Posts Tagged With: emosi

Budaya Menghukum


LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Baca lebih lanjut

Iklan
Categories: Anak dan Orang Tua, Bapak, Pendidikan, Tarbiyah | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Pergaulan Bebas Menebar Budaya Syahwat


(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

Jangan terkejut dan heran apabila pada masa sekarang dijumpai anak berusia sepuluh tahun—atau bahkan lebih rendah—mampu bertutur secara lancar dan tanpa malu masalah hubungan suami istri. Jangan kaget dan heran pula jika dijumpai anak-anak usia sekolah dasar mengetahui beberapa kosakata terkait masalah seksual. Masalah yang masih relatif dianggap sebagai barang sensitif dan tabu.

Pertanyaannya, mengapa anak-anak yang masih relatif ingusan itu bisa mengetahui hal-hal yang dianggap sensitif dan tabu tersebut?
Dari survei yang ada, ternyata mereka mengenal masalah seputar seks dari media, seperti situs internet, majalah, novel, cakrampadat (CD), dan telepon seluler (HP). Bahkan, telepon seluler menempati urutan pertama sebagai media yang bisa diakses untuk mendapat informasi masalah seks. (Pornografi Dilarang Tapi Dicari, Azimah Soebagijo, hlm. 84) Baca lebih lanjut

Categories: Khususnya Lajang | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Menyambung dan Memperbaiki Hubungan Anak dan Orangtua


(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi)

Orang tua mana yang tidak sedih dan terluka hatinya manakala melihat buah hatinya yang ia rawat sejak kecil kini telah tumbuh menjadi duri dalam daging baginya. Si anak kini pandai membantah omongan orang tua, pandai memaki, bahkan tak segan untuk menyakiti. Sedih? Sudah pasti. Namun sang orang tua pun barangkali lalai, ketika dia berangan-angan memiliki anak yang shalih dan berbakti, harapannya itu tidak disertai upaya untuk memberikan pendidikan yang Islami kepada anak-anaknya. Ia tak mempedulikan bagaimana pendidikannya, bagaimana teman-temannya, bagaimana akhlaknya, dan sebagainya, hingga tak disadari si anak pun telah berubah menjadi “musuh” baginya. Baca lebih lanjut

Categories: Anak dan Orang Tua | Tag: , , , , | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.