Subhanahu wa ta’ala, yang telah memberikan berbagai nikmatnya kepadaku demikian pula mentarbiyah memberikan berbagai nikmat dengan penuh perhatian dan pengasihan kepada seluruh alam semesta. “Wa huwa ma’buudii laisa siwaahu” Dan Allah adalah yang saya sembah tidak ada sesembahan bagiku kecuali Allah.

Jadi kalau ditanya siapa Robb-mu maka jawablah dengan jawaban itu, bahwa Robbku adalah Allah yang mentarbiyah aku, yang menyempurnakan berbagai nikmatnya karunianya kepada ku dan kepada seluruh Alam semesta. Di sini istilah Robb kadang dibahasakan dalam bahasa indonesia dengan kata tuhan. Tapi kata Robb dalam bahasa arab ini kita kadang bermakna yang diibadahi, berkaitan dengan ‘Ubudiyyah. Dan kadang bermakna Rububiyyah, bisa diartikan yang Maha mencipta, menghidupkan, maha mematikan, memberi rizki, mengatur segala perkara.

Jadi kalau ditanya “Siapa Robb-mu”, pertanyaan itu bukan hanya berkaitan dengan siapa yang menciptakan kamu, memberi rizki. Sebab sebagaimaan yang aka ndatang nant, kita aka terangkan bawha sekdar seorang mengetahui Allah yang mencipta, menghidupkan, dan memberi rizki itu tidak cukup seorang dimasukkan ke dlam islma, tidak ukuop dia diangggap sebagai seorang muslim. Karena orang-orang musyrikin di masa Nabi Muhammad ShollAllahu ‘alaihi wa sallammereka semuanya mengakui bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala yan menciptakan, Allah Subhanahu wa ta’ala yang memberi rizki, Allah Subhanahu wa ta’ala yang mengatr segala perkara. Ini pengakuan-pengakuan diakui oleh kaum musyrkin. Karena itu dalam ayat misalnya, seperti di Surah Yunus ayat 51 Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman “Qul man yarzuqukum minassamaa-i wal ardh. Amman yamlikus sam’a wal abshor wa man yukhrijul hayya minal mayyit. Wa yukhrijul mayyita minal hayyi.Waman yudabbirul amr” Katakan awahai Nabi Muhammad kepada mereka siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi. Siapakah yang Maha Menguasai pendengaran dan penglihatan. Tanyakan kepada mereka Siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Dan siapakah yang mengatur segala perkara. Tanyakan kepada mereka. Maka Allah Subhanahu wa ta’ala menjelaskan apa yang akan dijawab oleh kaum musyrikin: “FasayaquuluunaLlah” Mereka pasti akan menjawab Allah yang melakukan seluruh itu.

Jadi kaum musyrikin merekam mengakui Allah yangmemberi rizki dari langit dan bumi yang Maha Menguasai pendengaran penglihatan menghidupkan dan mematikandan mereka menegetahui bahawa Allah Subhanahu wa ta’ala adalah yang mengatur segala urusan. Tapi bersamaan dengan itu kaum musyrikin adalah kaum musyriki, bukan muslimin. Pengakuan mereka bahwa Allah mncipta menghidupkan mematikan tidak bermanfat, tidak memasukkan mereka ke dalam islam. Demikian pula misalnya dalam ayat lain di surat mukminun Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: “Qul limanil ardhu waman fiha in kuntum ta’lamun sayaquuluuna liLlah. Qul afala tatadzakkarun” Tanyakan kepad mereka milik siapakah bumi dan segala isinya kalau memang kalian mengetahui. Maka kaum musyrikin akan menjawab : “Milik Allah” Kalau begitu mengapa kalian tidak mengingat?

Kemudian Nabi diperintah bertanya lagi: “Qul man Robbussamaawaatis sab’i wa Robbul ‘arsyil ‘azhim. Sayauuluuna liLlah. Qul afala tattaquun” Tanyakan kepada mereka siapa yang menciptakan angit dan bumi, Robb langit dan bumi, sapa yang merupakan Robb langit yang tujuh, dan Robb ‘arsy yang maha agung. Maka mereka semua menjawab Allah. Kalau begitu kenapa kalian tidak bertakwa.

Qul man biyadihi malakuutu kulli syaiin wa huwa yujiiru walaa yujaaro ‘alaihi in kuntum ta’lamun” Tanyakan kepada ereka siapakah yang ditangannya Kekuasaan segala sesuatu dia melindungi dan tidak dilindungi kalau memang benar kalian tahu. “Sayaquuluuna liLlah” Mereka pasti akan menjawab Allah. “Faannaa tusharuun” Kalau begitu kenapa kalian seperti tersihir.

Jadi mereka mengakui Allah yang mencipta menghidupkan mematikan menciptakan langit dan bumi, Allah yang Maha Menguasai pendengaran, penglihatan, tapi bersamaan dengan itu mereka berbuat kesyirikan kepada Allah. Diakui Allah satu-satunya yang mencipta menghidupkan mematikan tapi mereka tidak mau mengakui bahwa Allah satu-satunya yang diibadahi. Inilah letak kesyirikan kaum musyrikin.

Makanya ahrus dipahami apa makna dari tauhid tersebut. Kalau dia misalany ditanya oleh malaikat “maa Robbuka“, siapa Robb-mu.dan diaa pahami dari kalimat maa Robbuka hanya pertanyaan siapa yang menciptakanmu, siapa yang mengjidupkanmu, siapa yang mematikanmu. Dia hanya meyakini ini, tidak meyakini Allah satu-satunya yang berhak diibadahi, maka ini tidak akan memberi manfaat untuk jawabanya, Dia belum kenal siapa Robb-nya. Dan kalau pemahamannya masih seprti itu tidak ada bedanya dengan kaum musyrikin di masa Nabi. Sebab kaum musyrikin di zaman Nabi mengakui semua itu. Bersamaan dengan itu mereka tidak masuk islam. Mereka masih diperangi oleh Rasulullah dan mereka masih membenci Rasulullah ShollAllahu ‘alaihi wa sallam. Kalau begitu keislaman aldah pengakuan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala adalah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi tidak ada serikat baginya.

Maka ini dasar pokok yang hendaknya diketahui. Jadi ketika penulis di sini berkata, kalau ditanyakan kepadamu ma Robbuka siapa Robb-mu maka jawab Robb-ku adalah Allah yang mentarbiyah saya. Kalimat tarbiyah itu artinya: merawatnya dengan penuh seksama, seperti anak kecil ditarbiyah dari semenjak lahir hingga dia besar dirawat oleh ibunya orang tuanya sampai dia besar. Itu namanya ditarbiyah. Dan makhluk ini kita semua ditarbiyah oleh Allah, dirawat dan diberikan berbagai kebaikan berbagai nikmat oleh Allah. Dan Allah yang mentarbiyah seluruh alam semesta ini dengan seluruh nikmat-nikmatnya, dengan berbagai karunianya. Dan Allah adalah yang saya ibadahi. Ini pokoknya ya, perhatikan! Tidak ada sembahan bagiku kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka disini penulis menegaskan jawaban untuk ma Robbuka, seorang harus mengakui bahawa segala nikmat itu datangnya dari Allah yang mencipta, menghidupkan memberi rizki, mengatur segala perkara hanyalah Allah , juga diakui bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala satu-satunya yang dia ibadahi.

Kalau dia memahami hal ini maka diapun sudah mengerti siapa Robb-nya sudah paham apa yang dsebut Robb itu.

Kemudian kata penulis “wad daliilu qouluhu ta’ala” seperti biasa penulis setelah menyampaikan pebahasan beliau membawakan dalilnya. Apa dalil tentang itu. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa ta’ala: “AlhamdulilLlahi Robbil ‘alamin“. Segala puji hanya untuk Allah Robb semesta alam. Perhatikan ayat ini: “alhamdu = segala pujian”. Apa saja yang merupakan hamd pujian terpilih yang penuh dengan pengagungan dan pemuliaan itu anya milik Allah. Disebut nama Allah sebab ini adalah pokok dari asmaul husna Dan Allah artinya Yang diibadahi dengan penuh pengagungan, pembesaran dan pemuliaan terhadapanya, Robbil ‘alamin. Robb semesta alam yang merupakan Robb semesta alam. Jadi ini dalil semuanya sangat jelas sekali menerangkan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala dialah yang diibadahi dengan hak, segala pujian hanya miliknya dan Robbil ‘alamin yang menciptakan, memberi rizki , yang Maha Menguasai dan mengatur segala alam semesta ini. Apakah itu jinnya manusianya para malaikatnya pepohonannya bebatuannya tanahnya bumi, langit semuanya dalam pengaturan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Kemudian kata penulis: “wa kullu ma siwaLlah ‘aalam wa ana wahidun min dzalikal ‘aalam” Semua yang selain Allah itu namanya alam dan saya termasuk salah seorang dari alam itu. Jadi kalau dikatakan Allah adalah Robb alam semesta seluruh alam. Siapa alam itu, bahasa arab ya, ‘alam itu dalam bahasa arab dalah “apa yang selain Allah”. Segala yang selain Allah dalam bahasa arab disebut ‘alam. Berarti setiap dari kita mengatakan saya adalah salah seorang dari alam tersebut, kita semuanya dicipta oleh Allah Subhanahu wa ta’ala kita semua perlu dan faqir kepadaNya dialah Allah Subhanahu wa ta’ala yang bersendirian dalam penciptaan, memberikan rizki, pengaturan sebagaimana dia pula yang bersendirian untuk diibadahi tidak ada serikat baginya.

Selesai makna ma Robbuka, itu pertanyaan dan jawabannya

Pertanyaan berikutnya: “Fa idza qilila laka bia arofta Robbaka” Kalau ada yang bertanya kepadamu bagaimana cara engkau mengenal Robb-mu? dengan apa engkau mengenalnya bahwa dialah Allah yang kamu ibadahi yang kamu sembah. “Faqul” jawab “biaayaatihi wa makhluqootihi” saya mengenalnya dengan ayat-ayatnya dan dengan makhluk-makhluknya. Sebutkan dua disini ayat-ayat dan makhluk-makhluk. Ayat-ayat, kata ayat tu adalah bukti yang sangat terang, bukti yang sangat membungkam. Karena itu Al-Qur’an disebut ayat dan dari makhluk-makhluknya yaitu makhluk adalah apa yang diadakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Jadi kita mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala dengan ayat-ayatnya, dan dengan makhluk-makhluknya. Dan ayat-ayat Allah ada dua. Ada ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat syar’iyyah.

Ayat-ayat kauniyah akan diterangkan nanti oleh penulis. Dan ayat-ayat syar’iyah itulah Al-Qur’an Al-Karim. Kata beliau: “Wa min aayatihil lailu wan naharu wa syamsu wal qomar” dari ayat-ayat Allah yang dilihat dengan mata kepala yang disaksikan adalah malam, siang, matahari dan bulan. Ini disebut ayat sebab perubahannya tiap hari kita lihat. Begitu siang pergi, malam langsung meliputi. Begitu selimut malam hilang siang segera menerangi manusia. Ini tanda kebesaran Allah. Demikian pula terlihat matahari, terlihat bulan. Ini ayat sangat jelas.

Kemudian kata beliau: “Min makhluqotihi as samawatu sab’a wal arodhunas sab’a wa ma fihinna wa ma bainahuma” dan dari makhluk-makhluk Allah langit yang tujuh, bumi yang tujuh apa yang ada di dalamnya dan apa yang antara keduanya.

Mungkin ada yang bertanya bukankah matahari bulan, siang, malam makhluk-makhluk Allah juga. Jawabannya iya. tapi dari sisi dia sebagai ayat matahari bulan siang dan malam lebih jelas. Karena tiap hari ada pergantian terbit muncul terbit muncul, terbenam. Ini sehingga membuka berbeda dengan bumi, bumi setiap hari kita pijak, matahari setiap hari ada. Kadang seorang tidak pernah berpikir tidak memperhatikannya karena sealu ada. Tapi siang malam matahari dan bulan ini datang bersilih ganti maka ini di antara kenapa penulis membedakan antara makhluk dan ayat-ayatnya.

Di sini beliau terangkan bahwa sorang hamba mengenal Allah Subhanahu wa ta’aladengan memperhatikan ayat-ayat dan makhluk-makhluknya tafakur di dalamnya. Sebab tafakur dalam penciptaan itu menambah keimanan dan membuat hati itu berantung kepada Allah Subhanahu wa ta’ala Karena itu kata Ibnul Qoyyim Rohimahullahu: “Wa ahsanu mattafaqot bihi al anfas wa ahsana ma unfiqot fihil anfas attafakkur fi ayatillah wa ajaabi bishon’ihi wal intiqoli minha ila ta’alluqil qolbi wal himmati bih duuna syaiin min makhluqotihi” Kata beliau: sebaik-baik perkara yang nafas itu dihabiskan (Semua kita bernafas ya, nafas kita ini sudah dihitung berapa banyak jumlahnya dan nanti berakhirnya kata, di nafas yang terakhir kita bernafas itulah ajal kita) maka nafas ini paling bagusnya dihabiskan dalam tafakur terhadap ayat-ayat Allah, kata Ibnul Qoyyim dan memperhatikan keajaiban penciptaan Allah. Tafakur akan menyebabkan hati itu bergantung kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Kata sebagian ulama: “Tafakur itu adalah sumber segala kedudukan dan derajat yang tinggi. Siapa yang tafakur akan kebesaran Allah, maka itu akan menumbuhkan pengagungan di dalam jiwanya kepada Allah. Siapa yang tafakur akan kemampuan Allah, taat kepadanya, (maka) dia hanya tawakal kepada Allah. Siapa yang tafakur akan siksaan Allah itu akan memberikan untuknya manfaat, dia selalu takut kepada Allah. Dan siapa yang tafakur kepada rohmatNya Allah ini akan menyebabkan dia selalu berharap kepada Allah. Siapa yang tafakur terhadap kematian dan apa yang akan datang setelah kematian dia akan memperpendek angan-anaknya. Dan siapa yang tafakur terhadap dosa-dosanya akan bertambah rasa takutnya dan akan menjadi remeh, menjadi rendah jiwa itu disisinya”

Kalau dia pikirkan dirinya penuh dengan dosa banyak kesalahannya banyak kekurangannya maka akan dia buang dari dirinya segala sifat sombong, sifat merasa dirinya lebih dari yang lain, banyak berjasa dan seterusnya, sebab ini dari hal-hal yang penting kita bertafakur di dalamnya.

Maka ini dibawakan oleh penulis disini, bagaimana seorang mengenal Robb-nya dengan melihat ayat-ayatnya dan melihat makhluk-makhluknya, apabila hal tersebut ia lihat dengan baik, maka pasti itu akan mewariskan hal yang sangat indah di dalam jiwanya. Apa dalil bahwa kita mengenal Allah dengan ayat-ayat dan dengan makhluk-makhluk. Dalilnya ada dua disini disebut penulis. Kata beliau: “wad daliilu qouluhu ta’ala: wa min aayatihillailu wan nahar was syamsu wal qomar la tasjudu lissyamsi walaa lilqomar wasjudu liLahilladzi kholaqohunna inkuntum iyyahu ta’budun“. Dari ayat-ayat Allah malam siang matahari dan bulan janganlah kalian sujud kepada matahari dan jangan pula kalian sujud kepada bulan tapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakan seluruh makhluk tersebut kalau memang kalian benar beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Maka ini ayat yang pertama terdapat di dalamnya bahwa malam siang matahari dan bulan itu dari ayat-ayat Allah Subhanahu wa ta’ala. Di malam hari kita lihat malam ini memang gelap menyelimuti akan tetapi di tengah kegelapan itu manusia mengambil manfaatnya dari ketenangan menghindari kegaduhan yang berada di siang hari, demikian pula di siang hari manfaat cahayanya dirasakan bagaimana dia beraktivitas dengan sangat mudah disiang hari tersebut, ini ayat yang sangat jelas. Matahari dan bulan yang dengan munculnya matahari dan bulan ini kehidupan makhluk menjadi tegak. Tapi Allah ingatkan bahwa seluruh itu adalah makhluk. Karena itu tidak boleh sujud kepada matahari tidak boleh sujud kepada bulan. Tapi bersujud kepada Allah yang menciptakan mereka kalau memang benar kalian beribadah kepadaNya.

Di sini terdapat di dalamya sebuah kaidah dan kaidah ini diyakini oleh kaum mukminin dan di kaidah inilah kaum musyrikin luput darinya. Mereka, di kaidah ini menyimpang kaum musyrikin. Umat islam ketika memperhatikan bahwa Allah satu-satunya yang menciptakan, Allah satu-satunya yang memberi rezki, Allah satu-satu-satu-satunya yang menghidupkan mematikan. Maka itu konsekuensinya apa? Konsekuensinya Allah Subhanahu wa ta’ala dia pula satu-satu-satu-satunya yang berhak diibadahi sebagaimana Allah bersendirian satu-satu-satu-satunya yang mencipta menghidupkan memberi rizki, Demikian pula harusnya dia satu-satu-satu-satunya yang diibadahi. Inilah yang merupakan konsekuensi dari tauhid yang berjalan di tengah umat islam. Berbeda dengan kaum musyrikin. kaum musyrikin beriman bahwa Allah yang mencipta, menghidupkan, mematikan tapi mereka berbuat kesyirikan dalam ibadah. Karena itu dikatakan dalam Al-Qur’an: “Wa maa yukminu aktsaruhum biLlahi illa wahum musyrikun“. Tidaklah kebanyakan dari mereka beriman kepada Allah (maksudnya beriman dalam rububiyyah) kecuali mereka pasti berbuat kesyirikan, kesyirikan dalam uluhiyyah. Kesyirikan dalam peribadatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Jadi ketika ditarengkan bahwa malam, siang, matahari dan bulan semuanya adalah ayat-ayat Allah maka Allah ingatkan, mereka adalah makhluk saja jangan kalian sujud kepada matahari, jangan kalian sujud kepada bulan, tapi sujudlah kepada Allah yang menciptakan mereka semuanya, kalau memang kalian beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dalil yang kedua, kata penulis Rohimahullahu :”Wa qouluhu ta’ala inna RobbakumuLlah alladzi kholaqos samaawati wal ardho fi sittati ayyam tsummastawa ‘alal arsy. Yughsyillailan nahar yathlubuhu hatsiitsa. Wassyamsu wal qomaro wan nujuma musakhkhorootin bi amrihi. Ala lahul kholqu wal amru. TabarokaLLahu Robbul ‘alamin

Allah berfirman: “Sesungguhnya Robb kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari kemudian Allah beristiwa di atas arsy-Nya. Setelah langit dan bumi diciptakan, Allah beristiwa di atas arsy-Nya yang agung.

‘Arsy Allah Subhanahu wa ta’ala itu sangatlah besar makhluk yang sangat besar. Langit dan bumi tidak ada apa-apanya. Padahal kita melihat langit dan bumi ini sedemikian luas. Sedemikian luas bumi Allah ini, Sedemikian luas langit Allah ini. Tapi ternyata langit dan bumi itu makhluk yang kecil sekali kalau dibanding dengan kursi Allah. Kursi itu dalam penafsiran ibnu Abbas adalah “mauqi’ul qodamain” tempat Kedua Kaki. Perbandingan langit dan bumi dengan kursi Allah perbandingannya seperti gelang dilempar ke tanah lapang yang luas. Anggap bumi tanah lapang, gelang dilempar ke tengah tanah lapang. Kira-kira gelang ini dibanding tanah lapang bagaimana? Besar atau kecil ? kecil sekali! ini perbandingan antara langit dan bumi dengan kursi. Dan perbandingan antara Kursi dan ‘Arsy sama seperti itu.. Maka ini ‘Arsy adalah makhluk Allah yang sangat besar.

Dan Allah Subhanahu wa ta’ala beristiwa di atas arsy-Nya. Yughsyillailan nahar yathlubuhu hatsitsaa. Allah mempersilihgantikan malam dengan siang. Malam yang gelap ketika dia menutupi tiba-tiba dipergantikan dengan siang, yathlubuhu hatsitsa berganti dengan sangat cepatnya. Ketika malam pergi, siang Datang. Ketika siang pergi, datang malam menyelimuti. Terus berganti dengan sangat cepat, tidak pernah berhenti, tidak pernah ada keterlambatan. Demikianlah hingga alam semesta ini nanti akan ditutup oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, akan dilipat-lipat oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dengan Tangan-Nya.

Di dalam ayat bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala mempergantikan siang dan malam, berganti dengan sangat cepat. “Wasysyamsa wal qomaro wan nujuuma musakhkhorootin biamrih” Demikian pula matahari bulan dan bintang-bintang itu semuanya tunduk dengan perintahNya. Kemudian Allah tegaskan: “Alaa lahul kholqu wal amru” Ingatlah bahwa milik Allah penciptaan dan perintah. “TabaarokaLlahu Robbul ‘aalamiin” Maha Berkah Allah Robb semesta alam.

Jadi pendalilan dari ayat sangat terang sekali bahwa seluruh dari apa yang disebut di dalam ayat ini dihitunga dari makhluk-makhluk Allah Subhanahu wa ta’ala.

Kemudian kata penulis, setelah ini penulis masuk menerangkan dari inti pembahasn di makna ma Robbuka. Kata beliau “Wa Robbu huwal ma’bud” yang dimaksud dengan Robb adalah yang diibadahi. Inti dari keislaman yaitu adalah pengakuan bahwa Allah satu-satu-satu-satunya yang berhak diibadahi, karena itu nanti saya akan terangkan di pembahasan lailaha illaLlah bahwa apa yang beredar di tengah manusia sekarang ini, mereka terjemahkan laailaha illaLlah artinya “tidak ada tuhan kecuali Allah, tidak ada yang mencipta kecuali Allah, tidak ada yang memberi rizki kecuali Allah” ini penerjemahan yang keliru. Kalau itu penerjemahan laailaha illaLlah sudah kaum musyrikin di masa Nabi semuanya masuk islam berbondong-bondong. Abu jahl abu lahab tidak akan ada pertentangan nanti sebab semuanya menagkui Allah yang menciptakan menghidupkan memberi rizki. Kalau begitu harus diketahui inti islam itu apa? Inti dari keislaman adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah.

Karena itu yang namanya ibadah tidak boleh sama sekali dipalingkan kepada selain Allah. Ini yang ingin beliau didetailkan oleh penulis di sini. Makanya beliau terangkan bahwa Robb itu adalah al-ma’bud adalah yang diibadahi. “Wad dalilu qouluhu ta’ala” Apa dalilnya? Adalah firman Allah ta’ala: “Ya ayyuhan naasu’budu Robbakumulladzi kholaqokum walladzina min qoblikum la’allakum tattaqun“. Wahai sekalian manusia beribadahlah kalian kepada Rabb kalian yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian supaya kalian bertakwa. “Alladzi ja’ala lakumul ardho firoosyaa wassamaa-a binaa-a wa anzala minassamaa-i maa-a faakhroja bihi minatstsamarooti rizqon lakum falaa taj’aluu liLLahi andaadaa wa antum ta’lamun

Wahai sekalian manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian. Disebut di depan “Rabb”, ibadah kepada siapa? kepada Rabb. Berarti Rabb itu adalah diibadahi. Kemudian dipaparkan makna rububiyyah. Rabb yang menciptakan kalian dan menciptakan orang-orang sebelum kalian supaaya kalian bertakwa. Yang menciptakan bumi untuk kalian sebagai hamparan langit sebagai bangunan dan menurunkan air dari langit kemudian dengan itu ditumbuhkan berbagai bebuahan sebagai rezki untuk kalian. Perhatikan, diungkit dari nikmat-nikmat penciptaan Allah dari makna-makna rububiyyah Allah, ujungnya kepada suatu makna. “Falaa taj’aluu liLLahi andaadaa wa antum ta’lamun” jangan sekali-kali kalian membuat untuk Allah tandingan-tandingan, sekutu-sekutu sedangkan kalian mengetahuinya.

Jadi pengakuan seorang ketika mengakui Allah satu-satunya yang mencipta, menghidupkan dan memberi rizki ini mengharuskan dia untuk mengakui bahwa Dialah Allah satu-satu-satu-satunya yang berhak diibadahi, tidak ada serikat bagi-Nya, tidak ada tandingan untuknya dan tidak ada yang semisal dengan-Nya. Karena itu beliau bawakan ucapan Ibnu Katsir Rohimahullahu: “Al kholiqu li hadzihil as-sya huwal mustahiqqu lil ‘ibaadah” Ibnu Katsir berkata: “yang menciptakan seluruh perkara ini dialah yang berhak untuk diibadahi”. Jadi Allah yang menciptakan langit dan bumi ini, yang menciptakan segala perkara yang menghidupkan dan mematikan dan mengatur segala urusan, harusnya dia pula yang berhak untuk diibadahi. Karena itu kaum musyrikin mereka itu tidak berakal, dan ini kebanyakan orang-orang yang keluar dari peribadatan kepada Allah dia punya akal tapi akalnya tidak dipakai. Kadang cerdas di ilmu dunia, lihat orang-orang kafir bagaimana kecerdasan mereka membuat apa saja bisa dan lihat perkembangan mereka di negeri-negeri mereka, di negeri-negeri kafir itu, perkembangan teknologi dan sebagainya tidak ada yang mengalahkan mereka cerdas tapi tidak berakal. Kalau dia menggunakaan kecerdasannya berakal akan makna-makna yang kita terangkan tadi dari penciptaan langit dan bumi tadi ini maka pasti mereka akan beriman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Karena itu siapa yang memiliki akal dengan baik pasti dia akan kembali memurnikan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Coba perhatikan kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, saya beri contoh orang yang mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala dengan akal dan fitrah yang sehat. Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam ditunjukkan kepada beliau dari kekuasaan langit dan bumi supaya beliau menjadi yakin. Karena itu dalam Al-Qur’an dikatakan: “Wa kadzalika nurii ibroohiima malakuutassamaawaati wal ardh wa liyakuuna minal muuqiniin” demikianlah kami tunjukkan kepada Nabi Ibrahim keajaiban langit dan bumi supaya dia menjadi orang yang yakin. “Falammaa janna ‘alaihil lailu roo-a kaukaba” begitu malam gelap meyelimuti maka nbai Ibrahim melihat bintang, dia berkata “hadza Robbi” dia berkata inilah Robb-ku bintang ini adala Robb-ku menakjubkan makanya ia menganggapa itu adalaah Robb-nya yang dia sembah. “Falamma afala qola la uhibbul aafiliin” Begitu bintangnya hilang terbenam Nabi Ibrahim berkata saya tidak suka kepada orang-orang yang hilang. itu bukan sifat ar-Robb. Jelas ya. “Falamma ro-al qomaro baazighon qola hadza Robbi” begitu dia melihat bulan itu muncul dari ufuk maka dia berkata inilah Robb-ku. “Falamma afala” begitu hilang maka Nabi Ibrahim berkata “Lainlam yahdini Robbi la-akuunanna minal qoumudh dhollin” Kalau Robb-ku tidak memberi hidayah kepadaku saya akan menjadi orang tersesat.

Dia tahu ini buakn Robb-nya dia lagi mencari tapi akal sehatnya berjalan, perhatikan. Akal sehatnya berjalan. “falamma ro-as syamsa baazighotan qola hadza Robbi hadza akbar” Begitu dia melihat matahari terbit besoknya dia berkata “O inilah Robb-ku! ini lebih besar!” . Tapi apa yang terjadi “falamma afalat qola ya qoumi ini barii-un minmaa tusyrikun” begitu matahari terbenam Nabi Ibrohim berkata wahai kaumku sungguhnya saya berlepas diri dari kesyirikan yang kalian lakukan. Kaum yang menyembah matahari bulan bintang itu semua bukan tuhan, bukanlah yang berhak diibadahi, andai berhak untuk diibadahi tidak mungkin dia hilang pergi, ada dan kemudian hilang. Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Ada walaupun tidak dilihat, kekuasaannya nampak, dan diala yang diibadahi. Karena itu Nabi Ibrahim berkata: “Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fathorossamaawaati wal ardh haniifan wamaa ana minal musyrikin” Sesunguhnya saya mnghadapkan wajahku kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi ini tanpa ada contoh sebelumnya, sebagai orang yang hanif selalu berada di atas tauhid dan saya tidak tergolong kepada orang-orang yang berbuat kesyirikan.

Iklan
Categories: Akhlak | Tag: , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: