Ushul Tsalatsah (Sesi 2 dari 3)

Transkrip Pelajaran Tsalatsatul Ushul (Sesi kedua dan tiga sesi)
Dauroh di Provinsi Bali, Indonesia Tengah

Pemateri: Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi hafizhohullah

Baik. Setelah kita membaca tiga risalah pendahuluan dari Syaikh Rohimahullahu ta’ala berikut ini pembahasan inti yang merupakan maksud dari daurah ini yaitu membahas tiga perkara pokok yang merupkaan sebab kebaikan dan kebahagiaan untuk seorang hamba di alam kubur dan tentunya itu juga adalah sebab kebaikan dan kebahagiaan untuk hamba di dunia dan akhirat, yaitu seseorang mengenal tiga landasan utama, ia mempelajari tiga pertanyaan yang ditanyakan oleh malaikat di alam kubur.

Membaca kandungan dari buku ini, ini dari hal yang hendaknya selalu kita ulangi terus menerus kita perhatikan sebab ini terkait dengan masalah suatu hal yang sangat penting menjawab pertanyaan para malaikat di alam kubur. Dan selalu mengulangi tiga perkara pokok ini akan mengingatkan seorang hamba akan kehidupan yang hakiki yaitu kehidupan akhirat, kehidupan di alam kubur, dan apa yang akan datang nanti setelahnya dari hari kebangkitan yang berujung kepada dua hal: kepada surga atau kepada neraka. Di sini Penulis Rohimahullahu mulai masuk menjelaskan tentang bagaimana mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan beliau membawakan di sini dalam bentuk tanya jawab karena memang para malaikat bertanya dan dibawakan dalam bentuk tanya jawab ini kadang lebih mengena di dalam jiwa karena dimaklumi dari pengajaran Nabi Muhammad ShollAllahu ‘alaihi wa sallam, bahkan dimaklumi dari ayat-ayat Al-Qur’an bahwa penyampaian dari ilmu itu kadang dalam bentuk pemaparan dan kadang dalam bentuk tanya jawab. Dan di sini dibawakan oleh beliau dalam bentuk tanya jawab agar supaya lebih mudah untuk diingat.

Kata beliau: “fa in qiila laka maa Robbuka” Apabila ditanyakan kepada mu siapa Robb-mu? Siapa yang kamu ibadahi? siapa penciptamu? Pemberi Rizki dan yang Mengatur Segala Perkaramu. Apabila ditanyakan kepdamu maa Robbuka, maka jawablah, “Faqul: RobbiyaLlaahulladzi Robbaanii wa roba jamii’al ‘aalam bini’amihi” Maka katakan, Robb-ku yang Saya ibadahi adalah Allah Subhanahu wa ta’ala, yang telah memberikan berbagai nikmatnya kepadaku demikian pula mentarbiyah memberikan berbagai nikmat dengan penuh perhatian dan pengasihan kepada seluruh alam semesta. “Wa huwa ma’buudii laisa siwaahu” Dan Allah adalah yang Saya sembah tidak ada sesembahan bagiku kecuali Allah.

Jadi kalau ditanya siapa Robb-mu maka jawablah dengan jawaban itu, bahwa Robbku adalah Allah yang mentarbiyah aku, yang menyempurnakan berbagai nikmatnya karunianya kepadaku dan kepada seluruh Alam semesta. Di sini istilah Robb kadang dibahasakan dalam bahasa indonesia dengan kata tuhan. Tapi kata Robb dalam Bahasa Arab ini kita kadang bermakna yang diibadahi, berkaitan dengan ‘Ubudiyyah. Dan kadang bermakna Rububiyyah, bisa diartikan yang Maha Mencipta, Menghidupkan, Maha Mematikan, Memberi Rizki, Mengatur Segala Perkara.

Jadi kalau ditanya “Siapa Robb-mu”, pertanyaan itu bukan hanya berkaitan dengan siapa Yang Menciptakan kamu, Memberi Rizki. Sebab sebagaimana yang akan datang nanti, kita akan terangkan bahwa sekadar seorang mengetahui Allah Yang Mencipta, Menghidupkan, dan Memberi Rizki itu tidak cukup seorang dimasukkan ke dalam Islam, tidak cukup dia diangggap sebagai seorang muslim. Karena orang-orang musyrikin di masa Nabi Muhammad ShollAllahu ‘alaihi wa sallammereka semuanya mengakui bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala Yang Menciptakan, Allah Subhanahu wa ta’ala yang Memberi Rizki, Allah Subhanahu wa ta’ala yang Mengatur Segala Perkara. Ini pengakuan-pengakuan diakui oleh kaum musyrkin. Karena itu dalam ayat misalnya, seperti di Surah Yunus Ayat 51 Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman “Qul man yarzuqukum minassamaa-i wal ardh. Amman yamlikus sam’a wal abshor wa man yukhrijul hayya minal mayyit. Wa yukhrijul mayyita minal hayyi.Waman yudabbirul amr” Katakan wahai Nabi Muhammad kepada mereka siapakah yang Memberi Rizki kepadamu dari langit dan bumi. Siapakah yang Maha Menguasai Pendengaran dan Penglihatan. Tanyakan kepada mereka Siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Dan siapakah yang Mengatur Segala Perkara. Tanyakan kepada mereka. Maka Allah Subhanahu wa ta’ala menjelaskan apa yang akan dijawab oleh kaum musyrikin: “FaSayaquuluunaLlah” Mereka pasti akan menjawab Allah yang melakukan seluruh itu.

Jadi kaum musyrikin mereka mengakui Allah yang Memberi Rizki dari langit dan bumi yang Maha Menguasai Pendengaran Penglihatan Menghidupkan dan Mematikan dan mereka mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala adalah yang mengatur segala urusan. Tapi bersamaan dengan itu kaum musyrikin adalah kaum musyrikin, bukan muslimin. Pengakuan mereka bahwa Allah Mencipta Menghidupkan Mematikan tidak bermanfaat, tidak memasukkan mereka ke dalam Islam. Demikian pula misalnya dalam ayat lain di surat mukminun Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: “Qul limanil ardhu waman fiha in kuntum ta’lamun Sayaquuluuna liLlah. Qul afala tatadzakkarun” Tanyakan kepada mereka milik siapakah bumi dan segala isinya kalau memang kalian mengetahui. Maka kaum musyrikin akan menjawab : “Milik Allah” Kalau begitu mengapa kalian tidak mengingat?

Kemudian Nabi diperintah bertanya lagi: “Qul man Robbussamaawaatis sab’i wa Robbul ‘arsyil ‘azhim. Sayauuluuna liLlah. Qul afala tattaquun” Tanyakan kepada mereka siapa Yang Menciptakan langit dan bumi, Robb Langit Dan Bumi, sapa yang merupakan Robb Langit Yang Tujuh, dan Robb ‘Arsy Yang Maha Agung. Maka mereka semua menjawab Allah. Kalau begitu kenapa kalian tidak bertakwa.

Qul man biyadihi malakuutu kulli syaiin wa huwa yujiiru walaa yujaaro ‘alaihi in kuntum ta’lamun” Tanyakan kepada mereka siapakah yang Ditangan-Nya Kekuasaan Segala Sesuatu Dia Melindungi Dan Tidak Dilindungi kalau memang benar kalian tahu. “Sayaquuluuna liLlah” Mereka pasti akan menjawab Allah. “Faannaa tusharuun” Kalau begitu kenapa kalian seperti tersihir.

Jadi mereka mengakui Allah Yang Mencipta Menghidupkan Mematikan Menciptakan Langit Dan Bumi, Allah yang Maha Menguasai Pendengaran, Penglihatan, tapi bersamaan dengan itu mereka berbuat kesyirikan kepada Allah. Diakui Allah satu-satunya Yang Mencipta Menghidupkan Mematikan tapi mereka tidak mau mengakui bahwa Allah satu-satunya yang diibadahi. Inilah letak kesyirikan kaum musyrikin.

Makanya harus dipahami apa makna dari tauhid tersebut. Kalau dia misalnya ditanya oleh malaikat “maa Robbuka“, siapa Robb-mu dan dia pahami dari kalimat maa Robbuka hanya pertanyaan siapa Yang Menciptakanmu, siapa Yang Menghidupkanmu, siapa Yang Mematikanmu. Dia hanya meyakini ini, tidak meyakini Allah Satu-Satunya Yang Berhak Diibadahi, maka ini tidak akan memberi manfaat untuk jawabanya, Dia belum kenal siapa Robb-nya. Dan kalau pemahamannya masih seperti itu tidak ada bedanya dengan kaum musyrikin di masa Nabi. Sebab kaum musyrikin di zaman Nabi mengakui semua itu. Bersamaan dengan itu mereka tidak masuk Islam. Mereka masih diperangi oleh Rasulullah dan mereka masih membenci Rasulullah ShollAllahu ‘alaihi wa sallam. Kalau begitu keIslaman adalah pengakuan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala adalah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi tidak ada serikat baginya.

Maka ini dasar pokok yang hendaknya diketahui. Jadi ketika Penulis di sini berkata, kalau ditanyakan kepadamu ma Robbuka siapa Robb-mu maka jawab Robb-ku adalah Allah yang mentarbiyah Saya. Kalimat tarbiyah itu artinya: merawatnya dengan penuh seksama, seperti anak kecil ditarbiyah dari semenjak lahir hingga dia besar dirawat oleh ibunya orang tuanya sampai dia besar. Itu namanya ditarbiyah. Dan makhluk ini kita semua ditarbiyah oleh Allah, dirawat dan diberikan berbagai kebaikan berbagai nikmat oleh Allah. Dan Allah yang mentarbiyah seluruh alam semesta ini dengan seluruh nikmat-nikmatnya, dengan berbagai karunianya. Dan Allah adalah yang Saya ibadahi. Ini pokoknya ya, perhatikan! Tidak ada sembahan bagiku kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka disini Penulis menegaskan jawaban untuk ma Robbuka, seorang harus mengakui bahwa segala nikmat itu datangnya dari Allah Yang Mencipta, Menghidupkan Memberi Rizki, Mengatur Segala Perkara hanyalah Allah , juga diakui bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala satu-satunya yang dia ibadahi.

Kalau dia memahami hal ini maka diapun sudah mengerti siapa Robb-nya sudah paham apa yang disebut Robb itu.

Kemudian kata Penulis “wad daliilu qouluhu ta’ala” seperti biasa Penulis setelah menyampaikan pembahasan beliau membawakan dalilnya. Apa dalil tentang itu. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa ta’ala: “AlhamdulilLlahi Robbil ‘alamin“. Segala puji hanya untuk Allah Robb semesta alam. Perhatikan ayat ini: “alhamdu = segala pujian”. Apa saja yang merupakan hamd pujian terpilih yang penuh dengan pengagungan dan pemuliaan itu hanya milik Allah. Disebut nama Allah sebab ini adalah pokok dari asmaul husna Dan Allah artinya Yang diibadahi dengan penuh pengagungan, pembesaran dan pemuliaan terhadapanya, Robbil ‘alamin. Robb semesta alam yang merupakan Robb semesta alam. Jadi ini dalil semuanya sangat jelas sekali menerangkan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala dialah yang diibadahi dengan hak, segala pujian hanya miliknya dan Robbil ‘alamin Yang Menciptakan, Memberi Rizki , Yang Maha Menguasai dan Mengatur Segala Alam Semesta ini. Apakah itu jinnya manusianya para malaikatnya pepohonannya bebatuannya tanahnya bumi, langit semuanya dalam pengaturan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Kemudian kata Penulis: “wa kullu ma siwaLlah ‘aalam wa ana wahidun min dzalikal ‘aalam” Semua yang selain Allah itu namanya alam dan Saya termasuk salah seorang dari alam itu. Jadi kalau dikatakan Allah adalah Robb alam semesta seluruh alam. Siapa alam itu, Bahasa Arab ya, ‘alam itu dalam Bahasa Arab dalah “apa yang selain Allah”. Segala yang selain Allah dalam Bahasa Arab disebut ‘alam. Berarti setiap dari kita mengatakan Saya adalah salah seorang dari alam tersebut, kita semuanya dicipta oleh Allah Subhanahu wa ta’ala kita semua perlu dan faqir kepadaNya dialah Allah Subhanahu wa ta’ala yang bersendirian dalam Penciptaan, Memberikan Rizki, Pengaturan sebagaimana dia pula Yang Bersendirian Untuk Diibadahi Tidak Ada Serikat Bagi-Nya.

Selesai makna ma Robbuka, itu pertanyaan dan jawabannya

Pertanyaan berikutnya: “Fa idza qilila laka bia arofta Robbaka” Kalau ada yang bertanya kepadamu bagaimana cara engkau mengenal Robb-mu? dengan apa engkau mengenalnya bahwa dialah Allah yang kamu ibadahi yang kamu sembah. “Faqul” jawab “biaayaatihi wa makhluqootihi” Saya mengenalnya dengan ayat-ayat-Nya dan dengan makhluk-makhluk-Nya. Sebutkan dua disini ayat-ayat dan makhluk-makhluk. Ayat-ayat, kata ayat itu adalah bukti yang sangat terang, bukti yang sangat membungkam. Karena itu Al-Qur’an disebut ayat dan dari makhluk-makhluk-Nya yaitu makhluk adalah apa yang diadakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Jadi kita mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala dengan ayat-ayat-Nya, dan dengan makhluk-makhluk-Nya. Dan ayat-ayat Allah ada dua. Ada ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat syar’iyyah.

Ayat-ayat kauniyah akan diterangkan nanti oleh Penulis. Dan ayat-ayat syar’iyah itulah Al-Qur’an Al-Karim. Kata beliau: “Wa min aayatihil lailu wan naharu wa syamsu wal qomar” dari ayat-ayat Allah yang dilihat dengan mata kepala yang disaksikan adalah malam, siang, matahari dan bulan. Ini disebut ayat sebab perubahannya tiap hari kita lihat. Begitu siang pergi, malam langsung meliputi. Begitu selimut malam hilang siang segera menerangi manusia. Ini tanda kebesaran Allah. Demikian pula terlihat matahari, terlihat bulan. Ini ayat sangat jelas.

Kemudian kata beliau: “Min makhluqotihi as samawatu sab’a wal arodhunas sab’a wa ma fihinna wa ma bainahuma” dan dari makhluk-makhluk Allah langit yang tujuh, bumi yang tujuh apa yang ada di dalamnya dan apa yang antara keduanya.

Mungkin ada yang bertanya bukankah matahari bulan, siang, malam makhluk-makhluk Allah juga. Jawabannya iya. tapi dari sisi dia sebagai ayat matahari bulan siang dan malam lebih jelas. Karena tiap hari ada pergantian terbit-muncul, terbit-muncul, terbenam. Ini sehingga membuka berbeda dengan bumi, bumi setiap hari kita pijak, matahari setiap hari ada. Kadang seorang tidak pernah berpikir tidak memperhatikannya karena selalu ada. Tapi siang malam matahari dan bulan ini datang bersilih ganti maka ini di antara kenapa Penulis membedakan antara makhluk dan ayat-ayat-Nya.

Di sini beliau terangkan bahwa sorang hamba mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala dengan memperhatikan ayat-ayat dan makhluk-makhluk-Nya, tafakur di dalamnya. Sebab tafakur dalam penciptaan itu menambah keimanan dan membuat hati itu berantung kepada Allah Subhanahu wa ta’ala Karena itu kata Ibnul Qoyyim Rohimahullahu: “Wa ahsanu mattafaqot bihi al anfas wa ahsana ma unfiqot fihil anfas attafakkur fi ayatillah wa ajaabi bishon’ihi wal intiqoli minha ila ta’alluqil qolbi wal himmati bih duuna syaiin min makhluqotihi” Kata beliau: sebaik-baik perkara yang nafas itu dihabiskan (Semua kita bernafas ya, nafas kita ini sudah dihitung berapa banyak jumlahnya dan nanti berakhirnya kata, di nafas yang terakhir kita bernafas itulah ajal kita) maka nafas ini paling bagusnya dihabiskan dalam tafakur terhadap ayat-ayat Allah, kata Ibnul Qoyyim dan memperhatikan keajaiban penciptaan Allah. Tafakur akan menyebabkan hati itu bergantung kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Kata sebagian ulama: “Tafakur itu adalah sumber segala kedudukan dan derajat yang tinggi. Siapa yang tafakur akan kebesaran Allah, maka itu akan menumbuhkan pengagungan di dalam jiwanya kepada Allah. Siapa yang tafakur akan kemampuan Allah, taat kepadanya, (maka) dia hanya tawakal kepada Allah. Siapa yang tafakur akan siksaan Allah itu akan memberikan untuknya manfaat, dia selalu takut kepada Allah. Dan siapa yang tafakur kepada rohmatNya Allah ini akan menyebabkan dia selalu berharap kepada Allah. Siapa yang tafakur terhadap kematian dan apa yang akan datang setelah kematian dia akan memperpendek angan-anaknya. Dan siapa yang tafakur terhadap dosa-dosanya akan bertambah rasa takutnya dan akan menjadi remeh, menjadi rendah jiwa itu disisinya”

Kalau dia pikirkan dirinya penuh dengan dosa banyak kesalahannya banyak kekurangannya maka akan dia buang dari dirinya segala sifat sombong, sifat merasa dirinya lebih dari yang lain, banyak berjasa dan seterusnya, sebab ini dari hal-hal yang penting kita bertafakur di dalamnya.

Maka ini dibawakan oleh Penulis disini, bagaimana seorang mengenal Robb-nya dengan melihat ayat-ayat-Nya dan melihat makhluk-makhluk-Nya, apabila hal tersebut ia lihat dengan baik, maka pasti itu akan mewariskan hal yang sangat indah di dalam jiwanya. Apa dalil bahwa kita mengenal Allah dengan ayat-ayat dan dengan makhluk-makhluk. Dalilnya ada dua disini disebut Penulis. Kata beliau: “wad daliilu qouluhu ta’ala: wa min aayatihillailu wan nahar was syamsu wal qomar la tasjudu lissyamsi walaa lilqomar wasjudu liLahilladzi kholaqohunna inkuntum iyyahu ta’budun“. Dari ayat-ayat Allah malam siang matahari dan bulan janganlah kalian sujud kepada matahari dan jangan pula kalian sujud kepada bulan tapi bersujudlah kepada Allah Yang Menciptakan Seluruh Makhluk tersebut kalau memang kalian benar beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Maka ini ayat yang pertama terdapat di dalamnya bahwa malam siang matahari dan bulan itu dari ayat-ayat Allah Subhanahu wa ta’ala. Di malam hari kita lihat malam ini memang gelap menyelimuti akan tetapi di tengah kegelapan itu manusia mengambil manfaatnya dari ketenangan menghindari kegaduhan yang berada di siang hari, demikian pula di siang hari manfaat cahayanya dirasakan bagaimana dia beraktivitas dengan sangat mudah disiang hari tersebut, ini ayat yang sangat jelas. Matahari dan bulan yang dengan munculnya matahari dan bulan ini kehidupan makhluk menjadi tegak. Tapi Allah ingatkan bahwa seluruh itu adalah makhluk. Karena itu tidak boleh sujud kepada matahari tidak boleh sujud kepada bulan. Tapi bersujud kepada Allah Yang Menciptakan mereka kalau memang benar kalian beribadah kepadaNya.

Di sini terdapat di dalamya sebuah kaidah dan kaidah ini diyakini oleh kaum mukminin dan di kaidah inilah kaum musyrikin luput darinya. Mereka, di kaidah ini menyimpang kaum musyrikin. Umat Islam ketika memperhatikan bahwa Allah satu-satunya Yang Menciptakan, Allah Satu-Satunya Yang Memberi Rezki, Allah Satu-Satu-Satu-Satunya Yang Menghidupkan Mematikan. Maka itu konsekuensinya apa? Konsekuensinya Allah Subhanahu wa ta’ala dia pula Satu-Satunya Yang Berhak Diibadahi sebagaimana Allah Bersendirian Satu-Satunya Yang Mencipta Menghidupkan Memberi Rizki, Demikian pula harusnya dia Satu-Satunya Yang Diibadahi. Inilah yang merupakan konsekuensi dari tauhid yang berjalan di tengah umat Islam. Berbeda dengan kaum musyrikin, kaum musyrikin beriman bahwa Allah Yang Mencipta, Menghidupkan, Mematikan tapi mereka berbuat kesyirikan dalam ibadah. Karena itu dikatakan dalam Al-Qur’an: “Wa maa yukminu aktsaruhum biLlahi illa wahum musyrikun“. Tidaklah kebanyakan dari mereka beriman kepada Allah (maksudnya beriman dalam rububiyyah) kecuali mereka pasti berbuat kesyirikan, kesyirikan dalam uluhiyyah. Kesyirikan dalam peribadatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Jadi ketika diterangkan bahwa malam, siang, matahari dan bulan semuanya adalah ayat-ayat Allah maka Allah ingatkan, mereka adalah makhluk saja jangan kalian sujud kepada matahari, jangan kalian sujud kepada bulan, tapi sujudlah kepada Allah Yang Menciptakan mereka semuanya, kalau memang kalian beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dalil yang kedua, kata Penulis Rohimahullahu: “Wa qouluhu ta’ala inna RobbakumuLlah alladzi kholaqos samaawati wal ardho fi sittati ayyam tsummastawa ‘alal arsy. Yughsyillailan nahar yathlubuhu hatsiitsa. Wassyamsu wal qomaro wan nujuma musakhkhorootin bi amrihi. Ala lahul kholqu wal amru. TabarokaLLahu Robbul ‘alamin

Allah berfirman: “Sesungguhnya Robb kalian adalah Allah Yang Menciptakan langit dan bumi dalam enam hari kemudian Allah beristiwa di atas arsy-Nya. Setelah langit dan bumi diciptakan, Allah beristiwa di atas arsy-Nya yang agung.

‘Arsy Allah Subhanahu wa ta’ala itu sangatlah besar makhluk yang sangat besar. Langit dan bumi tidak ada apa-apanya. Padahal kita melihat langit dan bumi ini sedemikian luas. Sedemikian luas bumi Allah ini, Sedemikian luas langit Allah ini. Tapi ternyata langit dan bumi itu makhluk yang kecil sekali kalau dibanding dengan kursi Allah. Kursi itu dalam penafsiran Ibnu Abbas rodhiyaLlahu ‘anhu adalah “mauqi’ul qodamain” tempat Kedua Kaki. Perbandingan langit dan bumi dengan Kursi Allah perbandingannya seperti gelang dilempar ke tanah lapang yang luas. Anggap bumi tanah lapang, gelang dilempar ke tengah tanah lapang. Kira-kira gelang ini dibanding tanah lapang bagaimana? Besar atau kecil ? kecil sekali! ini perbandingan antara langit dan bumi dengan kursi. Dan perbandingan antara Kursi dan ‘Arsy sama seperti itu.. Maka ini ‘Arsy adalah makhluk Allah yang sangat besar.

Dan Allah Subhanahu wa ta’ala beristiwa di atas arsy-Nya. Yughsyillailan nahar yathlubuhu hatsitsaa. Allah mempersilihgantikan malam dengan siang. Malam yang gelap ketika dia menutupi tiba-tiba dipergantikan dengan siang, yathlubuhu hatsitsa berganti dengan sangat cepatnya. Ketika malam pergi, siang Datang. Ketika siang pergi, datang malam menyelimuti. Terus berganti dengan sangat cepat, tidak pernah berhenti, tidak pernah ada keterlambatan. Demikianlah hingga alam semesta ini nanti akan ditutup oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, akan dilipat-lipat oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dengan Tangan-Nya.

Di dalam ayat bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala mempergantikan siang dan malam, berganti dengan sangat cepat. “Wasysyamsa wal qomaro wan nujuuma musakhkhorootin biamrih” Demikian pula matahari bulan dan bintang-bintang itu semuanya tunduk dengan perintahNya. Kemudian Allah tegaskan: “Alaa lahul kholqu wal amru” Ingatlah bahwa milik Allah penciptaan dan perintah. “TabaarokaLlahu Robbul ‘aalamiin” Maha Berkah Allah Robb semesta alam.

Jadi pendalilan dari ayat sangat terang sekali bahwa seluruh dari apa yang disebut di dalam ayat ini dihitung dari makhluk-makhluk Allah Subhanahu wa ta’ala.

Kemudian kata Penulis, setelah ini Penulis masuk menerangkan dari inti pembahasan di makna ma Robbuka. Kata beliau “Wa Robbu huwal ma’bud” yang dimaksud dengan Robb adalah Yang Diibadahi. Inti dari keIslaman yaitu adalah pengakuan bahwa Allah satu-satu-satu-satunya yang berhak diibadahi, karena itu nanti Saya akan terangkan di pembahasan lailaha illaLlah bahwa apa yang beredar di tengah manusia sekarang ini, mereka terjemahkan laailaha illaLlah artinya “tidak ada tuhan kecuali Allah, tidak ada Yang Mencipta kecuali Allah, tidak ada yang Memberi Rizki kecuali Allah” ini penerjemahan yang keliru. Kalau itu penerjemahan laailaha illaLlah sudah kaum musyrikin di masa Nabi semuanya masuk Islam berbondong-bondong. Abu jahl abu lahab tidak akan ada pertentangan nanti sebab semuanya menagkui Allah Yang Menciptakan Menghidupkan Memberi Rizki. Kalau begitu harus diketahui inti Islam itu apa? Inti dari keIslaman adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah.

Karena itu yang namanya ibadah tidak boleh sama sekali dipalingkan kepada selain Allah. Ini yang ingin beliau didetailkan oleh Penulis di sini. Makanya beliau terangkan bahwa Robb itu adalah al-ma’bud adalah yang diibadahi. “Wad dalilu qouluhu ta’ala” Apa dalilnya? Adalah firman Allah ta’ala: “Ya ayyuhan naasu’budu Robbakumulladzi kholaqokum walladzina min qoblikum la’allakum tattaqun“. Wahai sekalian manusia beribadahlah kalian kepada Rabb kalian Yang Menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian supaya kalian bertakwa. “Alladzi ja’ala lakumul ardho firoosyaa wassamaa-a binaa-a wa anzala minassamaa-i maa-a faakhroja bihi minatstsamarooti rizqon lakum falaa taj’aluu liLLahi andaadaa wa antum ta’lamun

Wahai sekalian manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian. Disebut di depan “Rabb”, ibadah kepada siapa? kepada Rabb. Berarti Rabb itu adalah diibadahi. Kemudian dipaparkan makna rububiyyah. Rabb Yang Menciptakan kalian dan Menciptakan orang-orang sebelum kalian supaaya kalian bertakwa. Yang Menciptakan bumi untuk kalian sebagai hamparan langit sebagai bangunan dan menurunkan air dari langit kemudian dengan itu ditumbuhkan berbagai bebuahan sebagai rezki untuk kalian. Perhatikan, diungkit dari nikmat-nikmat penciptaan Allah dari makna-makna rububiyyah Allah, ujungnya kepada suatu makna. “Falaa taj’aluu liLLahi andaadaa wa antum ta’lamun” jangan sekali-kali kalian membuat untuk Allah tandingan-tandingan, sekutu-sekutu sedangkan kalian mengetahuinya.

Jadi pengakuan seorang ketika mengakui Allah satu-satunya Yang Mencipta, Menghidupkan dan Memberi Rizki ini mengharuskan dia untuk mengakui bahwa Dialah Allah satu-satu-satu-satunya yang berhak diibadahi, tidak ada serikat bagi-Nya, tidak ada tandingan untuknya dan tidak ada yang semisal dengan-Nya. Karena itu beliau bawakan ucapan Ibnu Katsir Rohimahullahu: “Al kholiqu li hadzihil as-sya huwal mustahiqqu lil ‘ibaadah” Ibnu Katsir berkata: “Yang Menciptakan seluruh perkara ini dialah yang berhak untuk diibadahi”. Jadi Allah Yang Menciptakan langit dan bumi ini, Yang Menciptakan segala perkara yang Menghidupkan dan Mematikan dan mengatur segala urusan, harusnya dia pula yang berhak untuk diibadahi. Karena itu kaum musyrikin mereka itu tidak berakal, dan ini kebanyakan orang-orang yang keluar dari peribadatan kepada Allah dia punya akal tapi akalnya tidak dipakai. Kadang cerdas di ilmu dunia, lihat orang-orang kafir bagaimana kecerdasan mereka membuat apa saja bisa dan lihat perkembangan mereka di negeri-negeri mereka, di negeri-negeri kafir itu, perkembangan teknologi dan sebagainya tidak ada yang mengalahkan mereka cerdas tapi tidak berakal. Kalau dia menggunakaan kecerdasannya berakal akan makna-makna yang kita terangkan tadi dari penciptaan langit dan bumi tadi ini maka pasti mereka akan beriman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Karena itu siapa yang memiliki akal dengan baik pasti dia akan kembali memurnikan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Coba perhatikan kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, Saya beri contoh orang yang mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala dengan akal dan fitrah yang sehat. Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam ditunjukkan kepada beliau dari kekuasaan langit dan bumi supaya beliau menjadi yakin. Karena itu dalam Al-Qur’an dikatakan: “Wa kadzalika nurii ibroohiima malakuutassamaawaati wal ardh wa liyakuuna minal muuqiniin” demikianlah kami tunjukkan kepada Nabi Ibrahim keajaiban langit dan bumi supaya dia menjadi orang yang yakin. “Falammaa janna ‘alaihil lailu roo-a kaukaba” begitu malam gelap meyelimuti maka nbai Ibrahim melihat bintang, dia berkata “hadza Robbi” dia berkata inilah Robb-ku bintang ini adala Robb-ku menakjubkan makanya ia menganggapa itu adalaah Robb-nya yang dia sembah. “Falamma afala qola la uhibbul aafiliin” Begitu bintangnya hilang terbenam Nabi Ibrahim berkata Saya tidak suka kepada orang-orang yang hilang. itu bukan sifat ar-Robb. Jelas ya. “Falamma ro-al qomaro baazighon qola hadza Robbi” begitu dia melihat bulan itu muncul dari ufuk maka dia berkata inilah Robb-ku. “Falamma afala” begitu hilang maka Nabi Ibrahim berkata “Lainlam yahdini Robbi la-akuunanna minal qoumudh dhollin” Kalau Robb-ku tidak memberi hidayah kepadaku Saya akan menjadi orang tersesat.

Dia tahu ini buakn Robb-nya dia lagi mencari tapi akal sehatnya berjalan, perhatikan. Akal sehatnya berjalan. “falamma ro-as syamsa baazighotan qola hadza Robbi hadza akbar” Begitu dia melihat matahari terbit besoknya dia berkata “O inilah Robb-ku! ini lebih besar!” . Tapi apa yang terjadi “falamma afalat qola ya qoumi ini barii-un minmaa tusyrikun” begitu matahari terbenam Nabi Ibrohim berkata wahai kaumku sungguhnya Saya berlepas diri dari kesyirikan yang kalian lakukan. Kaum yang menyembah matahari bulan bintang itu semua bukan tuhan, bukanlah yang berhak diibadahi, andai berhak untuk diibadahi tidak mungkin dia hilang pergi, ada dan kemudian hilang. Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Ada walaupun tidak dilihat, kekuasaannya nampak, dan diala yang diibadahi. Karena itu Nabi Ibrahim berkata: “Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fathorossamaawaati wal ardh haniifan wamaa ana minal musyrikin” Sesunguhnya Saya mnghadapkan wajahku kepada Allah Yang Menciptakan langit dan bumi ini tanpa ada contoh sebelumnya, sebagai orang yang hanif selalu berada di atas tauhid dan Saya tidak tergolong kepada orang-orang yang berbuat kesyirikan.

Subhanallah, punya akal tapi dia sendiri menyembah tuhannya dibuat sendiri dari patung, setelah itu dia sembah. Ini tidak masuk di dalam akal. Sampai ada sebagian yang menyebutkan seorang profesor yang terkenal di sebuah universitas punya berbagai karya yang tidak ada yang menandinginya, seorang muridnya tiba-tiba mendekatinya dan tercium bau darinya bau yang tidak enak sekali. Ketika ditanyakan kepadanya “Bau apa ini?”, dia berkata: “Ini bau kotoran sapi, Saya sebelum berangkat Saya pakai kotoran sapi ini, berbedak dengan kotoran sapi.” “Untuk apa?” “Wah ini keberkahan yang melindungi Saya”.

Perhatikan ya, cerdas tapi tidak berakal, kalau dia punya akal tidak mungkin hal tersebut dia lakukan. Kalau dia memiliki akal. Karena itu Yang Mencipta Jalla Jalaluh tanda-tanda kebesarannya adalah hal yang jelas. Seorang yang meyakini bahwa Allah Yang Mencipta, Menghidupkan, Mematikan, Memberi Rizki, memiliki segala perkara harusnya dia satu-satunya yang berhak untuk diibadahi tempat kita mencari keberkahan. Kepadanyalah kita kepadanya berharap, kepadanya kita takut, harusnya harapan tawakkal hanya digantungkan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala semata. Maka di sini Penulis memberi kaidah bahwa Robb itu artinya yang berhak diibadahi. Semua Yang Menciptakan langit dan bumi ini yang mengadakan segala sesuatu ini dia pula yang berhak untuk diibadahi.

Setelah menjelaskan bahwa ibadah itu hanya miliki Allah Subhanahu wa ta’ala saja maka Penulis Rohimahullah berpindah masuk menerangkan apa itu bentuk ibadah. Kalau diketahui Allah Subhanahu wa ta’ala satu-satunya yang berhak diibadahi, ibadah hanya diberikan untuk Allah maka inti permasalahan berikutnya seorang harus mengetahui apa itu ibadah, supaya ibadah ini tidak diserahkan kepada selain Allah, hanya diberikan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala semata. Jadi dia harus tahu ibadah itu apa , jangan sampai dia beribadah kepada selain Allah dalam keadaan dia tidak mengetahuinya. Dan disinilah pentingnya mengenal hakikat dari ibadah.

Karena itu Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata atau menafsirkan ayat: “Ittakhodzu ahbarohum ruhbaanan wa arbaaban min duuniLlah” Mereka orang-orang yahudi menjadikan rahib-rahib mereka ahli ibadah dan orang yang berilmu mereka dijadikan sebagai sesembahan-sesembahan selain daripada Allah. Maka ada seorang yang berkata : “Ya Rosulallah, kami tidak menyembah mereka. Tidak bersujud kepada mereka. Maka Nabi bertanya: “Apakah kalian mentaati rahib-rahib kalian dalam menghalalan apa yang diharomkan oleh Allah? “Jawabannya: “Benar”. “Apakah kalian mentaati rahib-rahib kalian dalam mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah”. Jawabannya: “Benar”. “Itulah ibadah kalian kepada mereka”. Jadi jenis ibadah banyak bentuknya. Jangan dipahami ibadah itu sholat saja, zakat saja, puasa saja, haji saja, sebagaimana yang dipahami orangumum. Giliran berdoa datang ke penghuni kubur, doa keapda bebatuan, kepda pepohonan, padahal doa adalah ibadah. Kalau diketahui dia adalah ibadah maka harus diberikan hanya kepada Allah. Berdoa hanya kepada Allah saja. Karna itu tidak boleh berdoa kepada siapapun dari makhluk, tidak kepada Rasulullah, tidak kepada malaikat jibril, mikail dan selainnya. Doa hanya kepada Allah. Siapa yang berdoa kepada selain Allah, apakah itu Malaikat, atau Nabi maka dia telah berbuat kesyirikan.

Karena itu harus dikenal apa itu ibadah agar supaya orang itu mengenal ibadah yang benar. Mengenal apa yang disebut ibadah dalam agama. dan Syaikh Rohimahullah akan menjelaskan sebagian dari bentuk-bentuk ibadah. Beliau akan menerangkan beberapa dari bentuk ibadah agar supaya kita pandai membedakan yang mana yang merupakan ibadah, dan mana yang bukan ibadah.

Kata beliau: “Wa anwaa’ul ‘ibadah allati amaroLlahu biha mitslul islaami wal imaani wal ihsaan“. Kata beliau Rohimahullah dan bentuk-bentuk ibadah yang Allah Subhanahu wa ta’ala perintah dengannya, itu ada beberapa contoh. Disini Penulis memberi tujuh belas contoh. Yang akan kita bahas satu per satu dari tujuh belas contoh ibadah ini.

Tapi secara umum dari kaidah pokoknya bahwa ibadah, definisi ibadah, adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rohimahullah bahwa: “Al ‘ibadah ismun jaami’ likulli maa yuhibbuhuLlahu wa yardhoh minal aqwaali wal a’maali azhzhohiru wal baathinah”. Ibadah itu ism jaami’ penamaan yang kompleks yang mencakup segala yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan segala yang diridhoi oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Apakah itu berupa ucapan atau perbuatan. Apakah itu yang zhohir/tampak kelihatan ataupun yang bathin/yang tidak tampak.

Jadi ukuran ibadah pertama yang diukur itu adalah perkara dicintai dan diridhoi oleh Allah, jadi jika ALlah cinta hal tersebut ridho hal tersebut maka itulah ibadah apakah dia berupa ucapan ataupun berupa perbuatan. Apakah yang zhohir tampak ataupun yang bathin tidak tampak. Inilah yang akan dirinci oleh Penulis sat persatu.

Beliau terangkan : Mitslul Islam adalah keIslaman, keimanan, wal ihsan tentang ihsan wa minhud du’a di antaranya doa wal khouf rasa takut war roja rasa harapan wat tawakul rasa tawakal war roghobah, rasa penuh harapan, war rohbah penuh ketakutan, wal khusyu’ rasa khusyu’, wal khosyah khosyah juga rasa takut tapi rasa takut disertai pengetahuan terhadap siapa yang dia takuti ini akan kita terangkan. Wal ‘inaabah kembali kepada Allah, wal isti’anah memohon pertolongan, wal isti’aadzah memohon perlindungan, wal istighootsah memohon bantuan, wadz dzabh menyebelih, wan nadzr dan nazar.

Ini tujuh belas jenis ibadah. Seluruh hal ini ada perintahnya. kita diperintah hanya berdoa kepada Allah. Takut kepadaNya. Bertawakal kepadaNya. Berharap hanya kepadaNya, khusyu’ bertobat berinabah kita diperintah untuk memohon pertolongan, berlindung hanya kepada Allah.

Tatkala Allah perintah itu itu menunjukkan hal-hal tersebut adalah perkara yang dicintai dan diridhoi oleh Allah. Kalau dia sudah dicintai dan diridhoi oleh Allah maka itu ibadah. Kalau kita sudah sampai ke poin dia adalah ibadah, sekali lagi kaidahnya ibadah hanya untuk Allah. Itu kaidah pokoknya. Sehigga seorang itu mudah untuk memahami.

Syaikh Rohimahullah taala berkata: “Wa ghoiri dzalika min anwaa’in ibadah allati amarollahu biha kulluha liLlahi ta’ala” Dan selain itu dari bentuk-bentuk ibadah yang Allah perintah semuanya hanya milik Allah Subhanahu wa ta’ala.

Apa dalilnya bahwa ibadah hanya milik Allah. beliau bawakan dalil dulu. Kata beliau: “Wad dalilu qouluhu ta’ala” Dalilnya adalah firman Allah ta’ala: “Wa annal masajida lillah falaa tad’u ma’aLlahi ahada” Sesungguhnya mesjid-mesjid itu, tempat-tempat ibadah anggota badan beribadah semuanya adalah milik Allah, tidak boleh kalian beribadah kepada siapapun bersama Allah Subhanahu wa ta’ala.

Ibadah hanya miliki Allah semata. Tidak boleh diserahkan kepada siapapun dari selain Allah Subhanahu wa ta’ala.

Kemudian Penulis membawakan sebuah kaidah tetap dan ini kaidah yang harus selalu di dalam sanubari seorang muslim dan muslimah, kaidah di dalam ibadah. “Fa man shorrofa minha syia-an lighoiriLlahi fahuwa musyrikun kaafir” Kata beliau: “Siapa yang memalingkan suatu apapun, sedikit apapun dari ibadah itu dia palingkan kepada selain Allah, dia berikan kepada selain Allah, maka dia adalah seorang musyrik yang telah kafir”, seorang musyrik yang telah berbuat kesyirikan keluar dari keIslaman.

Apa dalilnya, kata beliau: “Wad dalilu qouluhu ta’ala wa man yad’u ma’aLlahi ilaahan aakhor laa burhaana lahu bih. Fainnama hisaabuhu ‘inda Robbih Innahu laa yuflihul kaafiruun” Barangsiapa yang beribadah kepada sesembahan lain bersama Allah yang sesembahan lain ini tidak ada keterangan tentangnya. Dan ini sifat kepada segala yang disembah selain dari pada Allah tidak ada keterangan, tidak ada burhan tidak ada penguatnya, semuanya adalah kebathilan. Maka dikatakan di dalam ayat “Fainnama hisaabuhu ‘inda Robbih“, Kalau siapa yang berdoa kepada sesembahan lain bersama Allah maka perhitungannya adlaah di sisi Allah. Perhatikan ini ancaman besar.

Uslub Bahasa arab itu, ancaman kadang disebutkan, “ancamannya neraka begini dan begitu”, kadang diglobalkan “tunggulah nanti pembalasannya”, atau “hisabnya di sisi Robb-Nya”, “hisabnya di sisi Allah”. Ini keadaan yang diglobalkan kadang lebih dahsyat dalam makna ancaman.

Saya beri contoh pendekatan ya, anak kecil oleh ayahnya kamu kalau melanggar nih Saya beri rotan. Ini pelanggaran disebut. Kamu kalau melanggar, Saya tidak beri duit jajan, misalnya. Kamu kalau melanggar… dia sebut beberapa pelanggaran. Tapi di suatu keadaan dia berkata kepada anaknya: “Jangan sampai kamu berbuat seperti ini kalau kamu melakukannya, hmm, AWAS!” Hanya disebut awas saja, tidak disebut ancaman. Ini keadaan lebih dahsyat atau tidak? Ini berpengaruh, “Awas” mungkin dia dirotan, mungkin dia diikat, kan begitu. Kadang pikiran si anak lebih luas lagi… “Oh Awas”

Sama di dalam ayat ini ketika disebutkan: “Siapa yang beribadah kepada selain Allah bersama Allah, hati-hati perhitungannya di sisi Allah”. Kalau dikatakannya “perhitungannya disisi Allah” tidak ada yang lepas dari pengadilan Allah. Dan sisi pendalilan pokok Penulis di akhir ayat dikatakan: “Innahu laa yuflihul kaafiruun” Sesungguhnya orang kafir tidak akan beruntung. Jadi disebut orang yang beribadah kepada Allah bersama Allah itu disebut sebagai orang-orang kafir. Maka ini kaidah pokok. Kalau itu sudah ibadah kapan diserahkan kepada selain Allah walaupun sedikit maka dia telah berbuat syirik akbar.

Karena itu ada dalam sebagian riwayat ada orang yang masuk surga karena lalat masuk neraka Karena lalat. Walaupun dalam riwayatnya kadang sebagiannya membahas, tapi riwayat mauquf dikuatkan oleh sebagian ulama dan memiliki hukum bisa marfu’ dan dalil dalil umum mendukungnya.

Jadi di sebuah wilayah ada sekelompok kaum musyrikin memiliki berhala. Berhala ini tidak ada yang boleh melewatinya kecuali dia harus memberikan kurban kepada berhala, dan ini kewajiban memberi kurban atau dia mati. Maka berlalulah dua orang yang pertama dikatakan kepadanya berkurbanlah, dia berkata Saya tidak punya harta apapun untuk berkurban. Kata orang itu berkurban walaupun dengan seekor lalat atau kalau tidak kamu dibunuh. Maka dia pun menangkap lalat, kemudian dia berkurban dengan lalat. Dia masuk neraka gara-gara itu. Dan yang satunya, lagi dia berkata berkurban, dia berkata Saya tidak punya apapun dan Saya tidak akan berkurban untuk selain Allah Subhanahu wa ta’ala. Walaupun dengan seekor lalat. Maka diapun dibunuh dan dia masuk surga karena lalat.

Perhatikan lalat dia berkurban dengan suatu hal yang sepele, dengan lalat masuk neraka karena lalat. Bukan karena lalatnya di sini. Karena ia menyerahkan peribadahannya kepada selain Allah. Ini yang paling besar. Karena itu dosa jangan dilihat kepada kecilnya dosa. Lihat kepada siapa dia berdosa. Dia berdosa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Ini dosa kaitannya dengan keagungan dan ibadah Allah Subhanahu wa ta’ala. Kemurnian ibadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Karena itu dia palingkan ibadah sedikit saja dari Allah, sembelihan sedikit saja hanya lalat tidak ada harganya. Tapi dengan itu dia masuk dalam neraka, wal ‘iyyadzu biLlah. Karena itu memalingkan ibadah walaupun sedikit kepada selain Allah itu adalah syirik akbar mengeluarkan pelakunya dari keIslaman. Maka ini hati-hati, dan ini pentingnya seseorang itu mengenal tauhid, mengenal keimanan kepada Allah, dan inilah yang menyebabkan dia mampu menjawab pertanyaan malaikat di alam kubur. Karena memang dia selama hidup dia jaga ibadahnya hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan kalau seorang hamba menjaga tauhidnya sedemikian rupa inilah pokok yang paling indah dalam kehidupannya.

Ibadah hanya kepada Allah itu, subhanallah, ketenangan kebahagiaan, kemudahan dalam semua urusan, tawakkalnya hanya kepada Allah, dia tidak takut kepada siapa pun dari manusia, takutnya hanya kepada Allah walaupun seluruh manusia mengancamnya, dia tahu semua ancaman bahaya semuanya di Tangan Allah, dia hanya bertawakkal kepadanya. Karena itu umat Islam umat yang paling kuat. Dulu di awal-awal generasi Islam, umat Islam kalau bertemu musuh satu banding sepuluh. Jadi kalau awal syariat jihad dulu, kalau umat Islam seratus pasukan kaum muslimin bertemu seribu, seratus nggak boleh lari. Harus berharap bersabar menghadapi seribu, karena kekuatan keimanan. Tapi setelah itu syariat dimudahkan jadilah satu banding dua. seratus ketemu dua ratus nggak boleh lari. Jelas ya. Tidak boleh lari. Tapi kalau seratus ketemu tiga ratus boleh saja pimpinan pasukan memerintah mereka mundur. Tapi kalau seratus ketemu dua ratus nggak boleh mundur harus sabar menghadapi dua ratus.

Ini karena umat Islam punya kekuatan di dalam jiwa, keimanan ini adalah hal yang menguatkan seorang hamba. Dari musibah-musibah dalam kehidupan, takdir, ketentuan yang menimpa, itu akan menjadi ringan bagi seorang hamba jika dia mengerti makna-makna keimanan kepada Allah. Murni ibadahnya hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Kemudian Penulis Rohimahullah setelah kaidah umum ini dibawakan Penulis. Sekarang Penulis sudah menerangkan apa itu ibadah. Bentuk-bentuknya bagaimana. Dan beliau sudah memberikan kaidah umum dalam ibadah bahwa ibadah dipalingkan kepada selain Allah walaupun sedikit hukumnya musyrik kaafir. Ini dua hukum, dia musyrik berbuat syirik akbar dan itu mengkafirkan dia mengeluarkan dari keIslaman. Syirik itu ada dua macam, ada syirik akbar dan ada syirik ashghor. Syirik akbar ini adalah kesyirikan yang mengkafirkan mengeluarkan dari keIslaman. Ini ibadah, memalingkan ibadah walaupun sedikit itu semuanya masuk di dalam pembahasan syirik akbar tidak masuk di pembahasan syirik ashghor. Walaupun syirik ashghor itu ada. tapi dalam bentuk-bentuk yang lain. Dan mungkin di sela-sela pembahasan ada sebagian kalimat perlu dirinci. Kadang ada sebagiannya masuk di syirik ashghor. Kita akan terangkan nanti pada tempatnya.

Kemudian Syaikh Rohimahullah memulai menjelaskan bentuk-bentuk dari ibadah. Jadi tadi diterangkan ada tujuh belas, tiga yang pertama adalah Islam, iman dan ihsan. ini tiga hal ini insya Allah akan datang nanti rinciannya. dan tidak diragukan bahwa keIslaman keimanan dan ihsan ini adalah ibadah yang agung bahkan ini adalah derajat yang tertinggi di dalam agama. Karena itu Penulis nanti akan merinci di pembahasan apa itu Islam. Apa agama Islam dengan menyebutkan tiga tingkatan ini. Akan datang pada tempatnya.

Kemudian keempat dari ibadah yang disebut adalah doa. Kita akan baca dalil bahwa doa adalah ibadah. Apa dalilnya bahwa doa adalah ibadah? Kata Penulis: “Wa fil hadisti ad du’a mukhul ‘ibadah” Dalam hadits Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa doa adalah intisari dari ibadah. Mukh itu dalam arti Bahasa Arabnya asalnya adalah “Otak”, otak sesuatu. Tapi kalau dibahasakan bebas dia adalah intisari pokok dari ibadah. Dan ini hadits diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu hanya saja di dalam sanadnya ada kelemahan ya, ada Ibnu Lahi’ah Rohimahullah dhoiful hadits dan ada lafazh yang lebih bagus daripada ini. Yaitu datang dengan lafazh lain diriwayatkan Abu Dawud dari An-Nu’man bin Basyir Rodhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ad-Du’a huwal ‘ibadah” Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa doa adalah ibadah. Nah ini yang shahih. Jadi Nabi sebutkan bahwa doa itu adalah ibadah. Karena itu memang penggunaan kalimat doa di dalam nash-nash Al-Quran dan Hadits penggunaannya luas. Mungkin bisa dibahasakan bahwa doa terbagi menjadi dua. Ada doa bersifat ibadah. Ada doa bersifat permintaan. Do’a ‘ibadah dan doa mas-alah.

Biasanya kita kalau Bahasa Indonesia doa itu yang bersifat permintaan saja, tapi dalam Bahasa Arab kalimat doa itu bisa bermakna ibadah itu sendiri. Sholat itu doa, zakat doa, haji doa. Doa dalam artian ibadah. Jadi doa adalah ibadah. “Wad dalilu qouluhu ta’ala” Dan dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa ta’ala, ini dalil lain “Wa qola Robbukumud’uunii astajib lakum, innalladziina yastakbiruuna ‘an ‘ibaadati Sayadkhuluuna jahannama daakhiriin“. “Dan berkata Robb kalian, berdoalah kalian kepadaku, pasti Aku akan mengabulkannya.” Nah doa di sini bermakna doa permintaan sebab dikabulkan oleh Allah, diberi oleh Allah apa yang diminta oleh si hamba. Kemudian Allah berfirman: “innalladziina yastakbiruuna ‘an ‘ibaadati Sayadkhuluuna jahannama daakhiriin” Sesungguhnya orang-orang yang bersombong dari beribadah kepada-Ku, tadi doa disebut di awal, sekarang disebut ibadah doa ini. Ini menunjukkan bahwa doa adalah ibadah. Sesungguhnya orang-orang yang bersombong dari peribadatan kepada-Ku mereka akan masuk ke dalam neraka jahannam dalam keadaan dakhirin, dalam keadaan hina dan direndahkan.

Subhanallah selain mendapatkan siksaan dia juga mendapatkan kehinaan. Maka sisi pendalilan dari ayat ini terang sekali. Ayat ini menjelaskan bahwa doa adalah ibadah. Allah perintah berdoalah kalian dan kalau Allah memerintah sesuatu Allah cinta kepada sesuatu itu atau tidak ? kalau Allah perintah sesuatu ini dicintai oleh Allah atau tidak? Jelas dicintai oleh Allah. Jadi kalau kita sudah sampai pada kalimat itu suatu dicintai oleh Allah berarti doa adalah ibadah atau bukan? Dia adalah ibadah.

Maka demikian cara mengukur. Kalau dia sudah ibadah, kaidah ibadah tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah walaupun sedikit. Siapa yang memalingkannya kepada selain Allah walaupun sedikit maka dia dianggap musyrik kafir.

Kemudian ibadah jenis berikutnya yang disebut oleh Penulis, yaitu al-Khouf ini yang kelima. Kata beliau “Wad dalilul khoufi qouluhu ta’ala falaa takhoofuuhum wa khoofuuni in kuntum mukminin” Dalil tentang al-khouf adalah firman Allah Subhanahu wa ta’ala: Janganlah kalian takut kepada mereka, tapi takutlah kalian kepada-Ku kalau benar kalian itu beriman. Sisi pendalilan bahwa khouf / rasa takut adalah ibadah: Pertama, Allah larang seorang takut kepada selain Allah. Kedua, Allah perintah seorang hamba hanya takut kepada Allah. Kemudian yang ketiga, Allah terangkan bahwa takut kepada Allah itu adalah ciri keimanan. Maka ini tiga pendalilan bahwa khouf adalah ibadah.

Khouf itu adalah sesuatu di dalam hati yang menyebabkan dia khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan di masa mendatang. Itu al-khouf dan memang di sini ada kalimat-kalimat agak perlu dibedakan. Penulis menyebut tiga, al-khouf, ar-rohbah, dan al-khosyah. Ini tiga kalimat semuanya kalau diterjemah dalam Bahasa Indonesia memang artinya takut. Tapi dalam Bahasa Arab ada perbedaannya. Dan insya Allah taala kita akan terangkan nanti pada tempatnya.

Tatkala kita mengetahui bahawa rasa takut itu adalah ibadah maka tidak boleh rasa takut ini diserahkan kepada selain Allah Subhanahu wa ta’ala. Seorang wajib tkaut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Karena itu para Nabi orang-orang yang sangat takut kepada Allah. Kata Nabi Nuh Alaihi salam “Inni akhofu alaikum ‘adzaaba yaumin ‘azhim” Sesungguhnya Saya takut kepada kalian Saya takut kalian itu akan disiksa akan ditimpa siksaan yang sangat pedih.

Nabi Syu’aib juga berkata demikian. Dan Nabi muhammad juga berkata demikian. Kekhawatiran beliau, “Qul inni akhofu in ‘ashoitu Robbi ‘adzaaba yaumin ‘azhim” Katakanlah sesungguhnya Saya takut kepada Robb-Ku kalau Saya bermaksiat Saya takut siksaan pada hari yang sangat dahsyat.

Dan Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam kadang beliau sholat dan dada beliau bergejolak bagaikan ada tetesan-tetesan yang jatuh di baskom karena tangisan beliau ketika beliau melakukan sholat Shollallahu ‘alaihi wa sallam. Maka setiap kali seorang hamba memiliki rasa takut, maka ini adalah suatu hal yang sangat indah baginya. Karena itu rasa takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala itu adalah ibadah.

Dan ini perlu diketahui bahwa rasa takut itu beraneka ragam. Rasa takut yang pertama adalah rasa takut yang sifatnya ibadah, nah inilah yang kita terangkan rasa takut yang seperti ini hanya diberikan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Rasa takut yang kedua ada namanya Khoufus Siir takut kepada selain Allah. Dia takut kepada selain Allah kepada berhala, kepada sesembahan yang menyebabkan dia takut tertimpa musibah olehnya. Takut kepada penghuni kubur, ini dari syirik akbar namanya mengeluarkan pelakunya dari keIslaman. Nah ini rasa takut yang seperti ini na’udzubiLlah sebagian orang-orang harus berziaroh ke kuburan kalau tidak khawatir akan turun musibah menimpa keluarganya. Ini rasa takut adalah hal yang di haramkan ini dari syirik akbar yang seperti ini. Dan ini mewarnai, ya, banyak dari kaum muslimin rasa takut mereka karena itu kalau dilihat ssebagian orang kalau ada yang kuburan misalnya diganggu ini takut sekali seakan akan mau turun siksaan sudah dari Allah.

Takut dia. Ada seorang memegang jimat dari gurunya begitu ada yang mengotorinya atau ada yang tidak menghormatinya, dia takut sekali karena siksaan, takut kualat, macam-macam lah bahasanya. Dan ini rasa takut kepada selain Allah. Ini adalah merupakan hal yang termasuk kesyirikan.

Rasa takut yang ketiga adalah rasa takut di mana seorang hamba dia meninggalkan sesuatu karena takut kebencian dari manusia. Dia takut manusia akan membencinya jika dia berbuat begini dan begitu. Rasa takut yang seperti ini, ini adalah dosa besar adalah hal yang diharomkan mengurangi keimanan tetapi dia bukan perkara yang dikatakan sebagai kesyirikan yang menghilangkan tauhid yang mengeluarkan dari keIslaman.

Kemudian rasa takut yang keempat aaalah rasa takut sifatnya tabi’i, sifatnya tabiat. Seseorang takut kepada singa, takut api membakarnya, dia pegang api takut terbakar. Ini rasa takut sifatnya tabiat manusia yang seperti ini tidak ada kaitannya dengan ibadah, tapi rasa takut yang terdapat di dalamnya ketundukkan menyerahkan perkara maka rasat takut yang seperti ini hanya diberikan untuk Allah Subhanahu wa ta’ala saja tidak boleh diberikan kepada siapa pun sellain daripada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Selesai sudah pembahasan tentang rasa takut. Masih ada beberapa bentuk ibadah yang lainnya insya Allah ta’ala kita akan lengkapi nanti di pertemuan di sesi yang akan datang. Ini waktu sudah habis ya..

Untuk acara hari ini mungkin tidak ada tanya jawab. Insya Allah ta’ala besok kita selesaikan materi pembahasan di dua sesi kemudian kalau misalnya masih ada waktu insya Allah kita akan membuka tanya jawab kalau masih ada waktu sebelum Ashar. Kalau misalnya waktu Ashar pun besok habis untuk materi maka mungkin tanya jawanya nanti setelah Ashar insya Allah ta’ala.

Sementara Saya cukupkan dulu sampai sini. SubhanakaLlahumma wa bihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik, walhamdulillahi robbil ‘alamin wassalaamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuuh

Categories: Akhlak | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: